alexametrics
24 C
Banyuwangi
Monday, August 8, 2022

Korban Geruduk Pengadilan, Desak Hakim Hukum Berat Bos KSP Tinara

BANYUWANGI, Jawa Pos Radar Banyuwangi – Sidang dengan agenda pembacaan putusan Manajer KSP Tinara, Linggawati Wijaya, terpaksa ditunda oleh majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Banyuwangi kemarin (30/6). Hakim menyebut belum siap dengan putusannya.

Penundaan tersebut disampaikan oleh Ketua Majelis Hakim I Wayan Sukradana. Alasannya, isi putusan masih didiskusikan dengan dua hakim lainnya. ”Kita tunda minggu depan karena hakim masih harus bermusyawarah,” tegas Wayan yang juga Wakil Ketua PN Banyuwangi.

Penundaan sidang putusan ternyata cukup membuat kecewa puluhan korban penipuan KSP Tinara yang hadir di PN Banyuwangi. Mereka rela jauh-jauh hadir ke persidangan untuk mendengarkan putusan hakim.

Kekecewaan diungkapkan oleh korban penipuan dan penggelapan dengan menggelar aksi di ruang tunggu PN Banyuwangi. Mereka mengusung banner bertuliskan ”Tolong hakim hukum berat Linggawati CS. Mafia hukum dan markus gentayangan, 300 miliar uang nasabah tidak kembali”.

Aksi tersebut mendapat perhatian dari para pengunjung sidang PN Banyuwangi. Banyak yang bersimpati lantaran para korban berjuang sangat gigih. Padahal usia mereka sudah tidak muda lagi. ”Kami meminta majelis hakim PN Banyuwangi menjatuhkan hukuman seberat-beratnya kepada Linggawati karena sudah banyak korbannya,” desak perwakilan korban KSP Tinara, Anip Hariyadi.

Baca Juga :  Kuliah Umum Untag Undang Profesor Pakar Pidana Pencucian Uang

Anip mengatakan, mereka yang datang ke pengadilan hanya minta keadilan hukum. Sebab, para korban KSP Tinara bukan hanya dari golongan berada. Ada beberapa korban yang berasal dari petani atau pun penggembala. ”Kita ingin adanya keadilan agar hakim tidak main-main dalam mengambil keputusan. Linggawati sudah banyak memakan korban hingga mengakibatkan kerugian material Rp 300 miliar,” katanya.

Kuasa hukum korban KSP Tinara Abdul Malik mengatakan, aksi damai tersebut murni dilakukan oleh para korban KSP Tianara. Mereka datang ke pengadilan  untuk mencari keadilan. ”Kami berharap hakim tidak masuk angin. Kasus KSP Tinara tersebut sudah banyak memakan korban,” tegasnya.

Sejauh ini, kata Malik, cukup banyak korban yang telah melaporkan kasus itu ke polisi. Dalam perkara pertama  hingga masuk meja hijau ada 10 orang korban. Sedangkan korban susulan yang melapor ke Polresta Banyuwangi sebanyak 29 orang. ”Sudah ada 39 korban dengan total kerugian mencapai Rp 29,4 miliar,” tegasnya.

Baca Juga :  Vonis Dua Tahun Bos KSP Tinara Dianggap Terlalu Ringan

Malik berharap hakim menghukum Linggawati seberat-beratnya. Jika memang bisa, vonisnya lebih tinggi dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) yang menuntut  lima tahun penjara. ”Kita meminta hakim mewaspadai adanya markus-markus utusan Linggawati untuk mengatur putusan sidang. Kami bersama para korban terus melakukan pemantauan. Jika memang ada permainan, kami akan laporkan ke Mahkamah Agung (MA),” ancamnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, bos KSP Tinara Linggawati Wijaya dilaporkan atas dugaan penipuan dan penggelapan uang miliaran rupiah milik nasabah. Atas perbuatannya itu, Linggawati dituntut hukuman lima tahun penjara sesuai dengan pasal 378 KUHP tentang Penipuan dan Penggelapan. Pasal tersebut dirasa tepat dengan perbuatan terdakwa yang melakukan penipuan sejak 2019. (rio/aif/c1)

BANYUWANGI, Jawa Pos Radar Banyuwangi – Sidang dengan agenda pembacaan putusan Manajer KSP Tinara, Linggawati Wijaya, terpaksa ditunda oleh majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Banyuwangi kemarin (30/6). Hakim menyebut belum siap dengan putusannya.

