RADARBANYUWANGI.ID - Eskalasi konflik di Timur Tengah kian memanas. Iran dilaporkan telah menghancurkan sedikitnya 12 sistem radar dan terminal komunikasi satelit (SATCOM) milik Amerika Serikat (AS) dan sekutunya sejak awal perang.
Data tersebut diungkap oleh kantor berita Anadolu Agency yang mengompilasi berbagai laporan intelijen sumber terbuka dan citra satelit. Nilai total kerusakan ditaksir mencapai USD3,152 miliar atau sekitar Rp50 triliun.
Radar Bandara Kuwait hingga Kedutaan AS Jadi Sasaran
Serangan terbaru terjadi di Bandara Internasional Kuwait, di mana sistem radar modern dilaporkan rusak akibat serangan tiga drone yang disebut sebagai “drone musuh” oleh otoritas setempat.
Sehari sebelumnya, drone Iran juga menghantam radar canggih Saab Giraffe 1X milik AS di kompleks Kedutaan Besar Amerika Serikat di Baghdad, Irak.
Radar ini memiliki kemampuan Counter Rocket, Artillery, and Mortar (C-RAM) serta Counter Unmanned Aerial System (C-UAS) dengan jangkauan hingga 75 kilometer. Nilainya diperkirakan mencapai USD2 juta.
Meski tingkat kerusakan belum diumumkan secara rinci, serangan ini menunjukkan kemampuan Iran dalam menargetkan sistem pertahanan udara modern secara presisi.
Radar THAAD Bernilai Miliaran Dolar Ikut Terkena
Serangan Iran juga menyasar sistem radar AN/TPY-2 yang merupakan bagian dari sistem pertahanan rudal Terminal High Altitude Area Defense (THAAD).
Berdasarkan citra satelit yang dianalisis sejumlah media internasional, empat radar AN/TPY-2 dilaporkan terkena serangan di beberapa lokasi strategis, antara lain:
- Al Sader dan Al Ruwais di Uni Emirat Arab
- Pangkalan Udara Muwaffaq Salti di Yordania
- Pangkalan Udara Prince Sultan di Arab Saudi
Satu unit radar AN/TPY-2 diperkirakan bernilai hingga USD2 miliar, menjadikannya salah satu target paling mahal dalam konflik ini.
Qatar dan Bahrain Tak Luput dari Serangan
Iran juga melancarkan serangan terhadap radar peringatan dini AN/FPS-132 di Pangkalan Udara Al-Udeid, Qatar. Sistem tersebut memiliki nilai sekitar USD1,1 miliar.
Otoritas Qatar telah mengonfirmasi bahwa radar tersebut mengalami kerusakan setelah terkena rudal Iran saat serangan balasan dimulai pada 28 Februari.
Tidak hanya itu, markas besar Armada Kelima Angkatan Laut AS di Manama, Bahrain, juga menjadi target. Dua terminal komunikasi satelit dilaporkan hancur, termasuk sistem AN/GSC-52B yang nilainya diperkirakan mencapai USD20 juta.
Kerusakan Tambahan di Kuwait
Citra satelit yang dianalisis oleh The New York Times menunjukkan kehancuran tiga radome (kubah pelindung radar) di Camp Arifjan, Kuwait.
Kerusakan ini menambah total kerugian sekitar USD30 juta, memperkuat indikasi bahwa serangan Iran dilakukan secara sistematis dan menyasar infrastruktur komunikasi militer.
Total 12 Sistem Hancur, Kerugian Fantastis
Secara keseluruhan, sedikitnya 12 sistem radar dan SATCOM milik AS dan sekutunya telah terkena serangan Iran.
Nilai total kerusakan diperkirakan mencapai:
- USD3,152 miliar
- Setara sekitar Rp50 triliun
Angka ini menjadikan serangan tersebut sebagai salah satu pukulan terbesar terhadap infrastruktur militer AS dalam konflik modern.
Strategi Iran: Lumpuhkan Mata dan Telinga Musuh
Pengamat militer menilai, serangan terhadap radar dan SATCOM bukanlah kebetulan. Sistem tersebut merupakan “mata dan telinga” bagi operasi militer modern.
Dengan melumpuhkan radar dan komunikasi, Iran berupaya:
- Mengganggu sistem deteksi dini
- Menghambat koordinasi militer AS
- Membatasi efektivitas pertahanan udara
Strategi ini dinilai efektif dalam menciptakan ketidakseimbangan di medan perang.
Konflik Berpotensi Semakin Meluas
Serangan terhadap aset bernilai tinggi ini menunjukkan bahwa konflik telah memasuki fase yang lebih serius dan kompleks.
Dengan kerugian yang terus meningkat dan target yang semakin luas, kekhawatiran akan eskalasi perang ke skala regional bahkan global semakin menguat.
Hingga kini, belum ada pernyataan resmi dari pihak militer AS terkait total kerusakan tersebut.
Namun, data yang beredar menunjukkan bahwa dampak perang tidak hanya besar secara militer, tetapi juga sangat mahal secara ekonomi. (*)
Editor : Ali Sodiqin