alexametrics
26.2 C
Banyuwangi
Sunday, August 14, 2022

Kalau Masih Mangkir, FZ Bisa Dijemput Paksa

BANNYUWANGI, Jawa Pos Radar Banyuwangi –Penyidik Reskrim Polresta Banyuwangi terus mengebut kasus dugaan pemerkosaan dan pelecehan seksual yang diduga dilakukan oleh pengasuh pondok pesantren (ponpes) berinisial FZ. Jumat (1/7) penyidik mengagendakan pemeriksaan terhadap FZ yang juga mantan anggota DPRD Banyuwangi dan Jatim tersebut.

Penyidik belum bisa menetapkan FZ sebagai tersangka lantaran masih menunggu kehadiran pengasuh pesantren di Desa Padang, Kecamatan Singojuruh tersebut. Jika panggilan kedua tetap mangkir, FZ bisa dipanggil paksa. ”Jika panggilan kedua besok (hari ini) tidak hadir dengan disertai alasan yang tidak jelas, akan kita terbitkan surat membawa atau jemput paksa kepada yang bersangkutan,” tegas Kapolresta AKBP Deddy Foury Millewa melalui Kasat Reskrim Kompol Agus Sobarna Praja.

Agus mengatakan, sembari menunggu kehadiran terlapor untuk memenuhi panggilan, penyidik juga sudah melakukan pemeriksaan kepada empat saksi tambahan. ”Jumlah total saksi dan korban saat ini sudah ada 12 orang dari yang sebelumnya delapan orang,” katanya.

Meski ada tambahan saksi, jumlah korban tetap enam orang dengan rincian lima korban perempuan dan satu korban laki-laki. ”Kita masih terus melakukan tahapan dan prosedur kepolisian. Tidak bisa kita tiba-tiba melakukan penangkapan tanpa ada prosedur,” terangnya.

Baca Juga :  Pengacara Sesalkan Pemerkosa AJ Tak Kunjung Terungkap

Terkait rumor yang menyebut terlapor kabur meninggalkan rumah, pihaknya menyebut hal itu masih sebatas informasi yang berkembang di masyarakat. Penyidik masih tetap melakukan prosedur dengan melayangkan surat panggilan kedua kepada terlapor. ”Jika dengan prosedur pemanggilan tidak dijalankan atau tetap mangkir hingga panggilan kedua, terpaksa dikeluarkan surat penjemputan paksa. Jika memang tersangka kabur, tetap dilakukan perintah penangkapan,” tegasnya.

Agus menambahkan, terkait adanya sejumlah teror yang menimpa korban dan para saksi, polisi telah melakukan pendampingan serta pengawasan terhadap para korban dan saksi. Tentunya, korban juga mendapatkan pendampingan melalui Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A). ”Para saksi mendapatkan pendampingan dari Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) sehingga tidak perlu khawatir,” kata Agus.

Beredar rumor FZ sudah kabur dari ponpes yang dia asuh. Rumor ini dibenarkan oleh salah satu perwakilan ponpes, In’am Latif. Dia mengatakan kalau FZ sudah tidak ada di lembaga pesantren sejak tiga minggu lalu. ”Kami tidak bertemu sudah tiga mingguan, bahkan tidak tahu posisinya ada di mana sekarang,” ujarnya.

Baca Juga :  Kalangan Anggota Dewan Tak Menyangka FZ Sampai Gelap Mata

In’am mengaku sangat terkejut dan terpukul dengan adanya dugaan kasus asusila yang terjadi di pesantrennya. Keluarga besar pesantren sepenuhnya menyerahkan proses hukum kepada pihak kepolisian. ”Kami serahkan sepenuhnya kepada aparat kepolisian dan dipersilakan untuk diusut tuntas. Masalah yang menimpa FZ murni personal, tidak ada sangkut pautnya dengan lembaga pesantren. Kami mohon masyarakat bisa mengerti,” pintanya.

Seperti diberitakan sebelumnya, oknum pengasuh pondok pesantren (ponpes) berinisial FZ yang dilaporkan mencabuli enam santri tidak memenuhi panggilan penyidik Renakta (Remaja, Anak, dan Wanita) Polresta Banyuwangi, Selasa (28/6) lalu. Ditunggu sampai sore, FZ yang pernah menjabat anggota DPRD Banyuwangi dan Jatim itu tidak kunjung menampakkan batang hidungnya alias mangkir.