Penundaan tersebut disampaikan oleh Ketua Majelis Hakim I Wayan Sukradana. Alasannya, isi putusan masih didiskusikan dengan dua hakim lainnya. ”Kita tunda minggu depan karena hakim masih harus bermusyawarah,” tegas Wayan yang juga Wakil Ketua PN Banyuwangi.

Penundaan sidang putusan ternyata cukup membuat kecewa puluhan korban penipuan KSP Tinara yang hadir di PN Banyuwangi. Mereka rela jauh-jauh hadir ke persidangan untuk mendengarkan putusan hakim.

Kekecewaan diungkapkan oleh korban penipuan dan penggelapan dengan menggelar aksi di ruang tunggu PN Banyuwangi. Mereka mengusung banner bertuliskan ”Tolong hakim hukum berat Linggawati CS. Mafia hukum dan markus gentayangan, 300 miliar uang nasabah tidak kembali”.

Aksi tersebut mendapat perhatian dari para pengunjung sidang PN Banyuwangi. Banyak yang bersimpati lantaran para korban berjuang sangat gigih. Padahal usia mereka sudah tidak muda lagi. ”Kami meminta majelis hakim PN Banyuwangi menjatuhkan hukuman seberat-beratnya kepada Linggawati karena sudah banyak korbannya,” desak perwakilan korban KSP Tinara, Anip Hariyadi.

Baca Juga :  Modus Pacari Calon Korban, Pria Ini Bawa Kabur Motor

Anip mengatakan, mereka yang datang ke pengadilan hanya minta keadilan hukum. Sebab, para korban KSP Tinara bukan hanya dari golongan berada. Ada beberapa korban yang berasal dari petani atau pun penggembala. ”Kita ingin adanya keadilan agar hakim tidak main-main dalam mengambil keputusan. Linggawati sudah banyak memakan korban hingga mengakibatkan kerugian material Rp 300 miliar,” katanya.

Kuasa hukum korban KSP Tinara Abdul Malik mengatakan, aksi damai tersebut murni dilakukan oleh para korban KSP Tianara. Mereka datang ke pengadilan  untuk mencari keadilan. ”Kami berharap hakim tidak masuk angin. Kasus KSP Tinara tersebut sudah banyak memakan korban,” tegasnya.

Sejauh ini, kata Malik, cukup banyak korban yang telah melaporkan kasus itu ke polisi. Dalam perkara pertama  hingga masuk meja hijau ada 10 orang korban. Sedangkan korban susulan yang melapor ke Polresta Banyuwangi sebanyak 29 orang. ”Sudah ada 39 korban dengan total kerugian mencapai Rp 29,4 miliar,” tegasnya.

Baca Juga :  Ditahan Imbang Persid, Pelatih Beralasan Pemain Masih Tegang dan Grogi

Malik berharap hakim menghukum Linggawati seberat-beratnya. Jika memang bisa, vonisnya lebih tinggi dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) yang menuntut  lima tahun penjara. ”Kita meminta hakim mewaspadai adanya markus-markus utusan Linggawati untuk mengatur putusan sidang. Kami bersama para korban terus melakukan pemantauan. Jika memang ada permainan, kami akan laporkan ke Mahkamah Agung (MA),” ancamnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, bos KSP Tinara Linggawati Wijaya dilaporkan atas dugaan penipuan dan penggelapan uang miliaran rupiah milik nasabah. Atas perbuatannya itu, Linggawati dituntut hukuman lima tahun penjara sesuai dengan pasal 378 KUHP tentang Penipuan dan Penggelapan. Pasal tersebut dirasa tepat dengan perbuatan terdakwa yang melakukan penipuan sejak 2019. (rio/aif/c1)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/