Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Film Legenda Kelam Malin Kundang Bikin Merinding! Adaptasi Paling Gelap Dongeng Nusantara Tayang 27 November 2025

Tim Redaksi Radar Banyuwangi • Minggu, 23 November 2025 | 15:00 WIB
Legenda Kelam Malin Kundang (2025)
Legenda Kelam Malin Kundang (2025)

RADARBANYUWANGI.ID - Siapa sangka, kisah Malin Kundang yang sudah begitu dikenal sejak kecil kini diangkat menjadi film dengan pendekatan yang jauh dari dongeng biasa. Melalui sentuhan misteri, thriller, dan elemen psikologis, film ini siap mengguncang bioskop Indonesia pada 27 November mendatang.

Menghidupkan Warisan Lewat Layar Lebar  

Dibalik proyek ini berdiri nama-nama kreatif kenamaan, seperti Joko Anwar dan Tia Hasibuan sebagai produser, serta duo sutradara muda Kevin Rahardjo dan Rafli Hidayat yang dipercaya mengarahkan. Come and See Pictures, rumah produksi yang dikenal kerap menciptakan karya-karya berani, menjadi pihak di balik layar proyek ini.

Bukan hanya sekadar mengadaptasi legenda, film ini bertujuan sebagai bentuk pelestarian budaya. Bagi para kreatornya, cerita rakyat seperti Malin Kundang memiliki nilai moral dan sejarah yang sayang bila dilupakan. Lewat film ini, mereka berharap generasi muda bisa kembali akrab dan bahkan berpikir ulang tentang makna dan pesan dari kisah-kisah lama.

Pendekatan Cerita yang Berbeda

Yang membedakan film ini dari adaptasi lainnya adalah pendekatan naratifnya. Alih-alih menyajikan versi dongeng yang lurus dan penuh imajinasi, film ini memilih jalur psikologis di mana konflik, trauma keluarga, dan rasa bersalah menjadi benang merah cerita. Ini bukan tentang seorang anak jadi batu karena dikutuk ibunya, tapi tentang seorang pemuda yang dibayangi oleh “kutukan” masa lalu, rasa durhaka, dan tekanan sosial.

Elemen horor yang dihadirkan bukan berasal dari hantu atau makhluk gaib semata, melainkan dari ketakutan yang terasa nyata, mulai dari penyesalan, hubungan ibu-anak yang retak, dan tekanan hidup. Dalam suasana serba gelap dan penuh simbolisme, penonton diajak menyelami psikologi karakter utama yang perlahan-lahan kehilangan kendali atas realitas.

Untuk Generasi Z dan Alpha  

Menariknya, film ini memang ditujukan secara khusus untuk Gen Z dan Alpha. Generasi ini dikenal kritis, visual, dan menginginkan cerita yang dekat dengan kenyataan mereka. Oleh karena itu, pengolahan visual, naskah, dan latar cerita disesuaikan agar tetap relatable.

Dalam film ini, Malin bukan sekadar anak durhaka, tapi juga potret anak muda yang dibesarkan dalam tekanan ekspektasi, kehilangan arah, dan mencari jati diri. Cerita rakyat hanya menjadi bingkai, isi ceritanya penuh dengan realita sosial yang bisa ditemukan dalam kehidupan sehari-hari.

Visual, Musik, dan Produksi yang Matang  

Dari segi teknis, film ini menjanjikan pengalaman sinematik yang kuat. Desain produksi mengambil lokasi yang merepresentasikan kampung nelayan modern namun tetap menyimpan nuansa mistis. Warna-warna gelap, pencahayaan minim, serta scoring intens membuat atmosfer film semakin menegangkan.

Musik digarap oleh komposer muda yang terinspirasi dari instrumen tradisional namun diolah dengan pendekatan elektronik. Hal ini semakin mempertegas identitas film: modern namun menghormati akar budaya.

Harapan untuk Cerita Rakyat Indonesia  

Film ini tidak hanya ingin menghibur, tetapi juga membuka percakapan. Tentang bagaimana generasi sekarang melihat masa lalu. Tentang bagaimana dongeng bisa hidup kembali, bukan dengan cara lama, tapi lewat pendekatan yang dekat dengan zaman.

Dengan langkah berani ini, Come and See Pictures dan tim kreatifnya membuka jalan untuk adaptasi cerita rakyat lainnya yang lebih modern, relevan, dan berani menggali sisi terdalam dari karakter dan nilai budaya kita.

Legenda Malin Kundang bukan sekadar tentang kutukan seorang ibu, tapi tentang luka yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Melalui film ini, penonton diajak untuk bertanya apakah benar hanya Malin yang bersalah? Atau ada sistem, trauma, dan tekanan sosial yang menciptakan “kutukan” itu sendiri? 


Penulis : Maharani Valensya Nurma Yunita | Magang Jurnalistik Radar Banyuwangi

Ikuti terus berita ter-update Radar Banyuwangi di Google News

Editor : Ali Sodiqin
#film #joko anwar #film indonesia #film indo baru #malin kundang #Come and see pictures #Legenda Kelam Malin Kundang #Film Indonesia 2025