Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Cegah Masyarakat Terpecah, Gelar Ritual Resik Lawon Buyut Cungking

Ali Sodiqin • Jumat, 18 Maret 2022 | 23:30 WIB
cegah-masyarakat-terpecah-gelar-ritual-resik-lawon-buyut-cungking
cegah-masyarakat-terpecah-gelar-ritual-resik-lawon-buyut-cungking


GIRI - Petilasan Ki Wongso Karyo kembali ramai didatangi para keturunan abdi dalemnya pada tanggal 13 Ruwah dalam kalender Jawa. Mereka menggelar ritual resik lawon di Petilasan Sesepuh masyarakat Osing yang juga dikenal dengan nama Buyut Cungking.



Kaki Busairi, 75, melangkah cepat ketika matahari mulai meninggi, Kamis pagi (17/3/2022). Hari itu adalah Kamis Pahing tanggal 13 Ruwah kalender Jawa atau 14 Syakban tahun Hijriah yang menjadi waktu pelaksanaan ritual resik lawon. Ritual harus diikuti Busairi bersama dengan para keturunan dari abdi dalem Buyut Cungking.



Begitu tiba di petilasan Buyut Cungking, belasan orang sudah berkumpul di sana. Tepat di hari itu, masyarakat yang sebagian besar tinggal di Lingkungan Cungking, Kelurahan Mojopanggung, Kecamatan Giri, Banyuwangi, itu menggelar ritual resik lawon.



Ritual yang sudah dilakukan selama ratusan tahun secara turun-temurun itu digelar menjelang bulan Ramadan untuk membersihkan diri.



Sejak pagi masyarakat membersihkan petilasan Ki Buyut Cungking dari debu dan kotoran. Selanjutnya,  mereka melepas kain putih yang menutup cungkup makam dan selambu yang ada di sekitarnya. Kain-kain tersebut dilipat untuk dicuci di Dam Krambatan, Banyu Gulung yang berada di Kelurahan Banjarsari, Kecamatan Giri.



Setelah dimasukkan ke dalam besek, para keturunan abdi dalem memikul lawon yang diikat dengan tali dan kayu. Jarak yang harus ditempuh untuk menuju Dam Krambatan sekitar tiga kilometer dengan berjalan kaki. Begitu tiba di sungai, kain putih panjang itu langsung digelar dan dicuci bersama-sama. ”Biasanya ada banyak orang yang datang ke sini. Berebut air cucian dan perasan lawon. Mungkin karena hari sibuk, jadi tidak banyak yang tahu,” kata Busairi.



Pria yang masuk dalam keturunan abdi dalem Buyut Cungking itu mengatakan, selain sebagai ritual bersih-bersih, warga meyakini air perasan lawon petilasan Buyut Cungking bisa menyembuhkan beberapa jenis penyakit. Bahkan jika disebar ke sawah, air tersebut dipercaya bisa meningkatkan produksi tanaman. ”Ya itu masalah kepercayaan, memang tidak bisa sekaligus. Bagi yang percaya, beberapa kali mengambil air dari ritual, mereka merasakan perubahan,” jelasnya.



Setelah lawon dicuci, warga kembali membawanya ke balai tajuk yang ada di Lingkungan Cungking. Di sana, kain kembali dibilas dengan air bersih yang sudah ditaburi bunga tujuh rupa. Semua prosesi ritual dilakukan oleh laki-laki, sedangkan perempuan menyiapkan makanan untuk disajikan kepada tamu-tamu yang datang ke balai tajuk. 



Di tengah proses pembilasan, puluhan orang sudah berkumpul di sana untuk meminta air bersih bekas bilasan kain lawon. Air bilasan kafan menjadi rebutan warga karena mereka percaya air tersebut membawa berkah. Setelah dibilas, kain putih tersebut dijemur di tengah jalan desa. Tali tambang diikat dengan bambu yang menjulang di ketinggain empat meter.



Bagian tersebut adalah puncak dari ritual resik lawon sebelum kain-kain putih itu nantinya kembali di pasang di petilasan. Selama dijemur, kain putih itu tidak boleh jatuh dan terkena tanah.  



Dalang Ki Sunoto Carito, 62, yang ikut dalam ritual tersebut menuturkan, ritual resik lawon merupakan langkah sesuci yang dilakukan masyarakat Cungking. Tak sekadar membersihkan kain kafan atau lawon, ritual itu berarti untuk membuat masyarakat Lingkungan Cungking tetap bersatu. Ada banyak nilai gotong rotong yang berjalan selama ritual berlangsung.



Selain itu, pelaksanaan ritual yang biasanya digelar di bulan ketiga ini memiliki nilai hitungan sandang, pangan, dan papan. Artinya, setiap masyarakat yang ikut tak bisa lepas dari ketiga kebutuhan pokok itu. ”Niat utamanya selain nguri-uri juga untuk bersih-bersih. Membersihkan hati dan semua jiwa, termasuk jiwa leluhur. Mereka boleh sudah pergi raganya tapi masih ada sukmanya,” kata Sunoto.



Dalam beberapa tahun terakhir, ritual resik lawon dan resik kagungan yang digelar di petilasan Buyut Cungking tampak diikuti anak-anak muda. Termasuk resik lawon yang digelar Kamis kemarin (17/3).



Ketua Paguyuban Buyut Cungking Mardiyanto, 44, mengatakan, ritual resik lawon dilakukan secara turun-temurun oleh keturunan abdi dalem atau orang-orang yang selama ini merawat petilasan Buyut Cungking. Sesepuh yang konon merupakan penasihat Prabu Tawangalun itu sangat dihormati masyarakat di Lingkungan Cungking. Tak heran, jika akhirnya ritual itu tetap bertahan meski sudah berlangsung lebih dari sembilan generasi.



Mardiyanto sendiri adalah keturunan dari kuncen petilasan Buyut Cungking yang ketujuh, yaitu Mbah Sunar. Nantinya, Mardiyanto akan mengemban kewajiban sebagai kuncen generasi kesepuluh menggantikan Mbah Jam’i atau Abdul Gani yang saat ini menjadi kuncen generasi kesembilan. ”Yang mencuci dan mengikuti ritual semua laki-laki dengan garis keturunan abdi dalem. Tidak semuanya dari Cungking, ada dari Kemiren juga bahkan luar kota. Semoga ritual ini bisa terus lestari,” harapnya.


Editor : Ali Sodiqin
#adat #ritual