Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Prediksi Prabowo Terbukti! Peringatan Serangan Iran Disampaikan Sejak April 2025

Bayu Shaputra • Senin, 2 Maret 2026 | 04:30 WIB

Presiden Prabowo Subianto.
Presiden Prabowo Subianto.

RADARBANYUWANGI.ID - Presiden RI Prabowo Subianto pernah menyampaikan peringatan keras mengenai potensi pecahnya konflik global yang dapat menyeret dunia ke jurang Perang Dunia Ketiga.

Peringatan tersebut disampaikan dalam wawancara eksklusif bersama tujuh pemimpin redaksi media nasional pada 6 April 2025 di kediamannya di Hambalang, Bogor.

Pertemuan berlangsung di ruang perpustakaan Padepokan Garuda Yaksa, kawasan yang selama ini dikenal sebagai tempat Presiden melakukan diskusi strategis dan perenungan kebijakan negara.

Dengan nada serius dan penuh kehati-hatian, Kepala Negara mengungkapkan kekhawatirannya terhadap meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran.

Dalam pernyataannya, Prabowo mengaku mengikuti perkembangan situasi geopolitik dunia hampir setiap malam. Ia menyebut eskalasi konflik di Timur Tengah telah memasuki fase yang sangat berbahaya.

“Amerika Serikat bersiap menyerang Iran. Rusia sudah memberi peringatan bahwa mereka bisa terlibat langsung bila itu terjadi,” ujar Presiden dalam pertemuan tersebut.

Menurutnya, konfrontasi terbuka antara dua kekuatan besar berpotensi menciptakan efek domino global. Jika Rusia benar-benar turun tangan, maka ketegangan bukan lagi sekadar konflik regional, melainkan ancaman perang berskala dunia.

“Kalau dua kekuatan besar berhadapan langsung, dunia bisa masuk fase Perang Dunia Ketiga,” tegasnya.

Tak hanya menyampaikan kekhawatiran, Presiden juga memproyeksikan bahwa dalam lima hingga delapan bulan setelah peringatan tersebut, Indonesia perlu mengambil langkah fundamental untuk memperkuat fondasi ekonomi nasional.

Ia menilai ketidakpastian global akibat konflik geopolitik akan berdampak langsung pada stabilitas harga energi, perdagangan internasional, nilai tukar, hingga ketahanan pangan. Indonesia, sebagai negara dengan ekonomi terbuka, tidak akan kebal dari guncangan tersebut.

“Kalau terjadi eskalasi besar, dampaknya ke energi, logistik, dan pasar keuangan dunia akan sangat terasa. Kita harus memperkuat ekonomi dari sekarang,” ujarnya.

Langkah fundamental yang dimaksud mencakup penguatan cadangan devisa, stabilisasi sektor pangan dan energi, serta percepatan hilirisasi industri untuk mengurangi ketergantungan pada impor strategis.

Apa yang disampaikan Presiden pada April 2025 itu terbukti bukan sekadar retorika. Memasuki Februari 2026, ketegangan antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat meningkat drastis. Insiden militer dan saling serang retorika politik memperkeruh situasi kawasan.

Konflik yang melibatkan Israel tersebut memicu kekhawatiran global akan meluasnya perang terbuka di Timur Tengah. Pasar energi dunia bergejolak, harga minyak melonjak, dan bursa saham internasional mengalami tekanan.

Melihat eskalasi tersebut, Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri mengambil langkah diplomatik proaktif dengan menawarkan diri sebagai mediator.

Presiden Prabowo bahkan menyatakan kesiapan pribadinya untuk terbang ke Teheran apabila kedua pihak yang bertikai menyetujui fasilitasi dialog oleh Indonesia.

“Kalau kedua pihak sepakat, saya siap datang langsung untuk membantu menciptakan ruang dialog,” kata Presiden.

Dalam wawancara itu pula, Presiden menegaskan bahwa Indonesia tetap konsisten menjalankan politik luar negeri bebas aktif dan non-blok. Namun, ia mengingatkan bahwa dalam era persenjataan modern, terutama ancaman nuklir, tidak ada negara yang benar-benar aman.

“Kalau sudah perang nuklir, tidak ada negara yang kebal. Politik non-blok pun tidak akan membuat kita sepenuhnya terlindungi dari dampaknya,” ujarnya lugas.

Menurutnya, dampak perang modern tidak lagi mengenal batas geografis. Gangguan rantai pasok, krisis energi, dan instabilitas finansial akan menjalar ke seluruh dunia, termasuk Indonesia.

Menutup pernyataannya, Presiden mengajak seluruh elemen bangsa untuk meningkatkan kewaspadaan dan memperkuat persatuan nasional. Ia menilai bahwa kekuatan utama Indonesia dalam menghadapi badai geopolitik global adalah stabilitas domestik.

“Kita harus solid. Jangan mudah terprovokasi. Perkuat ekonomi, perkuat persatuan. Dunia sedang berada di pusaran badai geopolitik,” tegasnya.

Peringatan tersebut kini dipandang sebagai bentuk kewaspadaan strategis seorang kepala negara yang memahami dinamika geopolitik global secara mendalam.

Di tengah ketidakpastian dunia, Indonesia dituntut tidak hanya menjadi penonton, melainkan aktor yang berperan aktif dalam menjaga perdamaian sekaligus memperkuat ketahanan nasional.

Dengan eskalasi konflik yang terus berkembang, publik kini menaruh perhatian pada langkah-langkah konkret pemerintah dalam menjaga stabilitas ekonomi dan diplomasi Indonesia di tengah ancaman konflik global yang semakin nyata.

Editor : Ali Sodiqin
#konflik Iran Israel AS #prabowo subianto #Perang Dunia Ketiga