Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Warga Damrejo Budi Daya Tanaman Semanggi

Ali Sodiqin • Jumat, 26 Maret 2021 | 01:35 WIB
warga-damrejo-budi-daya-tanaman-semanggi
warga-damrejo-budi-daya-tanaman-semanggi


RadarBanyuwangi.id – Maraknya ragam kuliner yang tersedia di sejumlah rumah makan dan warung di Banyuwangi, dimanfaatkan warga Dusun Damrejo, Desa Aliyan, Kecamatan Rogojampi untuk membudidayakan tanaman semanggi. Tanaman pakis air ini memang banyak diburu penikmat kuliner di Bumi Blambangan.



Sinar sang surya mulai terasa menyengat menembus pori-pori kulit. Sekelompok petani tengah duduk santai di tengah pematang sawah nan hijau menghampar. Para petani yang mengenakan caping sebagai penutup kepala itu, tampak santai sembari memetik daun semanggi yang ada di sekelilingnya.



Para petani di Dusun Damrejo, Desa Aliyan, Kecamatan Rogojampi sudah lebih enam bulan terakhir mengembangkan budi daya tanaman semanggi. Tumbuhan dengan nama latin Marsilea crenata ini merupakan tumbuhan air golongan hydrophytes yang banyak tumbuh di area persawahan, kolam, danau, rawa, dan sungai.



Tanaman ini tumbuh merambat di lingkungan perairan dengan tangkai mencapai sepanjang 20 cm dan bagian yang muncul ke permukaan air setinggi 3–4 cm. Tumbuhan ini biasanya tumbuh dengan jenis-jenis tumbuhan air lainnya seperti eceng kecil, genjer, rumput air, serta teki alit. Daun semanggi teksturnya tipis dan lembut, berwarna hijau gelap.



Bagi sebagian petani, tumbuhan semanggi kerap dianggap sebagai hama pada tanaman padi. Namun, bagi warga di Dusun Damrejo, Desa Aliyan, tumbuhan air ini justru menjadi salah satu sumber penghasilan para petani yang cukup membantu perekonomian warga. ”Satu plastik kresek dengan berat hampir satu ons, kami biasa menjual seharga Rp 20 ribu,” ungkap Miko Setiawan, 40, salah seorang petani.



Sudah sejak enam bulan terakhir, Miko mengembangkan budi daya tanaman semanggi. Selain menguntungkan, menanam dan merawat semanggi juga tidak sulit. Tumbuhan yang ”beranak-pinak” dengan cara merambat ini, dapat berkembang biak dengan cepat. Apalagi jika dirawat dan dipupuk. ”Tanpa harus dipupuk, yang penting airnya lancar, lembap, tanaman akan berkembang dengan sendirinya,” ujarnya.



Bibit semanggi bisa didapatkan dari lahan yang sudah jadi atau mendapatkan di tempat lain seperti pematang sawah yang tumbuh liar. Yang penting, tumbuhan semanggi yang dicabut masih ada akarnya. Setelah dibersihkan, bibit disemai dengan cara diletakkan secara bergerombol dengan jarak sekitar 30–40 cm (seperti menanam rumput).



Yang harus diperhatikan, kata Miko, setelah selesai panen batang tanaman semanggi harus diratakan kembali atau ditekan agar tunas muda kembali rata dan mudah dipanen. Sehingga tak perlu menanam kembali, malah akan tumbuh tunas muda baru.



Budi daya semanggi bisa dicoba di daerah mana saja. Apalagi, saat ini tumbuhan tersebut sangat diburu oleh pasar. ”Hampir setiap hari pesanan tidak pernah sepi, selalu ada. Tidak ada yang tidak laku. Paling sepi tinggal dibawa ke Pasar Rogojampi sudah rebutan,” katanya.



Selain melayani pesanan permintaan warung dan restoran dari Banyuwangi, petani di Dusun Damrejo, Desa Aliyan juga melayani permintaan pesanan dari berbagai daerah, termasuk dikirim ke Bali. ”Selalu kebanjiran pesanan, hampir tidak pernah sepi,” jelasnya.



Melihat kondisi di lapangan, Kepala Desa Aliyan, Kecamatan Rogojampi, Anton Sujarwo pun menangkap potensi tersebut. Kini pihak pemerintah desa tengah merancang sentra kuliner Kampung Semanggi di Dusun Damrejo. Apalagi di kawasan kampung itu juga akan dibangun rumah khas Osing yang akan menyediakan berbagai menu kuliner khas Desa Aliyan.



Salah satu kuliner andalan itu yakni semanggi yang dipadu sambal dan sayur bening kuah semanggi. Ada juga pelasan oling, bothok tawon, gule bangsong, dan aneka menu kuliner khas lainnya. ”Sudah kami siapkan tempatnya, ini adalah upaya kami agar usaha mikro kecil menengah (UMKM) di Desa Aliyan naik kelas,” katanya.



Tidak hanya mengandalkan usaha pertanian, melainkan juga perpaduan pertanian dengan wisata yang menyuguhkan keindahan alam lahan pertanian hijau. Pengunjung juga bisa menikmati menu kuliner secara langsung yang masih segar. ”Warga kami sudah mulai berdaya dan ini harus disambut dengan baik guna memulihkan ekonomi dari desa di tengah pandemi virus korona ini,” pungkas Anton.



Editor : Ali Sodiqin
#pertanian