Harga besi tua yang hanya laku Rp 3.000 per kilogram di masa pandemi, kini berangsur naik dengan harga Rp 6.500 per kilogram. “Harga barang-barang rongsokan relatif stabil, kini malah naik,” kata Wagianto, 31, pelaku usaha rongsokan asal Dusun Tugung, Desa/Kecamatan Sempu.
Tidak hanya besi tua saja yang mengalami kenaikan, harga kardus dan botol bekas juga mengalami kenaikan. Saat ini, kardus bekas menjadi barang rongsokan yang paling cepat laku. “Kardus sekarang Rp 3.000 per kilogram, saat pandemic hanya laku Rp 1.000 per kilogram,” terangnya kepada Jawa Pos Radar Genteng.
Untuk botol dan ember bekas, lanjut dia, saat ini naik menjadi Rp 2.500 per kilogram. Barang rongsokan jenis ini, saat pandemi hanya Rp 2.000 per kilogram. “Dulu malah sempat menyentuh Rp 1.500 per kilogram, waktu awal-awal korona,” cetusnya.
Saat awal pandemi, jelas dia, harga barang rongsokan sempat anjlok hingga membuat pelaku usaha banyak yang gulung tikar. Pabrik yang biasa menampung barang rongsokan, tutup karena merebaknya virus korona. “Melandainya virus korona membuat kerjaan kita bangkit lagi,” terang Muhammad, 51, salah satu pemulung asal Dusun Wadungdolah, Desa Kaligondo, Kecamatan Genteng.
Tingginya penyebaran Covid-19, sempat membuat para pencari rongsokan yang keliling dari rumah ke rumah kesulitan. Sebab, ada aturan Peraturan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM). “Carinya susah, stok di gudang juga menumpuk karena gudang yang lebih besar tutup,” jelasnya.
Dan itu, lanjut dia, membuat harga barang rongsokan anjlok di pasaran hingga harga kardus per kilogramnya hanya laku Rp 1.000. Sedangkan harga besi, hanya Rp 3.500 per kilogram. “Saat itu harga barang rongsokan sangat murah,” pungkasnya.(sas/abi) Editor : Agus Baihaqi