RadarBanyuwangi.id – Berkat kecintaanya pada seni, tahun 1962 Slamet Menur merancang karya tari ”Genjer-Genjer”. Slamet terinspirasi pertunjukan tari yang tampil di gedung Bioskop Irama. Kala itu perwakilan dari negara RRT dan Jepang ikut menyaksikan tari bertema pertanian tersebut.
Slamet melihat perwakilan dari negara Asia itu begitu kagum dengan gerak gemulai penari. Akhirnya Slamet pulang ke rumahnya dan menciptakan tari ”Genjer-Genjer”. ”Tarinya sesuai dengan lagu. Menceritakan proses ngunduh genjer sampai makan genjer di atas pelonco,” kisahnya.
Seiring dengan populernya lagu Genjer-Genjer, tarian karya seniman asal Kelurahan Banjarsari tersebut langsung ngetop. Ditambah lagi, Slamet bersama M. Arief (pencipta lagu Gencjr-Genjer) mendirikan organisasi kelompok angklung daerah dengan nama Seni Rakyat Indonesia Muda (Sri Muda). Slamet fokus pada pengembangan seni tari, sedangkan Arief lebih ke lagu. Organisasi itu terus berkembang sampai ke kecamatan lain dan luar Banyuwangi.
Saking cintanya dengan kehidupan seni tari, Slamet sempat menikahi dua wanita yang keduanya sama-sama penari. Yang pertama adalah Romlik, yaitu penari ”Genjer-Genjer” yang kerap ikut bersamanya. Setelah Romlik meninggal, Slamet menikahi penari lainnya, yaitu Susiyati yang terkenal sebagai penari ”Padang Bulan”.
Hingga kemudian peristiwa politik nasional meledak. Tahun 1965, semua aktivitas seni yang digagas Slamet dan Arief dihentikan. Salah satunya akibat lagu Genjer-Genjer yang dianggap sebagai lagu propaganda PKI.
Arief hilang tak jelas rimbanya. Sedangkan Slamet memilih vakum dari dunia seni secara terbuka. Meski demikian, Slamet masih tetap berkecimpung di dunia seni tari dan bergabung dalam Lembaga Kebudayaan Nasional (LKN).
Tahun 1970, Slamet kembali muncul. Darah seninya yang begitu kental membuatnya tak bisa diam berlama-lama. Dampak peristiwa G30S PKI 1965, banyak seniman lagu maupun tari harus bersembunyi. Slamet pun punyai ide menyelamatkan karya-karya bersejarah tersebut.
Slamet mulai turun ke desa-desa untuk menginventarisasi naskah lagu asli Osing. Sejumlah seniman yang masih hafal dengan lagu-lagu Osing zaman dulu diminta menyanyi. Selanjutnya nyanyian itu dicatat dalam buku yang sudah disiapkan.
Beberapa lagu bahkan lengkap dengan notasinya. Selain lagu, Slamet juga menginventarisasi tarian-tarian asli Banyuwangi. ”Saya simpan di buku kumpulan gending-gending lare Osing, Saya masih hafal semua lagunya. Sebenarnya ada naskah asli lagu Genjer-Genjer punya Pak Arief, tapi tidak tahu disimpan di mana,” kata Slamet.
Kini, setelah puluhan tahun menekuni seni tari, Slamet mulai mencoba menyimpan catatan lirik lagu dan tarian melalui platform digital. Slamet khawatir jika tidak dipindah dalam bentuk video atau suara, generasi Banyuwangi ke depan bakal tidak mengenal lagu-lagu Banyuwangi tempo dulu.
”Sudah ada sepuluh lagu dan enam tarian yang sudah saya rekam. Mulai tari Genjer-Genjer, Nandur Jagung, Jaring Kambang, Tandek Majeng, dan Padang Bulan. Mumpung ingatan saya masih kuat,” ucap Slamet sembari tertawa.
Kakak Ipar Slamet, Suseno, paham benar dengan perjalanan seni pria yang kini berusia 81 tahun tersebut. Setelah peristiwa 1965, banyak seniman memilih bersembunyi meski mereka tidak berafiliasi dengan organisasi terlarang. Lagu-lagu Osing hanya disimpan di memori ingatan para seniman. ”Setelah peristiwa 1965 banyak seniman yang tiarap. Biar tidak hilang, lagu-lagu tersebut kita rekam. Lagu-lagu itu rata-rata disimpan di ingatan orang-orang itu,” jelas Suseno.
Ketua Dewan Kesenian Blambangan (DKB) Hasan Basri menilai Slamet adalah seorang jihadis di bidang seni. Kiprah Slamet sejak Orde Lama hingga era Reformasi perlu dijadikan panutan bagi generasi muda. ”Pak Slamet bukan politikus, dia tetap berjalan di jalur seni. Semangat Pak Slamet harus ditiru oleh generasi sekarang,” kata Hasan Basri yang ikut melihat langsung catatan lagu karya Slamet. (fre/aif/c1/habis)
Editor : Ali Sodiqin