RadarBanyuwangi.id – Kecelakaan laut yang menimpa para nelayan yang naik Kapal Motor (KM) Bintang Sonar di perairan Tanjung Bantengan, wilayah Pantai Plengkung, Taman Nasional (TN) Alas Purwo, Desa Kalipait, Kecamatan Tegaldlimo pada Senin (2/8) lalu, tidak membuat nyali para nelayan yang tinggal di pesisir Laut Selatan ciut.
Itu seperti para nelayan di Pantai Pancer, Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran yang tetap melaut, meski saat ini ombak cukup tinggi dengan angin kencang dan turun hujan. “Kita masih tetap mencari ikan seperti biasa,” terang Effendi, 33, salah satu nelayan Pancer, Desa Sumberagung.
Efendi mengaku telah mendengar kecelakaan laut yang menimpa para nelayan asal Muncar di Laut Selatan wilayah Pantai Plengkung. Hanya saja, itu tidak membuat para nelayan takut melaut. “Saat ini cuaca memang tidak baik,” katanya.
Menurut Effendi, para nelayan yang ada di Pantai Pancer, masih tetap bekerja seperti biasa. Hanya saja, hasil tangkapan tidak memuaskan. “Tangkapan sedikit, mungkin masuk Agustus, ikannya sedikit,” katanya.
Koordinator Instalasi Pelabuhan Perikanan Pantai (IP3) Pancer, Desa Sumberagung, Heru Prasetyo mengatakan saat terjadi kecelakaan yang dialami KM Bintang Sonar, cuaca di Laut Selatan memang kurang bersahabat. Angin dan gelombang relatif tinggi, tapi belum sampai pada tahap ekstrim. “Cuaca memang buruk,” ujarnya.
Kecelakaan para nelayan Muncar itu, terang dia, tidak mempengaruhi n nelayan di Pancer. Mereka tetap melaut meski dalam beberapa hari terakhir cuaca kurang bersahabat. “Nelayan normal-normal saja,” jelasnya.
Menurut Heru, kapal nelayan Muncar yang mengalami kecelakaan itu dengan spesifikasi kapal pemburu ikan yang digunakan nelayan Pancer, itu sangat berbeda. Kapal milik nelayan Muncar dengan lambung besar, atau purseseine atau lebih dikenal dengan slerek, sebenarnya lebih tepat untuk mencari ikan di perairan Selat Bali dengan kondisi ombak yang lebih tenang dan bekerja lebih dari sehari. “Kalau di Laut Selatan yang cocok itu kapal yang ramping atau sekoci yang lebih tepat. Kapal besar sulit memecah ombak,” ungkapnya.
Keputusan para nelayan memilih tetap melaut, lanjut dia, juga dipengaruhi factor safety (keselamatan) yang mereka miliki. Saat ini, kesadaran nelayan untuk melengkapi diri dengan pelampung sudah semakin baik. Bagi nelayan yang melaut hingga beberapa hari, semua sudah sadar dengan mengenakan pelampung, tapi bagi nelayan yang melaut harian, yang sadar sekitar 70 persen. “Kalau yang multidays (berhari-hari) sudah 100 persen, yang one day fishing masih sekitar 70 persen,” ungkapnya.(sli/abi)
Editor : Ali Sodiqin