RADARBANYUWANGI - Di tengah rutinitas akademik yang identik dengan jadwal ketat dan disiplin intelektual, tak ada yang menyangka bahwa ruang kelas bisa menjadi panggung bagi kisah mistis. Namun itulah yang terjadi ketika sebuah cerita berjudul “Dosen Gaib” mencuat dan menyebar viral di Indonesia sekitar tahun 2016.
Kisah ini bukan hanya menjadi bahan obrolan hangat di kalangan mahasiswa, tetapi juga menembus dunia maya dan akhirnya menginspirasi film layar lebar.
Awal Mula Cerita yang Merindingkan
Kisah ini pertama kali mencuat dari media sosial dan forum-forum mahasiswa. Narasinya sederhana tapi membekas. Disebutkan bahwa suatu malam, sekelompok mahasiswa di sebuah universitas di Yogyakarta, tepatnya Universitas Ahmad Dahlan (UAD), mengikuti kelas tambahan karena dosen mata kuliah tertentu tidak sempat menyelesaikan materi.
Dosen tersebut dikenal pendiam, galak, dan jarang berinteraksi. Tapi malam itu, semua tampak normal. Dosen datang, membuka laptop, dan memulai kuliah.
Namun, kejanggalan perlahan muncul. Mahasiswa mulai merasa suasana kelas terlalu sunyi, bahkan lebih sunyi dari biasanya. Dosen tidak berbicara sama sekali, hanya menulis di papan dan mengarahkan slide.
Yang paling aneh, setiap pertanyaan yang diajukan mahasiswa hanya dijawab dengan tatapan kosong atau gerakan tangan. Semua tetap berjalan… hingga seseorang dalam beberapa versi disebut sebagai ketua kelas, mendapat pesan dari dosen yang sebenarnya: “Maaf, saya tidak bisa hadir malam ini karena ada urusan keluarga.”
Merasa curiga, sang ketua kelas berpura-pura menjatuhkan pulpen. Ia pun menunduk untuk mengambilnya dan melihat… dosen yang sedang berdiri di depan kelas tidak menapakkan kaki ke lantai.
Histeria pun pecah. Mahasiswa lari tunggang langgang. Dalam cerita tersebut, pihak kampus dikabarkan langsung meliburkan kegiatan akademik selama tiga hari. Dan sejak saat itu, ruang kelas tersebut konon tidak lagi digunakan pada malam hari.
Fakta di Balik Kisah
Setelah cerita ini viral, banyak media mencoba mencari kebenarannya dengan mewawancarai Humas UAD, Hadi Suyono, terkait kisah menghebohkan itu. Ia dengan tegas membantah bahwa kejadian tersebut benar-benar terjadi.
“Kami pastikan itu hanya cerita karangan. Sama sekali tidak ada kegiatan libur tiga hari karena alasan mistis seperti itu. Tapi kami tidak menyalahkan masyarakat. Mungkin itu bagian dari kreativitas anak muda yang sedang booming di media sosial,” ujar Hadi.
Pernyataan ini memperkuat dugaan bahwa kisah tersebut lebih condong ke ranah urban legend ketimbang fakta historis. Namun, justru karena tidak bisa diverifikasi kebenarannya secara mutlak, cerita ini terus hidup, diperbincangkan, dan diwariskan dari generasi ke generasi mahasiswa.
Kisah Serupa di Tempat Lain
Cerita dosen gaib ternyata tidak berhenti di Yogyakarta. Di Solo, tepatnya di Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), beredar pula cerita tentang seorang dosen yang mengaku sempat mengajar di kelas dengan mahasiswa yang “terlalu tenang”.
Saat ia menyadari bahwa semua mahasiswa tidak menunjukkan ekspresi, dan wajah mereka datar, ia memutuskan menghentikan kuliah dan keluar ruangan. Saat ia kembali bersama staf akademik, ruangan itu kosong… sepi seperti tak pernah digunakan.
Cerita ini, seperti yang lain, tak pernah dibuktikan kebenarannya. Tapi tetap saja, ia menjadi bagian dari koleksi horor kampus yang tersebar di banyak universitas di Indonesia.
Antara Rasionalitas dan Imajinasi Kolektif
Yang menarik dari fenomena ini adalah benturan antara dunia rasional, dunia kampus dengan dunia mistis. Kampus dianggap sebagai tempat paling logis, ilmiah, dan jauh dari hal-hal supranatural.
Namun ketika cerita seperti ini muncul dan dipercaya oleh banyak orang, kita sedang menyaksikan bagaimana imajinasi kolektif dan budaya cerita rakyat masih kuat berakar bahkan di tengah ruang-ruang akademik modern.
Dalam psikologi budaya, kisah seperti “dosen gaib” dianggap sebagai bentuk ekspresi ketakutan kolektif, kadang terkait tekanan akademik, kecemasan menghadapi ujian, atau stres menghadapi dosen yang keras.
Dengan membungkus kecemasan itu dalam kisah horor, mahasiswa sebenarnya sedang mencari cara katarsis melalui humor, ketakutan bersama, dan sensasi.
Dari Kisah Viral ke Film Layar Lebar
Popularitas cerita ini akhirnya menarik perhatian dunia perfilman Indonesia. Pada tahun 2024, rumah produksi Dee Company merilis film berjudul Dosen Ghaib: Sudah Malam atau Sudah Tahu, yang mengambil inspirasi langsung dari kisah viral tersebut. Disutradarai oleh Guntur Soeharjanto, film ini mencoba menghidupkan ulang atmosfer mencekam versi sinematiknya.
Meski skor IMDb film ini hanya 4,1/10, banyak penonton yang merasa nostalgia dan relate dengan ceritanya. Bahkan setelah tayang di Netflix pada Januari 2025, film ini menjadi salah satu film horor lokal yang paling banyak dicari, menunjukkan bahwa daya tarik cerita ini masih kuat, bahkan bertahun-tahun setelah pertama kali viral.
Editor : Agung Sedana