Setiap Minggu pagi beberapa anak usia SD hingga SMA berlatih menembak di sekitar GOR Tawangalun. Meski tergolong muda, mereka cukup mahir menggunakan air soft gun.
FREDY RIZKI, Giri
PISTOL di saku kanan, magasin di saku kiri milik Mohammad Ramdhan, 12. Begitu pelatih meneriakkan kata ”stand by”, dua benda yang ada di kanan dan kiri saku siswa kelas 6 SD Al Irsyad itu langsung digabungkan menjadi satu. Dengan gerakan cepat, Ramdhan berlari ke kanan dan kiri.
Matanya lekat menatap pisir (bidikan) pistol. Sekejap kemudian satu per satu peluru plastik menghunjam cepat ke belasan sasaran yang ditata di lapangan tembak reaksi Banyuwangi. Tak sampai satu menit, belasan sasaran itu tumbang.
Selanjutnya, giliran Webi Seno, 8. Bocah yang masih duduk di kelas 3 SDN 1 Genteng ini tak kalah cekatan. Meski tubuhnya kecil, tapi bidikannya tak meleset. Beberapa orang tua yang ikut berlatih tampak tersenyum melihat hasil bidikanya.
Anak-anak itu adalah atlet menembak kelas tembak reaksi. Sesuai dengan karakter tembak reaksi, atlet tembak yang mengikuti olahraga ini memerlukan reaksi yang cepat. Bisa menembakkan peluru seefektif mungkin untuk semua sasaran yang ada.
Hartono, orang tua salah satu atlet tembak reaksi mengatakan, olahraga ini cukup efektif untuk melatih konsentrasi anak maupun tingkat kepercayaan diri. Hartono menceritakan, awalnya anaknya hanya menjadi penonton saja.
Kebetulan ada salah satu rumah saudaranya yang berada tak jauh dari GOR Tawangalun. Begitu tertarik, Hartono pun mendaftarkan anaknya untuk ikut latihan menembak.
Tiga bulan pertama anaknya latihan dengan menggunakan pistol milik klub. Melihat animo anaknya yang tinggi, Hartono membelikan unit pistol air soft gun jenis blowback merek HI-CAPA KP-05.
”Saya lihat anaknya minat dan perkembangannya terus maju. Di rumah, sampai latihan di atas kasur, tapi latihan kosong tanpa peluru. Hanya supaya terbiasa memegang senjatanya,” kata orang tua Haris Darmawan tersebut.
Setelah setahun berjalan, Hartono melihat sudah ada perkembangan pesat yang terjadi pada anaknya. Dia terus mendukung latihan yang dilakukan anaknya.
Ketua Tembak Reaksi Banyuwangi Shooting Club (TRBSC) Mohammad Dimyati menambahkan, ada empat atlet usia pembinaan yang sementara ini rutin berlatih. Di antaranya Shela Sabrina, Haris Darmawan, Mohamad Ramdhan, dan Webi Seno. Di luar itu, ada belasan atlet lainnya yang tercatat sebagai anggota klub.
Mantan ketua Tarung Derajat Banyuwangi itu mengatakan, setiap atlet menembak butuh fisik yang bagus. Sebelum berlatih harus senam dan berlari mengitari lapangan tembak. Baru kemudian bisa mulai memegang pistol dan menembakkan 20 peluru ke satu sasaran dengan tepat.
”Pistol hanya boleh digunakan saat berlatih. Selama di rumah, orang tuanya saya larang memberikan pistol, kecuali digunakan latihan,” kata Dimyati.
Dalam dua tahun terakhir, empat atlet binaan Dimyati menjadi peserta rutin lomba dan kejuaraan menembak tembak reaksi di Jawa Timur maupun Jawa-Bali. Meski belum terlalu populer, tembak reaksi menjadi olahraga yang prospektif bagi para atlet. Dengan minimnya persaingan, kesempatan atlet untuk bisa berprestasi semakin besar.
Di Jatim misalnya. Untuk kelas Women Elite, Shela Sabrina masih menjadi salah satu andalan di kejuaraan. Sedangkan untuk atlet lainnya sedang berjuang untuk bisa mencapai tahap itu. Dimyati berharap olahraga ini bisa menjadi pilihan. Apalagi banyak hal positif yang bisa diperoleh anak dengan berlatih tembak reaksi. ”Selain kepercayaan diri, anak-anak juga bisa lebih disiplin dan fokus dalam kesehariannya,” kata Dimyati. (aif/c1)