Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Harga BBM Asia Tenggara Naik Tajam, Dipicu Perang Iran vs Israel-AS dan Krisis Selat Hormuz

Ali Sodiqin • Kamis, 26 Maret 2026 | 09:24 WIB

Harga BBM Asia Tenggara melonjak akibat perang Iran vs Israel-AS dan penutupan Selat Hormuz, Indonesia masih bertahan stabil.
Harga BBM Asia Tenggara melonjak akibat perang Iran vs Israel-AS dan penutupan Selat Hormuz, Indonesia masih bertahan stabil.

RADARBANYUWANGI.ID - Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) mulai dirasakan di berbagai negara Asia Tenggara.

Sejumlah negara mencatat lonjakan signifikan, mulai dari Vietnam hingga Thailand, seiring meningkatnya tekanan global terhadap harga energi.

Data terbaru menunjukkan, harga BBM di Vietnam melonjak dari Rp12.700 menjadi Rp19.100 per liter.

Laos bahkan mencatat harga tertinggi di kawasan, mencapai Rp30.200 per liter. Sementara Thailand mengalami lonjakan tajam dari Rp16.500 menjadi Rp24.000.

Singapura tetap menjadi negara dengan harga BBM tertinggi di kawasan, menyentuh Rp40.000 per liter, sedangkan Kamboja juga mengalami kenaikan moderat.

Di tengah tren kenaikan tersebut, Indonesia masih relatif stabil di kisaran Rp12.500 per liter untuk BBM tertentu.

Namun, tekanan global dinilai berpotensi memengaruhi kebijakan energi nasional dalam waktu dekat.

Efek Domino Perang Iran vs Israel-AS

Lonjakan harga BBM ini tidak terjadi tanpa sebab. Konflik geopolitik antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel menjadi pemicu utama kenaikan harga minyak dunia.

Serangan militer yang terjadi sejak akhir Februari 2026 memicu ketegangan besar di kawasan Timur Tengah.

Situasi semakin memburuk setelah Iran mengambil langkah strategis dengan menutup Selat Hormuz—jalur vital distribusi energi global.

Penutupan jalur ini berdampak besar karena sekitar 20 persen pasokan minyak dunia melewati Selat Hormuz.

Akibatnya, distribusi minyak terganggu dan pasar global bereaksi cepat. Harga minyak dunia langsung melonjak hingga lebih dari 8 persen dalam waktu singkat.

Bahkan, dalam skenario terburuk, harga minyak diperkirakan bisa menembus di atas 100 dolar AS per barel jika konflik berkepanjangan.

Selat Hormuz: “Leher Botol” Energi Dunia

Selat Hormuz bukan sekadar jalur laut biasa. Kawasan ini merupakan chokepoint energi global yang menghubungkan negara-negara produsen minyak di Teluk Persia dengan pasar dunia.

Ketika jalur ini terganggu, dampaknya langsung terasa secara global, mulai dari kenaikan harga minyak, gangguan logistik, hingga lonjakan biaya transportasi energi.

Bahkan, laporan internasional menyebutkan banyak kapal tanker terpaksa berhenti beroperasi karena risiko keamanan meningkat, memperparah ketidakseimbangan pasokan.

Ancaman ke Indonesia: Subsidi dan APBN Tertekan

Meski harga BBM di Indonesia masih relatif stabil, tekanan terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) mulai terasa.

Setiap kenaikan harga minyak dunia sebesar 1 dolar AS berpotensi menambah beban APBN hingga Rp5 triliun. Artinya, jika tren kenaikan berlanjut, pemerintah harus menanggung subsidi energi yang jauh lebih besar.

Kondisi ini menjadi dilema. Di satu sisi, pemerintah ingin menjaga daya beli masyarakat. Namun di sisi lain, lonjakan harga minyak global sulit dihindari.

Potensi Dampak Lanjutan: Inflasi hingga Daya Beli

Jika harga BBM dalam negeri ikut terdorong naik, efek domino hampir pasti terjadi. Biaya logistik akan meningkat, harga kebutuhan pokok terdorong naik, dan inflasi berpotensi melonjak.

Negara-negara Asia Tenggara yang sudah lebih dulu menaikkan harga BBM menjadi gambaran awal dampak krisis energi global.

Kesimpulan: Indonesia Masih Aman, Tapi Waspada

Saat ini Indonesia memang masih mampu menahan kenaikan harga BBM. Namun, situasi global menunjukkan tekanan belum akan mereda dalam waktu dekat.

Selama konflik Iran vs Israel-AS masih berlangsung dan Selat Hormuz belum sepenuhnya pulih, harga energi global diperkirakan tetap tinggi.

Artinya, stabilitas harga BBM di dalam negeri bisa saja hanya bersifat sementara. (*)

Editor : Ali Sodiqin
#selat hormuz #krisis energi global #Efek Domino #harga minyak dunia #krisis bbm #BBM Indonesia #perang Iran AS Israel #asia tenggara #harga bbm melonjak