Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Dampak Perang Iran vs Israel-AS, BBM Tetangga Meledak, Indonesia Bertahan Sampai Kapan?

Ali Sodiqin • Kamis, 26 Maret 2026 | 15:00 WIB

BBM Negara Tetangga Meledak, Indonesia Bertahan: Efek Perang Iran vs Israel-AS dan Ancaman Selat Hormuz
BBM Negara Tetangga Meledak, Indonesia Bertahan: Efek Perang Iran vs Israel-AS dan Ancaman Selat Hormuz

RADARBANYUWANGI.ID - Gelombang kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) mulai menyapu Asia Tenggara. Sejumlah negara mencatat lonjakan tajam dalam waktu singkat.

Namun di tengah tekanan tersebut, Indonesia masih mampu menahan harga tetap stabil.

Vietnam misalnya, mengalami kenaikan signifikan dari Rp12.700 menjadi Rp19.100 per liter.

Laos bahkan mencetak rekor tertinggi di kawasan dengan harga mencapai Rp30.200. Thailand tak kalah mencolok, melonjak dari Rp16.500 ke Rp24.000 per liter.

Sementara itu, Singapura tetap berada di level premium dengan harga menembus Rp40.000 per liter, sedangkan Kamboja juga ikut terdampak dengan kenaikan ke Rp22.400.

Indonesia? Masih bertahan di kisaran Rp12.500 per liter.

Namun, pertanyaannya: sampai kapan?

Perang Iran vs Israel-AS Jadi Pemicu Utama

Lonjakan ini bukan sekadar dinamika pasar biasa. Konflik geopolitik antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel menjadi pemantik utama krisis energi global saat ini.

Ketegangan yang memanas berujung pada gangguan distribusi minyak dunia.

Situasi makin genting setelah Iran mengancam dan memperketat akses di Selat Hormuz—jalur vital yang menjadi urat nadi distribusi energi global.

Sekitar 20 persen pasokan minyak dunia melewati jalur ini. Ketika terganggu, efeknya langsung terasa ke seluruh dunia—tanpa kecuali.

Selat Hormuz: Titik Kritis Energi Dunia

Selat Hormuz kerap disebut sebagai “leher botol” energi global. Jalur sempit ini menghubungkan produksi minyak dari kawasan Teluk ke pasar internasional.

Begitu konflik memanas, risiko keamanan meningkat. Kapal tanker terancam, distribusi tersendat, dan harga minyak langsung melonjak.

Pasar global pun bereaksi cepat. Harga minyak dunia melonjak tajam, memicu kenaikan harga BBM di berbagai negara, termasuk Asia Tenggara.

Indonesia Mulai Tertekan, APBN Jadi Taruhan

Meski harga BBM dalam negeri masih stabil, tekanan mulai terasa di sisi fiskal.

Setiap kenaikan harga minyak dunia sebesar 1 dolar AS berpotensi menambah beban APBN hingga Rp5 triliun.

Artinya, semakin lama konflik berlangsung, semakin besar pula tekanan terhadap subsidi energi.

Pemerintah kini berada dalam posisi sulit: menjaga harga tetap stabil demi daya beli masyarakat, atau menyesuaikan harga untuk menjaga kesehatan fiskal.

Efek Domino: Inflasi Mengintai

Jika harga BBM akhirnya naik, dampaknya akan langsung menjalar. Ongkos distribusi meningkat, harga bahan pokok terdorong naik, dan inflasi sulit dihindari.

Negara-negara tetangga yang sudah lebih dulu menaikkan harga BBM menjadi cerminan nyata dari efek domino tersebut.

Kesimpulan: Tenang, Tapi Tidak Aman

Indonesia memang masih terlihat “tenang” di tengah badai kenaikan BBM kawasan.

Namun situasi global menunjukkan bahwa ketahanan ini tidak akan bertahan selamanya.

Selama konflik Iran vs Israel-AS belum mereda dan Selat Hormuz masih dalam tekanan, harga energi global akan tetap tinggi.

Dan jika itu terjadi, cepat atau lambat, dampaknya akan sampai juga ke dalam negeri. (*)

Editor : Ali Sodiqin
#selat hormuz #Efek Domino #harga bbm #asia tenggara #dampak perang AS Israel vs Iran