RadarBanyuwangi.id - Kebutuhan protein hewani baik daging maupun telur, saat ini terus meningkat. Namun, potensi telur dan daging bebek terbilang kurang dilirik. Padahal, potensi ekonominya cukup menjanjikan.
Salah satu peternak bebek, Mad Effendi, 60, warga Dusun Sukomukti, Desa Sukorejo, Kecamatan Bangorejo, mengungkapkan saat ini harga telur bebek Rp. 2.000 per biji. Sedangkan daging bebek paling rendah kisaran Rp. 22 ribu per kilogram. Permintaan bebek cukup tinggi, namun penyedia di Banyuwangi masih kurang. “Yang punya bebek sedikit, saya saja ini telur untuk penetasan beli dari orang,” jelasnya.
Untuk pembesaran bebek, terang dia, hanya memerlukan waktu selama 40 hari. Untuk kebutuhan bebek 1.000 ekor, dalam pembesaran ini dibutuhkan biaya Rp 18 juta. Dengan rincian, jelas dia, untuk bibit bebek jantan Rp. 6.500 per ekor, bibit bebek betina Rp. 7.500 per ekor. “Jadi untuk bibit saja habis Rp 6.5 hingga Rp 7.5 juta,” terangnya.
Sedangkan pakan yang diperlukan selama 40 hari untuk 1.000 ekor bebek, jelas dia, 35 sak sentrat dengan harga persaknya sekitar Rp. 302 ribu, atau Rp. 10.57 juta untuk 35 sak. “Jadi modal untuk bibit dan pakan sekitar Rp 18 juta,” jelasnya.
Jika kondisi baik, masih kata dia, satu ekor bebek memiliki berat rata-rata 1 kilogram lebih dengan harga Rp 22 ribu per kilogram. Sehingga jika dihitung sederhana, 1.000 ekor dikalikan Rp. 22 ribu akan menghasilkan Rp. 22 juta. “Masih untung,” jelasnya.
Untuk bebek petelur, harga rata-rata bebek itu Rp 75 ribu per ekor. Dengan perawatan yang cukup, maka hanya diperlukan waktu dua bulan untuk kembali modal. Sedangakan masa telur bebek bisa bertahan hingga dua tahun. “Kalau telur, modalnya agak besar, tapi dua bulan modal balik,” ungkapnya.
Permintaan telur dari pasar Bali cukup besar. Sehingga, kebutuhan telur maupun daging bebek masih cukup terbuka untuk dikembangkan. Di Banyuwangi, peternak yang fokus pada dua komoditi ini masih belum banyak. “Kalau ada peternak lagi, masih sangat mungkin,” katanya.(si/abi)
Editor : Ali Sodiqin