Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Tunggu Jadwal Pulang, Jemaah Haji Ziarah ke Makam Mbah Moen di Jannatul Ma’la

Dedy Jumhardiyanto • Senin, 17 Juli 2023 | 01:00 WIB
ZIARAH: Jemaah haji dari Banyuwangi mengunjungi kompleks pemakaman Ma’la, Jumat (14/7).
ZIARAH: Jemaah haji dari Banyuwangi mengunjungi kompleks pemakaman Ma’la, Jumat (14/7).

MAKKAH, Jawa Pos Radar Banyuwangi – Jemaah haji Banyuwangi yang sedang berada di Makkah menyempatkan diri berziarah ke pemakaman Ma’la, Jumat (14/7).

Pemakaman Jannatul Ma’la merupakan lokasi pemakaman kuno, yang sudah ada sejak Rasulullah belum lahir.

Hingga kini, pemakaman itu masih menjadi tempat memakamkan jenazah muslim yang meninggal dunia di Makkah. Beberapa keluarga Rasulullah yang dikebumikan di Ma’la di antaranya Sayyidah Khadijah (istri Rasulullah), Aminah (ibu), Qasim dan Abdullah (anak), Abu Thalib (paman), dan Abdul Muthalib (kakek).

Sementara itu, ulama Indonesia yang dikuburkan di pemakaman Ma’la di antaranya yakni Syekh Nawawi Al Bantani, KH Sufyan Miftahul Arifin Situbondo, dan KH Maimoen Zubair (Mbah Moen) yang meninggal pada musim haji tahun 2019 lalu.

Bagi jemaah haji asal Indonesia, makam ini semakin dikenal sejak meninggalnya Mbah Moen. Banyak orang Indonesia yang menyempatkan diri untuk berziarah ke pemakaman Ma’la. Apalagi, lokasinya sangat dekat dengan Masjidilharam. 

”Kalau dari Masjidilharam, pemakaman ini hanya berjarak sekitar 1,5 kilometer. Sehingga, dapat ditempuh dengan jalan kaki dan dapat diakses dengan mudah dari terminal bus Syib Amir,” ujar Kunti Maulidatas Safroh, jemaah haji asal Banyuwangi.

Di depan pemakaman Ma’la, terdapat jalan besar dengan trotoar lebar yang nyaman bagi pejalan kaki. Lokasi kompleks pemakaman Ma’la dikelilingi pagar tembok tinggi. Pada bagian tengah terdapat lubang sehingga makam di dalamnya bisa dengan mudah dilihat.

Pada pintu gerbang terdapat pos keamanan. Namun, petugas pos jaga itu membiarkan peziarah masuk. Bahkan, saat berada di dalam kompleks pemakaman, disediakan kendaraan beserta sopirnya yang akan mengantar pengunjung berkeliling makam.

Ma’la dibagi beberapa blok yang dibatasi dengan pagar berwarna putih. Nisan dari batu tak bernama berjajar rapi dari ujung ke ujung. Selebihnya, tanah berpasir meratakan seluruh kawasan. Kawanan merpati beterbangan dari satu area ke area lainnya. 

Begitu juga dengan makam Mbah Moen yang berada di kompleks 70, deret 151, tepatnya pada baris keempat. Sebagai penanda, sebuah batu berukuran sedang bertuliskan KH Maimoen Zubair.

”Kebetulan lokasi makam tidak terlalu jauh dari lokasi hotel, dan jemaah asal Indonesia silih berganti berziarah ke makam,” terang Kunti.

Kompleks pemakaman itu disebut Ma’la yang dalam bahasa Arab berarti tanah yang tinggi. Lokasi makam ini memang berada di kaki bukit Al-Hujun. Dari pemakaman tersebut, bukit batu cadas menjadi pembatas. Di atasnya bangunan bertingkat yang terlihat seperti permukiman.

”Setelah dari pemakaman Ma’la, kami juga akan mengunjungi Masjid Jin yang lokasinya tidak jauh dari sini,” tandas Kunti. (ddy/bay/c1)

Editor : Ali Sodiqin
#pemakaman #haji #Ma’la