Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Mohadi Sempat Dilarang Istrinya Memancing di Laut

Agus Baihaqi • Jumat, 22 Juli 2022 | 02:02 WIB
DIMAKAMKAN: Jenazah Mohadi akan diberangkatkan ke TPU Dusun Tugung, Desa/Kecamatan Sempu, Selasa (19/7). (Salis Ali/Radar Genteng)
DIMAKAMKAN: Jenazah Mohadi akan diberangkatkan ke TPU Dusun Tugung, Desa/Kecamatan Sempu, Selasa (19/7). (Salis Ali/Radar Genteng)
SEMPU, Radar Genteng - “Tidak ada firasat apa-apa. Bapak sudah dilarang untuk berangkat ke laut sama ibu, tapi tetap nekat,” kata Muhtar Ali Romdhoni, 19, putra pertama Mohadi yang tinggal di Dusun Tugung, Desa/Kecamatan Sempu.

Mohadi, 42, salah satu korban perahu terbalik di perairan Plawangan, daerah Pantai Grajagan, Desa Grajagan, Kecamatan Muncar, Banyuwangi. Jenazahnya ditemukan di Pantai Cingur, berjarak sekitar dua kilometer dari perairan Plawangan, Selasa (19/7), atau tiga hari dari tragedi tenggelamnya perahu Hokky 88 yang dinaiki bersama lima nelayan lainnya.

Meninggalnya Mohadi ini, meninggalkan duka yang mendalam bagi keluarganya. Bapak tiga putra itu, meninggalkan satu istri dan tiga anak, Muhtar Ali Romdhoni, 19; Nurin Adlina, 13, dan  Ciara PutriAzahra, yang masih berumur tiga bulan. “Kami kaget mendengar kabar perahu yang ditumpangi bapak terbalik,” cetus Muhtar Ali Romdhoni, anak sulung Mohadi.

Saat mendapat kabar perahu yang ditumpangi bapaknya terbalik, dan bapaknya dinyatakan hilang, Ali sedang mengaji di Pondok Pesantren Ibnu Sina di Dusun Jalen, Desa Setail, Kecamatan Genteng. “Ibu telepon pas saya ngaji, setelah ngaji saya telepone balik, ternyata ngasih kabar itu,” ungkapnya pada Jawa Pos Radar Genteng.

Sejak masuk SMP, Ali sekolah dan tinggal di Pondok Pesantren Ibnu Sina asuhan KH Masykur Aly. Belajar di pesantren, dijalani hingga lulus SMA. “Dapat kabar itu saya lemas, mau nangis tapi tidak bisa, dan saya langsung pulang,” ungkapnya.

Setiba di rumah, melihat ibunya, Eni terus menangis. Ia berusaha tenang dan tabah, menenangkan ibunya yang tidak mau berhenti menangis. Yang membuat ibunya sedih, nasib bapaknya yang tidak diketahui secara pasti. Sedang dua temannya, Sapuan dan Abas, asal Dusun Maron, Desa Genteng Kulon, Kecamatan Genteng ditemukan dengan kondisi meninggal. “Ibu sangat terpukul,” terangnya.

Yang membuat ibunya sedih, saat bapaknya pamitan akan mencari ikan di laut dengan cara memancing, ibunya sempat melarang. Tapi, bapaknya tetap nekat berangkat bersama empat temannya. “Akhirnya ada kabar bapak hilang di laut,” cetusnya.

Selama ayahnya belum ditemukan, ibunya terus menangis. Meski juga sedih dan terpukul, Ali mencoba bersabar dan berusaha semampunya untuk menghibur ibunya agar berhenti menangis. “Saya mengajak ibu mendoakan agar bapak diberi keselamatan,” katanya.

Selama bapaknya dinyatakan hilang, keluarga ada yang ikut mencari di Pantai Grajagan dengan bergabung petugas gabungan dari BPBD, Basarnas, TNI AL, dan Polairud Banyuwangi. “Ini pukulan berat bagi ibu, pelan-pelan berusaha mengikhlaskan,” ujarnya.

Mohadi itu mulanya jarang memancing ikan ke laut. Biasanya, cari ikan kalau hanya diajak temannya. Kesehariannya, jualan sayur di di Pasar Genteng 1, Desa Genteng Kulon, Kecamatan Genteng. “Sejak saya masih SD, bapak dan ibu itu kerjanya jualan di pasar,” katanya.

Bapaknya sering memancing ikan di laut, sejak ibunya hamil putri ketiganya Ciara Putri Azahra. Saat itu, ibu dan bapaknya jarang jualan di pasar karena sedang pandemi Covid-19. “Jarang jualan di pasar, jadi sering memancing di laut,” jelasnya.

Kebiasaan mancing di laut sejak adiknya masih dalam kandungan, ternyata membuat bapaknya ketagihan hingga akhirnya perahu yang dinaiki bersama empat teman dan nahkoda itu terbalik diterjang ombak di perairan Plawangan pada Sabtu (16/7). “Sekarang memancing bukan hanya sekedar hobi, tapi pekerjaan utama, karena dianggap lebih menguntungkan,” tandasnya.

Bapaknya meninggal, jenazah juga sudah dikebumikan. Ali yang menjadi putra sulung itu akan fokus mencari uang untuk bisa menggantikan posisi bapaknya. “Dua adik saya masih kecil-kecil, saya harus memikirkan masa depannya,” cetusnya.

Selama ini Ali mengaku sudah bekerja. Saat ada liburan di pesantren, ia sering menggantikan ibunya jualan. Selain itu, kerja serabutan dengan membantu kegiatan di pesantrennya. “Saya kerja bantu-bantu di pondok, kalau libur membantu ibu jualan di pasar,” pungkasnya. (sas/abi) Editor : Agus Baihaqi
#perahu terbalik #ombak ganas #pemancing tenggelam #Nelayan Hilang