RADARBANYUWANGI.ID - Diplomasi tingkat tinggi bergerak cepat di tengah memanasnya konflik Timur Tengah.
Presiden Prancis Emmanuel Macron melakukan pembicaraan langsung dengan Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman pada Senin (23/3/2026).
Percakapan tersebut berfokus pada meningkatnya eskalasi konflik di kawasan, khususnya terkait serangan yang dikaitkan dengan Iran terhadap wilayah Arab Saudi.
Menurut laporan Saudi Press Agency (SPA), Macron menyampaikan solidaritas penuh Prancis kepada Riyadh.
Ia juga mengecam keras serangan berulang yang menargetkan wilayah Saudi dalam beberapa waktu terakhir.
Dalam pembicaraan itu, Macron menegaskan komitmen Paris untuk mendukung langkah-langkah Arab Saudi dalam menjaga kedaulatan serta keamanan nasionalnya.
Dukungan ini datang di tengah situasi kawasan yang semakin tidak stabil, dengan meningkatnya ancaman terhadap infrastruktur vital dan jalur distribusi energi global.
Seruan Redam Konflik dan Lindungi Infrastruktur Energi
Sehari sebelum melakukan komunikasi dengan MBS, Emmanuel Macron juga menyerukan moratorium atau penghentian sementara serangan terhadap fasilitas energi dan infrastruktur sipil.
Langkah ini dinilai krusial untuk mencegah dampak lebih luas terhadap ekonomi global, terutama di tengah lonjakan harga energi akibat konflik yang terus berkembang.
Macron juga mendesak Iran untuk menjamin kelancaran lalu lintas di Selat Hormuz—jalur vital yang menjadi urat nadi distribusi minyak dan gas dunia.
Melalui akun media sosial X, Macron memperingatkan bahwa konflik yang tidak terkendali berpotensi memicu krisis global.
“Risiko eskalasi yang tidak terkendali sangat nyata. Semua pihak harus menahan diri,” tulisnya.
Prancis Dorong Solusi Politik, Bukan Militer
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Noël Barrot menegaskan bahwa penyelesaian konflik tidak bisa hanya mengandalkan kekuatan militer.
Pernyataan tersebut ia sampaikan saat melakukan kunjungan ke Tel Aviv, Israel, dalam rangkaian upaya diplomasi Prancis di kawasan.
“Apa pun hasil dari operasi militer yang sedang berlangsung, hal itu harus dilengkapi dengan solusi politik yang menghasilkan hasil yang berkelanjutan,” ujar Barrot, seperti dikutip dari Arab News.
Ia menekankan bahwa dialog politik menjadi satu-satunya jalan untuk menghindari konflik berkepanjangan yang dapat merugikan semua pihak.
Lebih lanjut, Barrot juga menyoroti perlunya perubahan kebijakan dari Iran.
“Rezim Iran harus siap untuk membuat konsesi besar terhadap perubahan sikap yang radikal,” tegasnya.
Dampak Global: Energi dan Stabilitas Dunia Terancam
Pernyataan keras dari Prancis muncul di tengah meningkatnya kekhawatiran global terhadap dampak konflik terhadap sektor energi.
Serangan terhadap fasilitas energi, termasuk ladang gas, telah memicu lonjakan harga minyak dan gas dunia secara signifikan. Kondisi ini memperburuk tekanan ekonomi global yang sebelumnya sudah menghadapi berbagai tantangan.
Eropa, yang sangat bergantung pada pasokan energi global, menjadi salah satu pihak yang paling terdampak.
Karena itu, negara-negara Uni Eropa terus mendorong de-eskalasi dan perlindungan terhadap infrastruktur energi.
Selain itu, jalur distribusi seperti Selat Hormuz menjadi perhatian utama. Gangguan di kawasan ini dapat menghambat pasokan energi ke berbagai belahan dunia, termasuk Asia dan Eropa.
Diplomasi Intensif di Tengah Ancaman Perang Besar
Langkah Emmanuel Macron menghubungi Mohammed bin Salman menunjukkan upaya intensif Prancis dalam menjaga stabilitas kawasan.
Di satu sisi, Paris menunjukkan dukungan politik terhadap sekutu strategisnya. Namun di sisi lain, Prancis juga aktif mendorong penyelesaian damai melalui jalur diplomasi.
Pendekatan ganda ini mencerminkan kekhawatiran Eropa terhadap potensi konflik besar yang dapat meluas dan berdampak global.
Hingga kini, situasi di Timur Tengah masih berada dalam ketegangan tinggi. Dunia internasional terus memantau perkembangan, sembari berharap upaya diplomasi mampu meredam potensi eskalasi lebih lanjut. (*)
Editor : Ali Sodiqin