RADARBANYUWANGI.ID - Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali melontarkan pernyataan keras terkait konflik yang memanas antara Washington dan Teheran.
Ia mendesak Iran untuk “menyerah” guna mengakhiri perang yang sedang berlangsung di kawasan Timur Tengah.
Dalam wawancara telepon dengan NBC News, Trump bahkan menyinggung kabar yang beredar mengenai kemungkinan Mojtaba Khamenei—yang disebut sebagai pemimpin tertinggi baru Iran—telah meninggal dunia.
“Saya mendengar dia sudah meninggal, dan jika dia masih hidup, dia harus melakukan sesuatu yang sangat cerdas untuk negaranya, dan itu adalah menyerah,” kata Trump.
Meski demikian, Trump mengaku tidak memiliki kepastian mengenai kondisi pemimpin Iran tersebut.
“Saya tidak tahu apakah dia masih hidup. Sejauh ini tidak ada yang bisa menunjukkannya,” ujarnya.
Iran Disebut Ingin Bernegosiasi
Dalam kesempatan yang sama, Trump juga menyatakan bahwa Iran sebenarnya tengah berupaya membuka jalur negosiasi dengan Amerika Serikat.
Namun, ia menegaskan bahwa dirinya belum bersedia menyepakati kesepakatan apa pun dengan Teheran.
“Iran ingin membuat kesepakatan, dan saya tidak ingin membuatnya karena persyaratannya belum cukup baik,” kata Trump.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa Washington masih mempertahankan tekanan politik dan militer terhadap Iran di tengah konflik yang terus berlangsung.
Klaim AS Telah Menghancurkan Iran
Sebelumnya, Trump juga mengklaim bahwa Amerika Serikat telah “benar-benar menghancurkan” Iran, baik dari sisi militer maupun ekonomi.
Pernyataan tersebut disampaikan melalui unggahan di platform media sosial Truth Social.
Dalam unggahannya, Trump menyinggung operasi militer besar yang sedang berlangsung di Timur Tengah yang dikenal sebagai Operation Epic Fury.
“Amerika Serikat telah mengalahkan dan benar-benar menghancurkan Iran, baik secara militer, ekonomi, dan dalam segala hal lainnya,” tulis Trump.
Operasi tersebut disebut sebagai salah satu langkah terbesar Washington dalam menghadapi pengaruh Iran di kawasan.
Fokus Amankan Selat Hormuz
Trump juga menyoroti pentingnya menjaga keamanan jalur energi global, khususnya di Strait of Hormuz, yang menjadi jalur utama pengiriman minyak dunia.
Ia meminta negara-negara yang bergantung pada pasokan minyak melalui jalur tersebut untuk ikut berperan dalam menjaga keamanan pelayaran.
“Negara-negara di dunia yang menerima minyak melalui Selat Hormuz harus menjaga jalur tersebut, dan kami akan membantu — sangat!” tulis Trump.
Menurutnya, upaya menjaga stabilitas jalur energi global seharusnya dilakukan secara kolektif oleh komunitas internasional.
“Ini seharusnya selalu menjadi upaya tim, dan sekarang akan menjadi demikian,” katanya.
Targetkan Jaringan Proksi Iran
Sementara itu, The White House merilis video baru yang menjelaskan tujuan utama Operation Epic Fury.
Video tersebut menegaskan bahwa kampanye militer tersebut bertujuan untuk menghancurkan jaringan pasukan proksi Iran di seluruh Timur Tengah.
Trump dalam video itu menyatakan bahwa operasi tersebut bertujuan memastikan kelompok militan yang didukung Iran tidak lagi dapat mengacaukan stabilitas kawasan.
“Kita akan memastikan bahwa proksi teroris di kawasan ini tidak lagi dapat mengacaukan kawasan atau dunia dan menyerang pasukan kita,” kata Trump.
Sekretaris pers Gedung Putih Karoline Leavitt menambahkan bahwa operasi tersebut dirancang untuk menghentikan Iran menggunakan kelompok proksi sebagai alat untuk mengancam “dunia bebas”.
Tekanan Militer Terus Ditingkatkan
Dalam pernyataan yang sama, pejabat militer AS menyebut pasukan Amerika terus memperluas operasi ke berbagai fasilitas militer dan industri Iran.
Langkah tersebut disebut bertujuan membatasi kemampuan Iran memproyeksikan kekuatan militernya di luar wilayahnya.
Utusan khusus Amerika Serikat Steve Witkoff mengatakan kampanye tersebut juga dimaksudkan untuk menghancurkan kemampuan Iran dalam mendukung kelompok militan di berbagai negara Timur Tengah.
Menurutnya, operasi tersebut menargetkan jaringan dukungan yang selama ini memungkinkan Iran mensponsori berbagai kelompok proksi di kawasan.
Operasi Dimulai Akhir Februari
Operasi militer Operation Epic Fury diketahui mulai diluncurkan pada 28 Februari.
Sejak dimulai, operasi tersebut menjadi salah satu fokus utama kebijakan luar negeri Washington dalam menghadapi pengaruh Iran di Timur Tengah.
Perkembangan terbaru menunjukkan bahwa konflik antara Amerika Serikat dan Iran masih jauh dari mereda.
Dengan pernyataan keras dari kedua pihak serta meningkatnya aktivitas militer di kawasan, situasi keamanan regional diperkirakan masih akan terus bergejolak dalam waktu dekat. (*)
Editor : Ali Sodiqin