alexametrics
23.5 C
Banyuwangi
Friday, August 12, 2022

Vonis Dua Tahun Bos KSP Tinara Dianggap Terlalu Ringan

GENTENG, Jawa Pos Radar Genteng – Putusan Pengadilan Negeri (PN) Banyuwangi yang menghukum dua tahun penjara untuk manajer KSP Tinara Rogojampi Linggawati Wijaya dalam kasus korupsi uang nasabah pada Senin (4/7), membuat para korban kecewa berat.

Putusan PN yang lebih ringan dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) yang minta terdakwa dihukum lima tahun penjara itu, dianggap terlalu ringan. “Hukuman itu sangat ringan bagi terdakwa yang telah menggelapkan uang nasabah Rp 270 miliar,” cetus salah satu korban, Suryo Wicaksono, 39, warga Dusun Krajan, Desa Genteng Kulon, Kecamatan Genteng.

Suryo mengaku sangat kecewa karena dengan putusan PN Banyuwangi yang hanya memvonis dua tahun penjara. Putusan hakim itu, dianggap tidak sebanding dengan jumlah uang yang digelapkan terdakwa. “Putusan itu tidak adil sama sekali,” cetusnya.

Menurut Suryo, dalih majelis hakim yang mengatakan terdakwa tidak pernah dihukum dan telah menyesali perbuatannya sebagai yang meringankan, dianggap tidak pas untuk memvonis dua tahun penjara. Bila itu dijadikan alasan, dikhawatirkan akan muncul kasus serupa, karena dengan menggelapkan uang Rp 270 miliar hanya dihukum dua tahun penjara. “Rp 270 miliar itu sangat banyak sekali,” cetusnya.

Suryo bercerita ikut menabung deposito di KSP Tinara yang berada di Dusun Krajan, Desa Kedaleman, Kecamatan Rogojampi itu sejak 2015. Awal-awal menabung, selalu aman tidak pernah ada kendala. “Selain itu bunga yang ditawarkan  juga besar,” jelasnya.

Suryo mengatakan bunga yang diberikan sebesar satu persen per bulan, bisa langsung diterima di rekening nasabah setiap awal bulan. Manajer KSP Tinara yang juga pengurus utama tempat ibadah di Rogojampi membuat nasabah mengira orangnya sangat religius dan tidak mungkin menyalahgunakan uang. “Saya semakin yakin menabung di disitu,” jelasnya.

Baca Juga :  Kardus Sandal Berisi 1 Kilogram Sabu, Nilainya Rp 1 Miliar

Pada Agustus 2015, Suryo mulai menabung di KSP Tinara sebesar Rp 200 juta. Dua bulan kemudian, menambah tabungan sebesar Rp 300 juta dengan cara ditransfer, hingga akhirnya total tabungannya Rp 500 juta. “Awalnya tidak pernah ada masalah, setiap bulan saya ditransfer Rp 5 juta.  Itu berjalan sekitar empat tahun,” terangnya.

Baru pada awal Agustus 2019, Suryo mendatangi KSP Tinara dan ingin mengambil tabungan depositonya sebesar Rp 200 juta untuk kebutuhan usahanya. Tapi, Linggawati selaku manager KSP Tinara tidak bisa mencairkan dana dengan alasan nasabah sedang melakukan penarikan secara bersamaan dalam jumlah besar (Rush Money), dan saat itu dijanjikan minggu depan. “Saya memaklumi dan memilih untuk menunggu minggu depan,” jelasnya.

Setelah satu minggu kemudian, Suryo datang lagi ke KSP Tinara dan tetap tidak bisa mencairkan uangnya dengan alasan yang sama. Ternyata, setelah bertanya kepada nasabah lain juga tidak bisa mencairkan uangnya. “Saya dan nasabah lain terus mengejar manager KSP Tinara itu,” jelasnya.

Hingga akhirnya, Surya oleh Linggawati ditawari tukar guling satu unit rumah di Rogojampi. Dan itu diiyakan dengan dengan harga disepakati Rp 350 juta. Lagi-lagi, itu hanya tipu muslihat. Karena saat diminta sertifikat rumahnya, manajer KSP Tinara itu tidak bisa ditemui. “Katanya sertifikat rumah hilang, itu tidak masuk akal,” ungkapnya.

