Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Serangan Gabungan AS-Israel ke Iran Memanas, Wapres Pastikan Presiden Pezeshkian Selamat, IRGC Disebut Alami Korban

Ali Sodiqin • Sabtu, 28 Februari 2026 | 23:35 WIB

Presiden Iran Masoud Pezeshkian.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian.

RADARBANYUWANGI.ID - Eskalasi konflik di Timur Tengah memasuki babak baru setelah serangan militer terkoordinasi antara Amerika Serikat dan Israel menghantam sejumlah kota strategis di Iran, termasuk ibu kota Teheran, Sabtu (28/2).

Di tengah situasi panas tersebut, Wakil Presiden Iran Mohammad Jafar Ghaempanah memastikan bahwa Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, berada dalam kondisi sehat dan tidak mengalami cedera.

“Terlepas dari serangan pengecut rezim Zionis dan Amerika Serikat selama perundingan berlangsung, Pezeshkian berada dalam kondisi kesehatan yang sepenuhnya baik,” tulis Ghaempanah melalui platform X.

Pernyataan tersebut sekaligus menjawab spekulasi mengenai kondisi para petinggi Iran setelah gelombang serangan udara dan laut menghantam sejumlah target vital.

Menteri Luar Negeri Juga Dipastikan Selamat

Selain Presiden Pezeshkian, pemerintah Iran juga memastikan bahwa Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi tidak mengalami luka dalam serangan tersebut.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Ismail Baghaei, menyatakan bahwa kondisi Araghchi dalam keadaan baik.

“Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi baik-baik saja,” kata Baghaei seperti dikutip IRNA.

Konfirmasi ini muncul di tengah laporan simpang siur terkait dampak serangan terhadap struktur pemerintahan Iran.

Sejumlah Komandan IRGC Dilaporkan Tewas

Meski para pejabat sipil utama dipastikan selamat, laporan berbeda datang dari kalangan militer.

Kantor berita Reuters mengutip sumber Iran yang menyebutkan bahwa sejumlah komandan dan pejabat tinggi dari Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) tewas dalam serangan gabungan tersebut.

Hingga kini, pemerintah Iran belum merilis secara resmi jumlah korban maupun identitas komandan yang gugur.

Namun, laporan tersebut memperkuat indikasi bahwa serangan kali ini menyasar infrastruktur dan tokoh strategis militer.

Sebelumnya, sejumlah ledakan dilaporkan terjadi di Teheran, termasuk di sekitar markas IRGC serta beberapa kawasan penting lainnya.

Situasi keamanan di ibu kota dilaporkan diperketat dengan penutupan sejumlah akses jalan menuju pusat pemerintahan.

Operasi Tempur Besar Versi Washington

Dari Washington, Presiden AS Donald Trump menyebut operasi tersebut sebagai “operasi tempur besar” yang bertujuan menghancurkan kemampuan rudal Iran.

Trump menegaskan bahwa target utama adalah fasilitas militer dan industri rudal Iran, bukan warga sipil.

Ia juga menegaskan bahwa Amerika Serikat tidak akan membiarkan Teheran mengembangkan senjata nuklir.

Beberapa hari sebelumnya, tepatnya 20 Februari, Trump sempat menyatakan tengah mempertimbangkan kemungkinan serangan terbatas terhadap Iran.

Pernyataan tersebut kini terwujud dalam bentuk operasi militer berskala luas dari udara dan laut.

Dalam beberapa pekan terakhir, Washington diketahui telah mengerahkan armada jet tempur dan kapal perang ke kawasan Timur Tengah—mobilisasi yang disebut sebagai salah satu pengerahan terbesar sejak konflik Irak.

Respons Balasan Iran ke Wilayah Israel

Tak lama setelah serangan dimulai, militer Israel mengonfirmasi bahwa Iran meluncurkan rudal ke arah wilayah utara Israel.

Sirene peringatan berbunyi di sejumlah kota, sementara sistem pertahanan udara Israel dilaporkan berhasil mencegat sebagian besar proyektil.

Pernyataan resmi militer Israel menyebutkan Angkatan Udara tengah melakukan operasi pencegatan dan siap merespons ancaman lanjutan.

Eskalasi ini menandai konfrontasi langsung yang lebih terbuka dibandingkan ketegangan sebelumnya yang lebih banyak berlangsung melalui proksi dan operasi terbatas.

Negosiasi Nuklir di Ujung Tanduk

Serangan ini terjadi saat jalur diplomasi antara Washington dan Teheran masih berlangsung, khususnya terkait program nuklir dan rudal balistik Iran. Situasi tersebut membuat masa depan negosiasi berada di bawah tekanan berat.

Hubungan kedua negara memang sudah lama diwarnai ketegangan. Delapan bulan sebelumnya, konflik bersenjata singkat selama 12 hari sempat pecah sebelum akhirnya mereda melalui tekanan internasional.

Kini, dengan keterlibatan langsung Israel dan Amerika Serikat dalam operasi militer besar, risiko konflik regional yang lebih luas semakin terbuka.

Ketidakpastian Geopolitik Global

Pengamat menilai konfrontasi ini berpotensi membawa implikasi besar terhadap stabilitas Timur Tengah dan ekonomi global, termasuk pasar energi dunia.

Jika operasi militer berlanjut dalam beberapa hari ke depan sebagaimana disinyalir pejabat Washington, maka kawasan dapat memasuki fase konflik berkepanjangan yang sulit diprediksi.

Untuk saat ini, dunia menyaksikan babak baru rivalitas tajam antara Washington, Tel Aviv, dan Teheran—sebuah perkembangan yang kembali menempatkan Timur Tengah di pusat ketidakpastian geopolitik internasional. (*)

Editor : Ali Sodiqin
#konflik timur tengah #Balasan Rudal Iran ke Israel #serangan AS Israel Iran #Pezeshkian #perang teluk