MUNCAR, Jawa Pos Radar Genteng – Musim kemarau panjang dengan panas yang menyengat, menjadi tantangan besar bagi para petani. Meski kepala terasa berat karena panas, mereka harus berani menghadapi terik matahari itu di tengah sawahnya.
Panas yang menyengat kerap membuat fisik petani diuji. Ada yang mengaku mengalami pusing saat terlalu lama berada di tengah sawah. “Panasnya berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, ini bikin pusing,” ungkap Suryatmi, 46, warga Dusun Palurejo, Desa Tembokrejo, Kecamatan Muncar, Rabu (18/10).
Yatmi mengaku biasa memulai pekerjaan saat matahari mulai muncul di langit hingga matahari berada di atas kepala. “Setelah sarapan, pukul 06.00 atau 07.00, sudah mulai menggarap sawah. Lalu istirahat menjelang pukul 10.00,” cetusnya.
Saat cuaca tidak begitu panas, Yatmi biasanya masih sanggup untuk bekerja di sawah hingga menjelang pukul 11.00. “Beberapa bulan ini cuacanya sangat panas, bisa sakit kalau dipaksakan bekerja sampai tengah hari,” katanya.
Di bawah terik matahari yang membakar kulit, kebutuhan akan air sangat besar agar tidak dehidrasi. Ia membawa air putih dari rumah. “Waktu istirahat biasanya baru minum,” katanya.
Plt Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Banyuwangi, Amir Hidayat menyarankan para pekerja yang beraktivitas di bawah terik matahari untuk sering mengonsumsi air putih, setidaknya dua liter per hari. “Agar tidak dehidrasi,” katanya.
Adapun beberapa gejala dehidrasi, terang dia, seperti pusing, lelah, sakit kepala, kulit kering, dan bibir pecah-pecah. “Tetap jaga kesehatan, meski bekerja di bawah panas matahari dalam waktu yang cukup lama,” pintanya.
Prakirawan BMKG Banyuwangi, Reski Prasetyo memperkirakan, kemarau tahun ini akan terjadi lebih panjang akibat fenomena El Nino yang sedang melanda Indonesia. “Hujan baru akan turun pada akhir November,” ujarnya.
Selama musim kemarau, Reski mengimbau masyarakat untuk memakai topi, jaket, atau payung yang bisa melindungi diri dari paparan matahari saat beraktivitas di luar rumah. “Jangan lupa minum agar terhindar dari dehidrasi,” pungkasnya.(gas/abi)
Editor : Agus Baihaqi