RadarBanyuwangi.id – Furniture dan mebeler kuno dan antik, saat ini tengah menjadi buruan. Tidak hanya digandrungi para kolektor, masyarakat umum juga banyak yang meminati untuk kelengkapan rumah maupun di tempat usahanya.
Di wilayah Kabupaten Banyuwangi, saat ini pedagang barang antik belum banyak. Tapi, menjadi pasar potensial. Hal itu disampaukan Yoyo Oyong, 45, kolektor dan pedagang furniture kuno yang tinggal di Dusun Krajan, Desa Kalibaru Wetan, Kecamatan Kalibaru. “Banyuwangi berdekatan dengan Bali, dan pariwisata yang terus tumbuh menjadi faktor penting dalam bisnis ini,” katanya.
Hanya saja, terang dia, para pembeli yang datang ke tempatnya masih didominasi warga dari luar daerah. Sedang warga lokal, masih jarang. “Warga Banyuwangi ada, tapi sangat kecil, yang banyak dari luar daerah,” cetusnya.
Oyong menyampaikan terkait barang antic di rumahnya itu cukup terjangkau. Satu item interior kuno, ada yang dijual dengan harga Rp. 50 ribu. Untuk mebeler, seperti meja kursi atau lemari, dijual mulai Rp. 200 ribuan. Menyesuaikan nilai kunonya, yang harganya ratusan juta juga ada,” ungkapnya.
Menurut Oyong, potensi bisnis ini masih besar. Furniture dan interiror yang dimiliki rumah tangga di Banyuwangi, masih banyak yang potensial untuk dijadikan barang antik. Apalagi, di Kota Gandrung ini memiliki kultur beragam, mulai dari masyarakat Osing, perkebunan, dan Matraman. Sehingga, persediaan barang-barang itu melimpah. “Lemari-lemari kolonial pasti banyak yang punya, cuma dirawat atau tidak,” jelasnya.
Oyong berharap para pelaku usaha bisa menerapkan harga yang pantas dan masuk akal. Sehingga, barang-barang dari Banyuwangi bisa berputar di Banyuwangi. Apalagi, saat ini bermunculan kafe-kafe yang mengusung konsep kuno. “Sebenarnya bisa berputar di sini, kalau mau bisa,” ungkapnya.(sli/abi)
Editor : Ali Sodiqin