Seharusnya FZ harus menjalani pemeriksaan pukul 09.00. Panggilan pertama sifatnya klarifikasi terkait laporan sejumlah santriwati yang menjadi korban asusila. Hingga pukul 17.00, FZ tidak kunjung hadir di Polresta Banyuwangi. Bahkan, tidak ada satu orang pun yang mengonfirmasi penundaan pemeriksaan kepada penyidik Reknata Satreskim Polresta Banyuwangi. Penyidik terpaksa harus melayangkan surat panggilan kedua agar mantan ketua parpol itu hadir pada hari ini (1/7). (rio/aif/c1)

BANNYUWANGI, Jawa Pos Radar Banyuwangi –Penyidik Reskrim Polresta Banyuwangi terus mengebut kasus dugaan pemerkosaan dan pelecehan seksual yang diduga dilakukan oleh pengasuh pondok pesantren (ponpes) berinisial FZ. Jumat (1/7) penyidik mengagendakan pemeriksaan terhadap FZ yang juga mantan anggota DPRD Banyuwangi dan Jatim tersebut.

Penyidik belum bisa menetapkan FZ sebagai tersangka lantaran masih menunggu kehadiran pengasuh pesantren di Desa Padang, Kecamatan Singojuruh tersebut. Jika panggilan kedua tetap mangkir, FZ bisa dipanggil paksa. ”Jika panggilan kedua besok (hari ini) tidak hadir dengan disertai alasan yang tidak jelas, akan kita terbitkan surat membawa atau jemput paksa kepada yang bersangkutan,” tegas Kapolresta AKBP Deddy Foury Millewa melalui Kasat Reskrim Kompol Agus Sobarna Praja.

Agus mengatakan, sembari menunggu kehadiran terlapor untuk memenuhi panggilan, penyidik juga sudah melakukan pemeriksaan kepada empat saksi tambahan. ”Jumlah total saksi dan korban saat ini sudah ada 12 orang dari yang sebelumnya delapan orang,” katanya.

Meski ada tambahan saksi, jumlah korban tetap enam orang dengan rincian lima korban perempuan dan satu korban laki-laki. ”Kita masih terus melakukan tahapan dan prosedur kepolisian. Tidak bisa kita tiba-tiba melakukan penangkapan tanpa ada prosedur,” terangnya.

Baca Juga :  Bos KSP Tinara Dituntut Lima Tahun

Terkait rumor yang menyebut terlapor kabur meninggalkan rumah, pihaknya menyebut hal itu masih sebatas informasi yang berkembang di masyarakat. Penyidik masih tetap melakukan prosedur dengan melayangkan surat panggilan kedua kepada terlapor. ”Jika dengan prosedur pemanggilan tidak dijalankan atau tetap mangkir hingga panggilan kedua, terpaksa dikeluarkan surat penjemputan paksa. Jika memang tersangka kabur, tetap dilakukan perintah penangkapan,” tegasnya.

Agus menambahkan, terkait adanya sejumlah teror yang menimpa korban dan para saksi, polisi telah melakukan pendampingan serta pengawasan terhadap para korban dan saksi. Tentunya, korban juga mendapatkan pendampingan melalui Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A). ”Para saksi mendapatkan pendampingan dari Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) sehingga tidak perlu khawatir,” kata Agus.

Beredar rumor FZ sudah kabur dari ponpes yang dia asuh. Rumor ini dibenarkan oleh salah satu perwakilan ponpes, In’am Latif. Dia mengatakan kalau FZ sudah tidak ada di lembaga pesantren sejak tiga minggu lalu. ”Kami tidak bertemu sudah tiga mingguan, bahkan tidak tahu posisinya ada di mana sekarang,” ujarnya.

Baca Juga :  Ngumpet di Rumah Teman, Pelarian Fauzan Berakhir di Lampung

In’am mengaku sangat terkejut dan terpukul dengan adanya dugaan kasus asusila yang terjadi di pesantrennya. Keluarga besar pesantren sepenuhnya menyerahkan proses hukum kepada pihak kepolisian. ”Kami serahkan sepenuhnya kepada aparat kepolisian dan dipersilakan untuk diusut tuntas. Masalah yang menimpa FZ murni personal, tidak ada sangkut pautnya dengan lembaga pesantren. Kami mohon masyarakat bisa mengerti,” pintanya.

Seperti diberitakan sebelumnya, oknum pengasuh pondok pesantren (ponpes) berinisial FZ yang dilaporkan mencabuli enam santri tidak memenuhi panggilan penyidik Renakta (Remaja, Anak, dan Wanita) Polresta Banyuwangi, Selasa (28/6) lalu. Ditunggu sampai sore, FZ yang pernah menjabat anggota DPRD Banyuwangi dan Jatim itu tidak kunjung menampakkan batang hidungnya alias mangkir.

Seharusnya FZ harus menjalani pemeriksaan pukul 09.00. Panggilan pertama sifatnya klarifikasi terkait laporan sejumlah santriwati yang menjadi korban asusila. Hingga pukul 17.00, FZ tidak kunjung hadir di Polresta Banyuwangi. Bahkan, tidak ada satu orang pun yang mengonfirmasi penundaan pemeriksaan kepada penyidik Reknata Satreskim Polresta Banyuwangi. Penyidik terpaksa harus melayangkan surat panggilan kedua agar mantan ketua parpol itu hadir pada hari ini (1/7). (rio/aif/c1)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/