RADARBANYUWANGI.ID - Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, mengambil langkah tidak biasa dengan turun langsung ke jalan dan bergabung bersama peserta aksi demonstrasi pro-pemerintah di Teheran, Senin (12/1/2026) waktu setempat.
Kehadiran kepala negara ini terjadi di tengah krisis ekonomi berat yang mendorong gelombang protes nasional dan meningkatkan tekanan terhadap pemerintahan Iran.
Langkah Pezeshkian dipandang sebagai sinyal politik bahwa pemerintah mulai melunak dalam merespons tuntutan publik, terutama terkait stabilitas ekonomi dan daya beli masyarakat yang terus merosot.
Komitmen Pemerintah di Tengah Tekanan Publik
Di hadapan massa, Presiden Pezeshkian menyatakan komitmennya untuk segera memperbaiki kondisi ekonomi Iran yang saat ini berada dalam situasi terburuk selama beberapa dekade.
Ia mengakui bahwa inflasi tinggi dan anjloknya nilai mata uang rial telah memberatkan kehidupan rakyat.
Presiden Iran berjanji akan bekerja sama dengan jajaran menteri untuk mengendalikan inflasi serta menstabilkan nilai tukar, yang selama ini menjadi pemicu utama keresahan sosial.
Nilai Tukar Rial Anjlok Lebih dari 2.280 Persen
Krisis ekonomi Iran ditandai dengan kejatuhan ekstrem nilai tukar rial terhadap dolar Amerika Serikat.
Berdasarkan data terbaru, nilai tukar rial kini berada di kisaran IRR 1.000.010 per 1 dolar AS, merosot tajam dari posisi IRR 42.000 per dolar AS pada Oktober tahun lalu.
Secara year to date (ytd), pelemahan ini setara dengan 2.280,98 persen, menjadikan rial sebagai salah satu mata uang dengan depresiasi terdalam di dunia.
Dampaknya langsung terasa pada harga barang impor, termasuk pangan, obat-obatan, dan kebutuhan medis, yang melonjak tajam dan mendorong inflasi point-to-point mencapai 52,6 persen sejak Oktober 2024.
Gelombang Protes Meluas Meski Internet Dipadamkan
Tekanan ekonomi yang semakin menghimpit memicu aksi protes anti-pemerintah di berbagai wilayah Iran sejak akhir Desember 2025.
Demonstrasi terjadi di hampir seluruh provinsi, disertai bentrokan dengan aparat keamanan dan insiden kebakaran di sejumlah lokasi.
Pemerintah merespons dengan pengetatan penindakan dan pemadaman internet sejak Kamis (8/1/2026).
Namun, langkah tersebut dinilai tidak efektif.
Berbagai video menunjukkan ribuan warga tetap turun ke jalan di Teheran hingga akhir pekan.
Faktor Ekonomi dan Politik Memperparah Krisis
Menurut para analis, pelemahan rial tidak hanya disebabkan faktor domestik, tetapi juga tekanan eksternal.
Sanksi internasional terkait program nuklir Iran membatasi ekspor minyak dan akses terhadap sistem keuangan global, sehingga menghambat masuknya devisa.
Ekonom Mohammad Kohandal menilai stabilitas nilai tukar sulit tercapai selama inflasi tetap menjadi masalah kronis.
Tingginya inflasi mendorong masyarakat dan pelaku usaha memborong dolar AS dan emas sebagai bentuk perlindungan aset, yang justru semakin menekan rial.
Selain itu, ketidakpastian politik dan keamanan regional, termasuk potensi eskalasi dengan Israel dan mandeknya diplomasi nuklir, memperburuk sentimen pasar serta mempercepat aksi jual mata uang nasional.
Rial “Nol” terhadap Euro dan Isolasi Finansial
Situasi semakin genting ketika laporan menyebut rial praktis tidak lagi bernilai terhadap euro dan tidak dapat ditukarkan di negara-negara Uni Eropa.
Kondisi ini mencerminkan isolasi Iran dari sistem keuangan global yang semakin dalam.
Meski demikian, para ahli menegaskan bahwa mata uang suatu negara tidak benar-benar bernilai nol selama negara tersebut masih berfungsi.
Yang terjadi di Iran lebih mencerminkan depresiasi ekstrem dan runtuhnya daya beli.
Redenominasi Bukan Solusi Jangka Panjang
Pada Oktober 2025, parlemen Iran menyetujui rencana penghapusan empat nol dari mata uang rial.
Kebijakan ini dirancang melalui masa transisi hingga lima tahun.
Namun, para analis menilai langkah tersebut hanya bersifat administratif dan tidak menyentuh akar persoalan ekonomi, seperti inflasi tinggi, pertumbuhan ekonomi yang lemah, dan keterbatasan akses valuta asing.
Sepanjang 2025, PDB Iran tercatat menyusut 1,7 persen dan diperkirakan kembali terkontraksi pada 2026, mempersempit ruang fiskal pemerintah di tengah tekanan sosial yang meningkat.
Tekanan Internasional dan Risiko Eskalasi
Dari Washington, Presiden AS Donald Trump menyatakan dukungan terhadap para demonstran Iran dan memperingatkan Teheran agar tidak meningkatkan kekerasan terhadap warga.
Ia juga menyinggung kemungkinan sanksi dan tarif tambahan, yang berpotensi menambah tekanan ekonomi Iran di kancah internasional.
Dengan lebih dari 600 aksi protes, ratusan korban jiwa, dan ribuan penahanan, Iran kini berada di persimpangan krusial antara stabilitas politik dan reformasi ekonomi yang semakin mendesak.
Editor : Lugas Rumpakaadi