Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Makam Tionghoa Kluncing, Warga Sekitar Jadi Juru Kunci dan Tukang Gali

Ali Sodiqin • Senin, 28 Maret 2022 | 23:30 WIB
makam-tionghoa-kluncing-warga-sekitar-jadi-juru-kunci-dan-tukang-gali
makam-tionghoa-kluncing-warga-sekitar-jadi-juru-kunci-dan-tukang-gali


GIRI – Taman Makam Mitra Abadi (TMMA) tercatat sebagai salah satu kompleks makam mewah di Banyuwangi. Makam di Lingkungan Kluncing, Kelurahan/Kecamatan Giri, ini dikenal sebagai makam warga keturunan Tionghoa.



Meski tidak terafiliasi dengan satu etnis mana pun, namun TMMA yang terletak di Lingkungan Kluncing, Kelurahan/Kecamatan Giri, ini selalu terpatri di benak warga Banyuwangi sebagai kuburan Cina. Maklum, mayoritas jasad yang dikuburkan di situ yakni warga keturunan Tionghoa.



Yang menarik, di kompleks TMMA ini disemayamkan jasad warga keturunan Tionghoa dari berbagai agama. Baik yang beragama Islam, Kristen, Katolik, Hindu, maupun Buddha. Meski terdiri dari berbagai agama, namun rasa saling menghormati tetap terjaga.



Hidup rukun terus digalakkan di antara pengurus hingga pelayat makam. ”Jadi, warga Tionghoa yang muslim juga ada yang dimakamkan di kompleks TMMA ini,” ungkap Ketua Perkumpulan Mitra Abadi Banyuwangi Alexander Martin.



Menurut Alex, sapaan akrab Alexander Martin, Taman Makam Mitra Abadi ini dulu diberi nama Taman Makam Panca Dharma. Kantor dan tempat persemayaman taman makam ini berada di Jalan Ikan Gurami 65 Kelurahan Karangrejo, Kecamatan Banyuwangi. Lokasi persemayaman ini berada di sebelah utara Kelenteng Hoo Tong Bio Banyuwangi.



Kompleks TMMA ini, kata Alex, luasnya sekitar tiga hektare dan merupakan salah satu makam Tionghoa terlama di Banyuwangi. ”Kalau makam (Tionghoa) tertua ada di Kelurahan Kertosari, Kecamatan Banyuwangi,” katanya.



Bagi warga keturunan Tionghoa yang meninggal dunia, sebelum dikebumikan terlebih dahulu disemayamkan. ”Biasanya jenazah disemayamkan lebih dulu selama tiga atau empat hari sembari menunggu sanak saudara dan sejawat datang untuk memberi penghormatan terakhir,” jelasnya.



Setelah hari baik dan tanggal baik, baru selanjutnya jenazah dikebumikan di kompleks TMMA tersebut. Jika ada warga yang meninggal dunia, pengurus perkumpulan akan langsung berkoordinasi dengan juru kunci dan tukang gali kubur. ”Kalau kami memberdayakan warga sekitar makam untuk petugas penggali kubur hingga juru kuncinya, turun-temurun sejak dulu,” tutur Alex.



Termasuk petugas kebersihan dan perawatan makam juga memberdayakan warga sekitar. Sehingga, jika ada pihak keluarga makam yang hendak melakukan perawatan atau renovasi makam, tinggal berkoordinasi dengan pengurus TMMA dan juru kunci makam.



Menurut Alex, sebelum pandemi biasanya jenazah disemayamkan hingga sepekan atau tujuh hari. Selama pandemi Covid-19, jenazah disemayamkan paling lama tiga hari. Sementara jika meninggal akibat terpapar Covid-19, maka langsung dimakamkan tanpa disemayamkan.



Sementara itu, warga keturunan Tionghoa juga punya tradisi ziarah makam leluhur atau biasa dikenal dengan sebutan Ching Bing (Qing Ming) yang merupakan ritual tahunan. Ada juga yang disertai dengan sembahyang. Ada juga yang ziarah ke makam leluhur ketika menjelang Imlek atau sewaktu mudik. ”Kalau jumlah makamnya ada ratusan unit. Jika lupa dengan letak makam, sudah tertera nama pada dinding makam. Atau biasanya tanya ke juru kunci makam,” tandas Alex. 


Editor : Ali Sodiqin
#kuburan