Baca Juga :  Kakek 62 Tahun Tertipu Janda Muda, Uang Rp 35 Juta Raib

Pada pertengahan September 2019, ada berita baik karena akan ada investor masuk untuk menalangi dana para nasabah. Untuk penyelesaian, digelar pertemuan di salah satu kafe yang ada di Kecamatan Glagah yang diikuti sekitar 400 orang nasabah. “Tapi itu juga bohong, yang datang pengacaranya Linggawati yang disuruh berpura-pura menjadi investor,” ungkapnya.

Suryo dan nasabah yang lain terus mengejar Linggawati, namun dengan berbagai alasan tidak bisa ditemui, baik di kantor maupun di rumahnya. Sehingga para nasabah memutuskan untuk melaporkan Linggawati ke Polresta Banyuwangi pada 27 Februari 2020. “Ternyata putusan dari pengadilan hanya dua tahun saja,” jelas Suryo.

Nasabah KSP Tianara lainnya yang menolak disebutkan namanya mengaku tabungan deposito sebesar Rp 1 miliar sejak tahun 2017 tidak jelas rimbanya. “Saya ikut deposito karena managernya adalah pengurus Klenteng Tik Liong Tian di Rogojampi,” jelas korban yang mewanti-wanti namanya tidak dikorankan.

Korban itu mengaku mulai curiga pada September 2019, setelah bunga depositonya tidak masuk ke rekeningnya lagi. Setelah mencari informasi dari nasabah lain, baru tahu kalau manager KSP Tinara bermasalah. “Awal-awal dihubungi bisa, tapi setelah menanyakan keuangan teleponnya dimatikan, dan setelah itu tidak pernah menjawab lagi,” jelasnya.

Dia mengaku sampai saat ini uangnya itu belum dikembalikan sepeserpun. Makanya, ia juga ikut melaporkan ke Polresta Banyuwangi. Ia mengaku sangat kecewa dengan putusan PN yang hanya memvonis dua tahun penjara. “Harusnya dimiskinkan, agar kapok dan tidak mengulangi perbuatannya,” cetusnya.(mg5/abi)

GENTENG, Jawa Pos Radar Genteng – Putusan Pengadilan Negeri (PN) Banyuwangi yang menghukum dua tahun penjara untuk manajer KSP Tinara Rogojampi Linggawati Wijaya dalam kasus korupsi uang nasabah pada Senin (4/7), membuat para korban kecewa berat.

Putusan PN yang lebih ringan dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) yang minta terdakwa dihukum lima tahun penjara itu, dianggap terlalu ringan. “Hukuman itu sangat ringan bagi terdakwa yang telah menggelapkan uang nasabah Rp 270 miliar,” cetus salah satu korban, Suryo Wicaksono, 39, warga Dusun Krajan, Desa Genteng Kulon, Kecamatan Genteng.

Suryo mengaku sangat kecewa karena dengan putusan PN Banyuwangi yang hanya memvonis dua tahun penjara. Putusan hakim itu, dianggap tidak sebanding dengan jumlah uang yang digelapkan terdakwa. “Putusan itu tidak adil sama sekali,” cetusnya.

Menurut Suryo, dalih majelis hakim yang mengatakan terdakwa tidak pernah dihukum dan telah menyesali perbuatannya sebagai yang meringankan, dianggap tidak pas untuk memvonis dua tahun penjara. Bila itu dijadikan alasan, dikhawatirkan akan muncul kasus serupa, karena dengan menggelapkan uang Rp 270 miliar hanya dihukum dua tahun penjara. “Rp 270 miliar itu sangat banyak sekali,” cetusnya.

Suryo bercerita ikut menabung deposito di KSP Tinara yang berada di Dusun Krajan, Desa Kedaleman, Kecamatan Rogojampi itu sejak 2015. Awal-awal menabung, selalu aman tidak pernah ada kendala. “Selain itu bunga yang ditawarkan  juga besar,” jelasnya.

