Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Pelukis S. Yadi K. yang Meninggal Mengawali Sukses dari Bali, Ini Teknik Lukisan yang Dipakai

Syaifuddin Mahmud • Jumat, 13 September 2024 | 11:30 WIB
PAKAI KRUK: S Yadi K (kanan) bersama Bupati Ipuk, Direktur JP-RaBa Samsudin Adlawi dan owner Langgar Arts Imam Maskun di arena pameran lukisan ArtOs Nusantara 2021.
PAKAI KRUK: S Yadi K (kanan) bersama Bupati Ipuk, Direktur JP-RaBa Samsudin Adlawi dan owner Langgar Arts Imam Maskun di arena pameran lukisan ArtOs Nusantara 2021.

RadarBanyuwangi.id – Meninggalnya perupa S. Yadi K. mengundang duka mendalam bagi teman-temannya sesama perupa.

Kamis (12/9) mereka ikut mengantarkan jenazah Yadi di TPU Banjarsari, Banyuwangi, Jawa Timur. Para perupa senior maupun junior mengaku kehilangan dengan sosok pelukis dengan teknik bloboran (pakai cat air) itu.

Yadi memang dikenal sangat dekat dengan para perupa. Dia kerap mendorong para perupa untuk menggelar pameran level lokal maupun regional.

Yadi juga dianggap sebagai panutan pelukis Banyuwangi. Sebagai senior, Yadi punya jiwa pendidik, pengayom bagi para perupa.

”Mulai generasi saya hingga adik-adik saya, Pak Yadi selalu memberikan bimbingan. Saya sangat salut dengan kepeduliannya yang begitu tinggi terhadap kemajuan seni lukis Banyuwangi,” ujar Windu Pamor, perupa asal Genteng.

Diungkapkan Windu, Yadi merupakan pelukis setelah angkatan almarhum Mozes Misdy.

Dia mengawali karir pada tahun 1990-an di Bali di bawah Sanggar Kamboja. Sejak saat itu, Yadi kerap menggelar pameran lukisan Surabaya maupun Jakarta.

Almarhum S. Yadi K.
Almarhum S. Yadi K.

”Kehadiran Mas Yadi menjadikan peta seni rupa nasional semakin kuat. Lukisan Mas Yadi disimpan di Balai Lelang dan di Istana Negara,” ungkap Windu.

Apresiasi serupa juga datang dari Ketua Yayasan Langgar Art Imam Maskun. Presiden ArtOs Nusantara itu merasa kehilangan dengan sosok Yadi.

Di mata Imam, Yadi adalah guru sekaligus teman diskusi untuk kemajuan seni rupa di Banyuwangi.

”Kami merasa kehilangan dengan kepergian Mas Yadi. Beliau guru bagi teman-teman perupa Banyuwangi,” ujar Imam.

Imam mengungkapkan, event-event pameran nasional seperti ArtOs Nusantara dan Kembang Langit tak lepas dari masukan-masukan Yadi.

Dalam event itu, Yadi hadir memamerkan karyanya yang bersanding dengan karya pelukis nasional seperti Awiki.

”Sebelum meninggal, Mas Yadi akan menuntaskan biografi lewat bukunya yang ditulis Henry Nurcahyo. Selamat tinggal Mas Yadi, karyamu akan tetap mewarnai dunia seni rupa,” kata bapak empat anak itu.

Sepeninggal Yadi dan Mozes Misdy, kini generasi perupa Banyuwangi dilanjutkan oleh tangan-tangan terampil perupa muda.

Ada Windu Pamor, Sugik Laros, Haruman Huda, Aan Suryanto, dan N. Kojin dari kelompok pelukis Satusama. (aif/c1)

Editor : Ali Sodiqin
#pelukis meninggal dunia #bali #obituari #pelukis #Seniman #perupa #banyuwangi