Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Israel dan Somaliland Jalin Hubungan Diplomatik Penuh, Somalia Menolak

Lugas Rumpakaadi • Sabtu, 27 Desember 2025 | 16:03 WIB
Israel resmi mengakui Somaliland sebagai negara merdeka.
Israel resmi mengakui Somaliland sebagai negara merdeka.

RADARBANYUWANGI.ID - Israel mencatat sejarah diplomatik baru dengan menjadi negara pertama di dunia yang secara resmi mengakui Somaliland sebagai negara merdeka dan berdaulat.

Keputusan ini menandai titik balik penting bagi wilayah pecahan Somalia tersebut, yang selama lebih dari tiga dekade berjuang keluar dari isolasi internasional tanpa pengakuan formal dari negara anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Pengumuman pengakuan itu disampaikan langsung oleh Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu.

Ia menyatakan bahwa Israel dan Somaliland telah menandatangani deklarasi bersama untuk membangun hubungan diplomatik penuh, termasuk pembukaan kedutaan besar serta penunjukan duta besar di masing-masing negara.

Netanyahu menegaskan bahwa kerja sama akan segera diperluas ke berbagai sektor strategis, seperti pertanian, kesehatan, teknologi, dan ekonomi.

Bagi Somaliland, langkah ini dipandang sebagai pencapaian bersejarah. Presiden Somaliland, Abdirahman Mohamed Abdullahi, menyebut pengakuan Israel sebagai “momen bersejarah” yang membuka jalan bagi kemitraan strategis jangka panjang.

Ia juga menyatakan kesiapan Somaliland untuk bergabung dalam Abraham Accords, sebuah kerangka kerja sama yang bertujuan menormalisasi hubungan Israel dengan negara-negara di Timur Tengah dan sekitarnya.

Somaliland menegaskan komitmennya untuk membangun kemitraan internasional yang saling menguntungkan, meningkatkan kesejahteraan bersama, serta mendorong stabilitas kawasan di Timur Tengah dan Afrika.

Secara geografis, wilayah ini memiliki posisi strategis di Teluk Aden, jalur pelayaran penting bagi perdagangan global.

Sejak memproklamasikan kemerdekaan pada 1991, Somaliland telah mengelola pemerintahannya sendiri, memiliki mata uang, paspor, parlemen, dan aparat keamanan, serta relatif stabil dibandingkan wilayah lain di Somalia.

Namun, langkah Israel ini menuai penolakan keras dari pemerintah Somalia.

Perdana Menteri Somalia, Hamza Abdi Barre, menyebut pengakuan tersebut sebagai serangan langsung terhadap kedaulatan dan keutuhan wilayah Somalia.

Pemerintah di Mogadishu menegaskan bahwa Somaliland merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Somalia dan menyatakan akan menempuh berbagai jalur diplomatik, politik, dan hukum untuk mempertahankan kedaulatannya sesuai hukum internasional.

Penolakan juga datang dari sejumlah negara kawasan. Menteri luar negeri Somalia, Mesir, Turki, dan Djibouti mengeluarkan pernyataan bersama yang menegaskan “penolakan total” terhadap keputusan Israel.

Keempat negara tersebut menilai pengakuan atas wilayah yang memisahkan diri dari negara berdaulat dapat menciptakan preseden berbahaya dalam hukum internasional dan bertentangan dengan Piagam PBB.

Mereka juga memperingatkan bahwa langkah sepihak semacam ini berpotensi merusak stabilitas regional dan menciptakan entitas paralel yang melemahkan institusi negara.

Uni Afrika turut menyuarakan penolakan, dengan menegaskan kembali komitmennya terhadap persatuan, kedaulatan, dan keutuhan wilayah Somalia.

Organisasi tersebut menilai bahwa pengakuan terhadap Somaliland berisiko mengganggu perdamaian dan stabilitas di kawasan Tanduk Afrika.

Di sisi lain, pengakuan Israel diperkirakan dapat mendorong negara lain untuk mempertimbangkan langkah serupa.

Somaliland berharap legitimasi diplomatik ini akan meningkatkan aksesnya ke pasar internasional serta memperkuat posisi tawarnya dalam hubungan regional.

Selama beberapa tahun terakhir, wilayah ini memang aktif membangun hubungan informal dengan sejumlah pihak, termasuk Uni Emirat Arab dan Taiwan, sebagai bagian dari upaya memperoleh pengakuan internasional.

Keputusan Israel juga tidak lepas dari dinamika geopolitik yang lebih luas.

Israel selama ini berupaya memperluas jejaring diplomatik di Timur Tengah dan Afrika, meskipun konflik berkepanjangan, termasuk perang di Gaza dan ketegangan dengan Iran, kerap menjadi hambatan.

Dengan mengaitkan pengakuan Somaliland pada semangat Abraham Accords, Israel menegaskan ambisinya untuk memainkan peran strategis dalam pembentukan arsitektur keamanan dan kerja sama regional.

Meski demikian, para pengamat menilai dampak jangka panjang dari pengakuan ini masih belum pasti.

Di satu sisi, langkah Israel dapat memperkuat aspirasi Somaliland dan memberi contoh bahwa pengakuan internasional dapat bersifat transaksional dan berbasis kepentingan strategis.

Di sisi lain, hal ini berpotensi memperumit situasi politik Somalia yang sudah terfragmentasi dan memicu ketegangan baru di kawasan.

Dengan segala pro dan kontra yang menyertainya, pengakuan Israel atas Somaliland menjadi babak baru dalam dinamika politik Afrika Timur dan Timur Tengah.

Dunia internasional kini menanti apakah langkah ini akan diikuti oleh negara lain atau justru mempertegas perpecahan dalam tatanan regional dan global.

Editor : Lugas Rumpakaadi
#Israel #Somaliland #somalia