Di tengah banyaknya variasi paket wisata yang ditawarkan untuk wisatawan, ada sekelompok mahasiswa yang mengembangkan ecotourism di Pantai Grand Watudodol (GWD). Tak hanya mengajak untuk berwisata, mereka juga memberikan pemahaman tentang cara merawat lobster dan terumbu karang.
FREDY RIZKI, Wongsorejo
BELASAN keramba berisi lobster pasir (panulirus homarus) yang tertanam di kawasan Pantai Grand Watudodol, Desa Bangsring, Kecamatan Wongsorejo kini tak hanya menjadi tempat budidaya semata. Melalui tangan beberapa orang mahasiswa asal Surabaya, kini lokasi tersebut menjadi spot jujukan wisatawan untuk berwisata dengan konsep ecotourism.
Wisatawan tak sekadar diving maupun snorkeling, tapi juga diajak untuk memahami bagaimana ekosistem dan biota laut yang mereka lihat agar bisa tetap lestari. Wisatawan diajak memahami konsep konservasi secara detil sebelum mereka terjun dan merasakan langsung bagaimana ikut campur tangan melakukan konservasi.
Dimas Rizal, 26, salah satu penggagas ecotourism di GWD menuturkan, ada 15 orang yang terlibat dalam penerapan ekowisata di lokasi tersebut. Sebagian berisi mahasiswa, dosen, alumni, Pokdarwis Pesona Bahari, dan dua orang perawat yang bertugas di salah satu Puskesmas di Banyuwangi.
Dimas menceritakan, dirinya bersama beberapa mahasiswa kerap berwisata di Banyuwangi. Saat itulah dia bersama teman-temanya melihat ada cukup banyak aktivitas wisata di sekitar perairan Banyuwangi. Namun, jarang sekali tour guide menjelaskan secara detail tentang konservasi alam. Dampaknya, para wisatawan hanya mengejar wisata foto saja, tanpa mempedulikan bagaimana ekosistem yang menjadi objek wisatawa mereka.
Akhirnya Dimas bersama rekan-rekanya pun memiliki konsep untuk bisa menghadirkan ekowisata di wilayah Banyuwangi. Kebetulan, salah satu dosennya memiliki proyek pendampingan untuk budidaya lobster dan transplantasi terumbu karang di GWD. Dosen tersebut meminta ada mahasiswa yang mau mendampingi program tersebut.
Tanpa berpikir lama, Dimas dan beberapa mahasiswa akhirnya menerima tawaran tersebut. Sejak November tahun lalu, mereka turun langsung melakukan pendampingan sekaligus memperkenalkan ecotourism kepada Pokdarwis di GWD. "Kita tetap melibatkan Pokdarwis, teknisnya mereka yang mendampingi. Kita yang memberikan materi dan mengarahkan, supaya wisatawan ikut merasakan bagaimana melakukan konservasi," jelas mahasiswa asal Surabaya itu.
Secara umum konsep ecotourism lebih menekankan kepada pemberian wawasan kepada wisatawan agar mau ikut melakukan konservasi. Sebelum memulai snorkeling maupun diving, Dimas bersama lima mahasiswa lainya akan memberikan brifing dulu kepada wisatawan.
Pada tahap inilah wisatawan diberi gambaran tentang apa yang akan mereka lihat selama berwisata bawah laut nanti. Dimas menjelaskan, saat brifing itulah dia berupaya sekuat tenaga membuat wisatawan tertarik tentang pentingnya menjaga alam. Sebelum melihat pemandangan terumbu karang atau biota laut lainya, wisatawan sudah tahu jika diperlukan upaya yang tidak mudah agar apa yang mereka lihat tetap lestari.
"Biasanya ada dua jenis pilihan wisata, ada snorkeling. Kalau ini biasanya kita ajak ke Pulau Tabuhan dan Pulau Menjangan. Di sana wisatawan kita beritahu cara merawat terumbu karang dan ekosistem laut," kata Dimas.
Sedangkan untuk yang memilih diving, Dimas akan mengajak wisatwan melihat langsung proses transplantasi terumbu karang. Mulai dari proses pembuatan di darat sampai ditenggelamkan ke lautan. Termasuk budidaya lobster yang dilakukan masyarakat Pokdarwis di perairan GWD.
Para wisatawan akan diajak memberi makan lobster, sampai melepasliarkan lobster ke habitatnya lewat keramba yang sudah disiapkan. Wisatawan tidak sekadar menikmati pemandangan bawah laut, tapi juga mendapatkan edukasi dosis pakan lobster, melihat kadar arus laut, sampai aneka terumbu karang dan lobster.
Riswanda, mahasiswa lain dari Fakultas Biologi menambahkan, setelah mengikuti tour berkonsep ecotourism, wisatawan biss bercerita pengalamannya.
"Sementara ini memang belum banyak yang yang ikut karena pandemi Covid-19 belum usai. Rata-rata yang ke sini (GWD) adalah mahasiswa yang ingin melakukan penelitian," terangnya.
Ke depan, Riswanda berharap konsep ecotourism bisa terus dikembangkan terutama oleh Pokdarwis. Wisatawan yang datang tak hanya sekadar menikmati keindahan alam, tapi juga ikut menjaga. "Tim kami berasal dari berbagai disiplin ilmu. Ada yang jurusan ilmu kelautan, biologi, dan psikologi,’’ ungkap Riswanda.
Untuk ilmu kelautan dan biologi mendampingi teknis konservasi terumbu karang dan budidaya lobster agar berjalan dengan baik. Sedangkan yang dari jurusan psikologi memberi pemahaman kepada masyarakat nelayan agar tetap konsisten ikut menjaga lautan.
Salah satu perawat asal Puskesmas Singotrunan, Ahmad Fadli mengaku ikut men-support ecotourism, terutama dari sisi keamanan protokol kesehatan. Selain itu, kata Fadli, bias melakukan tindakan yang tepat jika ada wisatawan yang kondisinya dinyatakan tidak aman ketika mengikuti tour. “Saya sama Eling ikut menjaga saja. Bagaimana wisata saat pendemi tetap aman. Kami melihat konsep ecotourism cukup bagus dan menarik, terutama untuk konservasi,” tandasnya. (aif)
Editor : Ali Sodiqin