Dari hasil usaha budidaya tawon klanceng ini, Sutekad mengaku berhasil mendapatkan untung mulai Rp 1 juta hingga Rp 2 juta per bulan. “Ini sebenarnya usaha sampingan, yang utama buruh tani,” katanya pada Jawa Pos Radar Genteng, kemarin (29/6).
Menurut Sutekad, hasil sebagai buruh tani sering tidak cukup untuk kebutuhan keluarga. Sebagai buruh tani, biaya operasional dalam pengolahan sawah harus ditanggung sendiri dan hasilnya dibagi dengan pemilik sawah. “Hasil pertanian tidak cukup, pada tahun 2000, saya belajar ternak tawon,” katanya.
Awal ternak tawon ini, Sutekad membuat kotak dari papan kayu. Selanjutnya, kotak itu dioles madu tawon klanceng untuk memancing tawon. “Kotak yang sudah diolesi madu tinggal ditaruh di tengah kebun,” ucapnya.
Dari usahanya itu, Sutekad bisa memanen setiap bulan dan dijual ke pasaran. Sekali panen, ia bisa mendapat hingga 10 botol madu. “Itu kalau pas musim bunga seperti Juli, kalau tidak musim bunga biasanya hasilnya sedikit berkurang,” katanya.
Untuk sebotol madu ukuran 80 mililiter, Sutekad membanderol harga Rp 200 ribu. Madunya itu, biasanya diambil oleh konsumen dari berbagai wilayah, baik dari Banyuwangi hingga luar daerah. “Dari Surabaya juga ada yang beli, biasanya dari luar daerah itu beli secara online, nanti kami kirim,” ucapnya.
Tidak hanya menjual madu saja, agar tiap bulannya tetap mendapat untung, meski sedang tidak musim bunga, Sutekad juga membudidaya lebah biasa untuk dipanen larvanya. “Biasanya dibuat botok, kalau itu bisa dipanen tiap 20 hari,” pungkasnya.(sas/abi) Editor : Agus Baihaqi