Seni lukis bakar di Banyuwangi belum banyak diketahui. Salah satu perajinnya adalah Fauzan Sobri, warga Dusun Kedungsari, Desa Gintangan, Kecamatan Blimbingsari.
Bahan lukisan tersebut juga sangat mudah, yakni hanya berbekal papan tripleks yang banyak dijual di pasaran.
Jika menginginkan hasil dan kualitas lebih bagus, bahannya bisa berupa papan kayu jati belanda. Pada intinya dalam lukisan bakar tersebut bahan dasar adalah tripleks atau kayu yang permukaannya jelas, bersih berwarna putih kecokelatan.
Bukan yang berwarna gelap karena lukisan bakar tersebut hanya ada dua warna saja, yakni warna dasar putih dan bagian yang dibakar tentu warnanya cokelat tua.
”Awalnya saya tidak sengaja setelah melihat karya seni lukis di Bandung dengan menggunakan solder. Setelah saya amati kok tidak terlalu ribet, akhirnya saya coba. Kemudian saya tiru dengan membuat alat serupa yang saya dimodifikasi khusus sesuai kebutuhan untuk menggores papan dan akhirnya bisa,” ungkap Sobri.
Alat gores atau pena yang digunakan melukis adalah adalah phyrograph. Sayangnya, alat tersebut harganya juga cukup mahal. Sobri pun terpaksa memodifikasi sendiri. Dia meminta salah seorang temannya Harianto alias Totok untuk membuat peralatan serupa phyrograph yang dibuat dari solder.
Awal mengerjakan dia tidak langsung melukis, melainkan membuat gantungan kunci dengan berbahan kayu pinus cerah. Perlahan namun pasti, Sobri kemudian mengembangkan dengan membuat lukisan bakar.
Kali pertama dia melukis dengan menggambar figur KH Hasyim Asyari. Bermula melukis foto figur pendiri NU itulah dia mulai menemukan titik terang dan berhasil melukis dengan lancar. Dia juga mulai menyempurnakan karyanya hingga berhasil melukis KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Presiden Soekarno, dan Bupati Abdullah Azwar Anas.
Selain lukisan figur tersebut, Sobri juga mengembangkan dengan membuat kaligrafi yang juga dari lukisan bakar berbahan tripleks dan kayu jati belanda. Agar tampak lebih sempurna, lukisan yang baru digores dipercantik dengan pernis agar tampak lebih mengilap.
Lukisan yang sudah jadi dibanderol dengan harga mulai Rp 50 ribu sampai Rp750 ribu tergantung besar dan kecilnya ukuran. ”Semakin besar makin mahal, karena bahannya kayu jati belanda. Kalau tingkat kesulitannya nyaris tidak ada, karena sama saja,” ungkap bapak satu anak ini.
Sebelum merintis usaha lukisan bakar, Sobri adalah mantan Tenaga Kerja Indonesia (TKI). Sejak tahun 2011-2016, Sobri bekerja sebagai koki katering haji dan umrah di Jeddah- Makkah. Baru pada awal tahun 2016 lalu, dia memutuskan pulang ke Tanah Air setelah mendapatkan kabar jika ibunya, Hadisah, sakit.
Sepulangnya bekerja sebagai pahlawan devisa di Arab Saudi, Sobri sempat pontang-panting merintis usaha mulai menanam kakao, singkong, jagung, hingga usaha budi daya jamur tiram. Tapi semuanya tidak berhasil.
Baru pada awal Mei 2018 lalu, dia mulai mengembangkan lukisan bakar tersebut, tepatnya awal bulan Ramadan lalu. Hasilnya, kini pesanan lukisan bakar sudah merambah ke sejumlah daerah mulai dari Banyuwangi, Jember, dan juga luar daerah seperti Lombok dan Bontang, Kalimantan Timur. ”Pemasarannya sementara ini masih saya jual melalui media sosial. Kemarin juga sudah mulai dipesan untuk dikirim ke Belanda,” ujar suami Yulia Sulasmi ini. (aif/c1)
Editor : Niklaas Andries