Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

40 Siswa SMPN 1 Gambiran Terjaring Razia

Rahman Bayu Saksono • Sabtu, 27 Januari 2018 | 01:15 WIB
40-siswa-smpn-1-gambiran-terjaring-razia
40-siswa-smpn-1-gambiran-terjaring-razia

GAMBIRAN - Sebanyak 40 siswa dari SMPN 1 Gambiran, terjaring razia yang dilakukan anggota Unit Lantas Polsek Gambiran, kemarin pagi (25/1). Para sis­wa yang masih di bawah umur itu, ditangkap polisi karena ke sekolah mengendarai motor.


Para siswa yang naik motor saat berangkat ke sekolah itu, semuanya tidak memiliki SIM. Selain itu, juga ada yang tidak membawa kelengkapan seperti helm dan STNK. “Siswa SMP tidak boleh naik motor, karena masih di bawah umur,” terang Kanitlantas Ipda Nanang Wardhana.


Dalam operasi yang dilakukan di jalan simpang tiga Desa Yosomulyo, Kecamatan Gambiran, dan di jalan tikungan menuju ke SMAN 1 Gambiran di Desa Wringinagung, Kecamatan Gambiran, semua motor yang dibawa para siswa SMPN 1 Gambiran diamankan. “Semua motor kita bawa ke polsek,” katanya.


Kanitlantas menyebut saat terjaring razia itu semua siswa sempat dibawa ke polsek. Tapi, mereka kemudian diantar ke sekolah untuk mengikuti pelajaran. “Motor hanya bisa diambil oleh orang tuanya,” cetusnya. 


Sejumlah orang tuanya yang anaknya terjaring razia, akhirnya berdatangan ke polsek untuk mengambil motornya. Sebelum mengambil motor, para orang tua itu sempat dikumpulkan untuk diberi pengarahan. “Kita minta pada orang tua tidak memberi izin anaknya naik motor di jalan raya,” katanya. 


Dari data yang ada di kepolisian, terang dia, kecelakaan yang dialami anak-anak di bawah umur cukup banyak. Tapi anehnya, para siswa yang masih sekolah di SMP malah banyak yang naik motor sendiri saat ke sekolah. “Anak-anak malah banyak yang bermotor sendiri, mereka tidak lengkap pula,” ujarnya.


Anak usia SMP, jelas dia, selain belum layak untuk mendapatkan SIM, mereka secara fisik dan mental juga masih belum siap. “Kakinya belum sampai, masih suka bercanda di jalan, ini tentu bahaya,” dalihnya.


Untuk mengurangi risiko ini, pihaknya meminta pada para orang tua memiliki komitmen agar menjaga dan mengawasi anak-anaknya. Dia juga meminta agar orang tua meluangkan waktu untuk mengantar anaknya berangkat ke sekolah. “Apa beratnya mengantar anak ke sekolah, kan itu akan lebih baik,” ucapnya.


Upaya penertiban yang dilakukan ini, diharapkan juga mendapat dukungan dari kalangan pendidikan. Sehingga, penertiban yang dilakukan kepolisian dan upaya orang tua bisa saling sinergis. “Mestinya sekolahan juga melakukan regulasi yang jelas,” katanya. (*)

Editor : Rahman Bayu Saksono