TEGALSARI - Salah satu waliyullah yang cukup terkenal di Banyuwangi, khususnya di kalangan nahdliyin, itu adalah KH. Mukhtar Syafa’at Abdul Gofur. Pendiri Pondok Pesantren Darussalam, Dusun Blokagung, Desa Karangdoro, Kecamatan Tegalsari, itu hingga kini santrinya mencapai ribuan orang.
KH. Mukhtar Syafa’at Abdul Ghafur lahir pada 6 Maret 1919 di Dusun Sumontoro, Desa Ploso Lor, Kecamatan Ploso Wetan, Kabupaten Kediri. Kiai Syafaat ini putra keempat dari pasangan suami-istri (pasutri) KH. Abdul Ghafur dan Nyai Sangkep.
Meski lahir dari keluarga religius, Kiai Syafaat muda tidak langsung mengenyam pendidikan di pesantren. Saat kecil, selain belajar agama dari orang tuanya sendiri, masuk ke sekolah rakyat (SR). Baru setelah menginjak usia remaja, sekitar tahun 1928 mulai masuk ke pesantren. “Pesantren yang pertama dituju, Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang asuhan KH. Hasyim Asyari,” cetus salah satu putra almarhum KH. Mukhtar Syafaat Abdul Gofur, KH. Ahmad Mubasyir Syafaat.
Di Pesantren Tebuireng ini, Kiai Syafaat pertama merasakan kehidupan rantau, langsung betah dan bertahan hingga delapan tahun (versi lain menyebut enam tahun). Banyak pengalaman didapat selama belajar di pesantren ini, dan itu membuatnya senang mencari ilmu. “Dari Pesantren Tebuireng melanjutkan perburuan ilmu di Banyuwangi, tepatnya di Pondok Pesantren Tasmirit Tholabah di Dusun Jalen, Desa Setail, Kecamatan Genteng di bawah asuhan KH. Ibrahim,” terangnya.
Di pesantren ini, Kiai Syafaat ternyata bertahan lebil lama lagi. Sekitar 13 tahun lamanya berguru pada Kiai Ibrahim. Sesekali, juga belajar ke Pondok Pesantren Minhajut Thullab di Desa Sumberberas, Kecamatan Muncar yang kala itu diasuh KH. Abdul Manan. “Saat nyantri di Pesantren Jalen ini, sekitar tahun 1951, Kiai Syafaat ‘diusir’ oleh Kiai Dimyati, salah satu putranya Kiai Ibrahim,” ungkapnya.
Gus Basyir, sapaan KH Ahmad Mubasyir, mengisahkan Kiai Dimyati itu seorang jadab (berperilaku di luar kendali manusia). Saat Kiai Syafaat sedang mengajar, tiba-tiba oleh Kiai Dimyati disuruh pergi. “Kiai Dimyati tiba-tiba mengusir bapak (Kiai Syafaat) dari pondok bersama dua temannya Mawardi dan Keling. Saat itu Kiai Dimyati juga membawa tongkat kutbah untuk memukul,” terangnya.
Karena merasa ketakutan dengan sikap Kiai Dimyati, Kiai Syafaat bersama kedua temannya itu langsung pergi meninggalkan Pesantren Jalen, dan berjalan ke arah selatan menuju rumah kakak perempuannya, Ny. Fatimah di Dusun Blokagung, DEsa Karangdoro, Kecamatan Tegalsari. “Kakaknya bapak ada yang menikah dengan orang sini (Blokagung),” katanya.
Selama di Blokagung, Kiai Syafaat mulai mengajar di musala yang baru dibangun. Musala kecil itu diberi nama Musala Darussalam. Pada awal mendirikan musala itu, Kiai Syafaat mengajar Alqur’an dan beberapa kitab dasar kepada masyarakat sekitar. Sejumlah santri di Pesantren jalen, banyak yang datang ke Blokagung untuk mengaji. “Bapak bisanya cuma mengaji, saat tinggal di sini ya langsung mengajar ngaji,” tuturnya.
Beberapa bulan kemudian, lanjut Gus Basyir, musala Darussalam itu sudah tidak dapat menampung para santri yang ingin belajar. Akhirnya, tempat belajar pindah ke masjid milik Kiai Hamid yang berada tidak jauh dari musala. Setelah melalui perjuangan yang berat, Pondok Pesantren Darussalam akhirnya berkembang dengan jumlah santri yang semakin bertambah banyak. “Pada 1975, jumlah santri sudah mencapai 1.500-an anak. Padahal waktu itu belum ada media untuk promosi,” ungkapnya.
Santri yang banyak belajar pada Kiai Syafaat itu, berkat kebesaran nama Kiai Syafaat yang tersebar dari mulut ke mulut. Malahan, santri dari luar Banyuwangi hingga luar Jawa juga banyak yang berdatangan. “Para santri banyak yang cerita soal bapak,”
Soal amalan yang sampai kini terus ditekankan oleh Kiai Syafaat kepada para santrinya, itu soal keutamaan mengaji. Tidak hanya pada para santri, pada anak-anaknya, Kiai Syafaat terkenal keras soal mengaji. “Kalau waktunya ngaji kitab, tidak ngaji, siap-siap dicambuk. Bapak punya cambuk khusus di rumah,” ungkapnya seraya tertawa.
KH Syafaat juga dikenal sebagai pribadi yang penuh kesederhanaan, qanaah, teguh menjaga muru’ah (harga diri), dan luhur budinya. Tidak pernah merasa rendah di hadapan orang yang kaya. “Apalagi sampai merendahkan diri pada mereka (orang kaya), dan tidak malas beribadah karena kefakirannya,” cetusnya.
Kiai Syafaat telah wafat, tepatnya hari Jumat malam, 1 Februari 1991 (17 Rajab 1411 H), dan dimakamkan kompleks makam keluarga, sekitar 100 meter arah utara dari Pondok Pesantren Darussalam, Blokagung. “Sampai sekarang makamnya sering didatangi peziarah,” pungkasnya.(sas/abi)
Editor : Ali Sodiqin