Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Abdikan Diri Servis Lonceng, Tukang Reparasi di Banyuwangi Ini Tanpa Generasi Penerus

Sigit Hariyadi • Senin, 26 Februari 2024 | 14:30 WIB
KENANGAN: Almarhum Badawi semasa hidup mengabdikan diri memperbaiki lonceng di Dusun Kedungliwung, Desa Kemiri, Singojuruh, Banyuwangi.
KENANGAN: Almarhum Badawi semasa hidup mengabdikan diri memperbaiki lonceng di Dusun Kedungliwung, Desa Kemiri, Singojuruh, Banyuwangi.

RadarBanyuwangi.id – Lonceng tua orisinal semakin langka di Banyuwangi.

Tak hanya produknya yang kian terbatas, bengkel jam kukuk ini pun kian sulit ditemukan.

Tak banyak sosok yang mengabdikan diri menjalani profesi sebagai tukang servis lonceng, seperti almarhum Badawi.

Semasa hidupnya dulu, dia bagaikan maestro tukang reparasi lonceng produksi lama. terus berkarya hingga hampir satu abad lamanya.  

Badawi memang sudah meninggal dunia beberapa tahun lalu.

Kini, urusan reparasi lonceng juga tak terurus sepeninggal almarhum.

Maklum, skill dan usaha reparasi lonceng tua tak diturunkan ke anak cucunya.

‘’Memang untuk urusan keahlian reparasi lonceng tua, sangat disayangkan tidak ada penerusnya,’’ ujar Hariyadi, salah satu cucu almarhum Badawi.

Menurut Hariyadi, banyak cucu Badawi yang menekuni profesi lain.

Tidak ada sama sekali cucu yang menekuni urusan perbaikan dan reparasi lonceng tua.

Padahal beberapa tahun silam, Badawi semasa hidupnya sangat produktif mereparasi lonceng tua.

Hingga usianya yang nyaris satu abad kala itu. Tidak hanya piawai memperbaiki jam lonceng, pria kelahiran 10 Februari 1933 itu juga mahir memperbaiki jam tangan analog.

Sehari-hari, dia sibuk mengutak-atik jam lonceng milik kliennya.

Tangannya masih cukup cekatan memutar obeng, untuk memasang baut-baut kecil di mesin jam tersebut.

Sesekali, dia membetulkan posisi kaca mata yang dia kenakan.

Sesekali pula dia mencopot kaca mata tersebut dan memilih menggunakan lup (kaca pembesar).

Memang mata merupakan organ sangat penting dalam perbaikan lonceng.

Di masa mudanya, suami Sunanti itu terbiasa memperbaiki lonceng dengan mata telanjang.

Menurut Hariyadi, kemampuan kakeknya reparasi lonceng tersebut diperoleh secara otodidak.

Tak ada guru, apalagi pembimbing. Terlebih, masa itu belum ada video tutorial di media sosial.

Kini, keahlian Badawi membongkar dan mengutak atik lonceng rusak tinggal cerita.

Cucu-cucunya hanya bisa meneruskan kisah-kisah kreativitas kakeknya.

Bahkan ketika suku cadang sudah tidak ada di pasaran, lelaki itu dikenal mampu membuat sendiri suku cadang jam tersebut.

Ya, zaman sudah berganti. Era tukang reparasi seperti Badawi memang sudah berlalu.

Sejak zaman penjajahan Jepang hingga era digital sekarang, jam-jam kayu sudah ditinggalkan. Waktu yang selalu terus berjalan. (sgt/bay)

Editor : Ali Sodiqin
#Reparasi #lonceng #generasi penerus #singojuruh #banyuwangi #tukang #servis