Suryo mengatakan bunga yang diberikan sebesar satu persen per bulan, bisa langsung diterima di rekening nasabah setiap awal bulan. Manajer KSP Tinara yang juga pengurus utama tempat ibadah di Rogojampi membuat nasabah mengira orangnya sangat religius dan tidak mungkin menyalahgunakan uang. “Saya semakin yakin menabung di disitu,” jelasnya.

Baca Juga :  Dukun Mengaku Bisa Gandakan Uang Hingga Rp 12 Miliar

Pada Agustus 2015, Suryo mulai menabung di KSP Tinara sebesar Rp 200 juta. Dua bulan kemudian, menambah tabungan sebesar Rp 300 juta dengan cara ditransfer, hingga akhirnya total tabungannya Rp 500 juta. “Awalnya tidak pernah ada masalah, setiap bulan saya ditransfer Rp 5 juta.  Itu berjalan sekitar empat tahun,” terangnya.

Baru pada awal Agustus 2019, Suryo mendatangi KSP Tinara dan ingin mengambil tabungan depositonya sebesar Rp 200 juta untuk kebutuhan usahanya. Tapi, Linggawati selaku manager KSP Tinara tidak bisa mencairkan dana dengan alasan nasabah sedang melakukan penarikan secara bersamaan dalam jumlah besar (Rush Money), dan saat itu dijanjikan minggu depan. “Saya memaklumi dan memilih untuk menunggu minggu depan,” jelasnya.

Setelah satu minggu kemudian, Suryo datang lagi ke KSP Tinara dan tetap tidak bisa mencairkan uangnya dengan alasan yang sama. Ternyata, setelah bertanya kepada nasabah lain juga tidak bisa mencairkan uangnya. “Saya dan nasabah lain terus mengejar manager KSP Tinara itu,” jelasnya.

Hingga akhirnya, Surya oleh Linggawati ditawari tukar guling satu unit rumah di Rogojampi. Dan itu diiyakan dengan dengan harga disepakati Rp 350 juta. Lagi-lagi, itu hanya tipu muslihat. Karena saat diminta sertifikat rumahnya, manajer KSP Tinara itu tidak bisa ditemui. “Katanya sertifikat rumah hilang, itu tidak masuk akal,” ungkapnya.

Baca Juga :  Baby X Muncar Dikubur

Pada pertengahan September 2019, ada berita baik karena akan ada investor masuk untuk menalangi dana para nasabah. Untuk penyelesaian, digelar pertemuan di salah satu kafe yang ada di Kecamatan Glagah yang diikuti sekitar 400 orang nasabah. “Tapi itu juga bohong, yang datang pengacaranya Linggawati yang disuruh berpura-pura menjadi investor,” ungkapnya.

Suryo dan nasabah yang lain terus mengejar Linggawati, namun dengan berbagai alasan tidak bisa ditemui, baik di kantor maupun di rumahnya. Sehingga para nasabah memutuskan untuk melaporkan Linggawati ke Polresta Banyuwangi pada 27 Februari 2020. “Ternyata putusan dari pengadilan hanya dua tahun saja,” jelas Suryo.

Nasabah KSP Tianara lainnya yang menolak disebutkan namanya mengaku tabungan deposito sebesar Rp 1 miliar sejak tahun 2017 tidak jelas rimbanya. “Saya ikut deposito karena managernya adalah pengurus Klenteng Tik Liong Tian di Rogojampi,” jelas korban yang mewanti-wanti namanya tidak dikorankan.

Korban itu mengaku mulai curiga pada September 2019, setelah bunga depositonya tidak masuk ke rekeningnya lagi. Setelah mencari informasi dari nasabah lain, baru tahu kalau manager KSP Tinara bermasalah. “Awal-awal dihubungi bisa, tapi setelah menanyakan keuangan teleponnya dimatikan, dan setelah itu tidak pernah menjawab lagi,” jelasnya.

Dia mengaku sampai saat ini uangnya itu belum dikembalikan sepeserpun. Makanya, ia juga ikut melaporkan ke Polresta Banyuwangi. Ia mengaku sangat kecewa dengan putusan PN yang hanya memvonis dua tahun penjara. “Harusnya dimiskinkan, agar kapok dan tidak mengulangi perbuatannya,” cetusnya.(mg5/abi)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/