Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Kisah Wahyu Setiawan, Siswa Dikmata TNI AL asal Desa Tegalarum, Sempu, yang Meninggal Saat Ikut Pendidikan

Salis Ali Muhyidin • Rabu, 15 November 2023 | 14:30 WIB
DUKA: Avrianto (kanan) dan Poniran menunjukkan foto Wahyu Setiawan siswa Dikmata TNI AL yang meninggal saat pelatihan di Surabaya, Senin (13/11).
DUKA: Avrianto (kanan) dan Poniran menunjukkan foto Wahyu Setiawan siswa Dikmata TNI AL yang meninggal saat pelatihan di Surabaya, Senin (13/11).

SEMPU, RadarBanyuwangi.id – “Anak saya sudah berhasil meraih cita-citanya menjadi Tentara Nasional Indonesia (TNI). Tapi Allah punya kehendak lain,” kata Poniran, 52, bapak Wahyu Setiawan, 20, Siswa Pendidikan Pertama Tamtama (Dikmata) TNI AL yang meninggal saat mengikuti pelatihan di Surabaya, Minggu (12/11).

Suasana duka tampak terasa di rumah Wahyu Setiawan di Dusun Tegalyasan, Desa Tegalarum, Kecamatan Sempu, Banyuwangi.

Sejumlah warga berdatangan untuk menyampaikan bela sungkawa kepada keluarga siswa Pendidikan Pertama Tamtama (Dikmata) TNI AL angkatan XLIII/II Tahun 2003 itu.

Kerabat, tetangga, teman sejawat Wahyu semasa berjuang masuk TNI, hingga utusan Pusat Latihan dan Pendidikan Dasar Kemiliteran (Puslatdiksarmil) yang datang dengan air mata, disambut isak tangis oleh kedua orang tua Wahyu, Poniran, 52, dan Supiyatun, 50.

Tak ada yang menyangka anak pendiam yang lolos TNI setelah empat kali mendaftar itu, akhirnya tutup usia saat mengikuti dikmata.

Keluarga mengaku terakhir kali berkomunikasi dengan almarhum itu pada Kamis (2/11).

“Awalnya tidak percaya ada telepon dari sana (Puslatdiksarmil), saya kira ada yang mau menipu,” kata Poniran.

Poniran yang pada Minggu sekitar pukul 09.00 sedang arisan itu, mengaku terus ditelepon dengan nomor ponsel yang berganti-ganti.

“Karena tidak saya angkat lagi (telepon), tiba-tiba ada salah satu nomor kirim pesan melalui WhatsApp (WA), katanya Wahyu Setiawan dari Banyuwangi meninggal,” ujarnya menyampaikan isi pesan singkat itu.

Poniran masih tidak percaya dengan pesan singkat di ponselnya. Ia meminta bantuan salah satu rekannya Sugeng, yang juga guru psikotes Wahyu, untuk mencarikan kebenaran informasi tentang anaknya.

“Pak Sugeng telepon ke rekannya, ternyata benar, Wahyu meninggal,” ujarnya.

Tak berselang lama, ada telepon masuk dari Pangkalan TNI Angkatan Laut (Lanal) Banyuwangi yang juga ikut menginformasikan meninggalnya Wahyu ini.

“Tahu kabar itu, kami sekeluarga kaget, sedih, dan tibak bisa apa-apa selain menangis,” ucapnya sambil memegang foto putra ketiganya itu.

Dengan menahan rasa sedih, Poniran menyampaikan saat meninggalnya Wahyu itu, bertepatan dengan hari ulang tahunnya yang ke-20.

“Itu pas hari ulang tahunnya, Hari Minggu, tanggal 12, bulan November,” katanya.

Jenazah putranya yang berada di dalam peti, baru sampai di rumah sekitar pukul 20.00. Kedatangannya dengan diantar mobil ambulans itu, langsung disambut hujan tangis. “Saya sempat cek keadaan jenazahnya,” ujarnya.

Pada yang mengantar jenazah itu, Poniran sempat menanyakan penyebab utama putra tercintanya itu meninggal. Wahyu disebut meninggal karena sakit saat mengikuti pelatihan fisik.

“Informasinya itu Wahyu tiba-tiba pusing saat pelatihan, kemudian muntah-muntah,” ucapnya.

Poniran mengaku tak menyangka kontak melalui handphone (HP) pada Kamis (2/11) itu, yang terakhir perbincangannya dengan Wahyu.

Saat itu ada yang tidak wajar, anaknya itu seolah menyampaikan pesan perpisahan kepada keluarganya.

“Saat itu video call (VC) dengan saya dan kakaknya yang kerja di Surabaya. Wahyu pesan ke Avrianto (kakak Wahyu) untuk menjaga saya dan ibunya,” ucapnya.

Saat VC itu, kondisi Wahyu seperti kurang sehat. Selama berkomunikasi kerap batuk-batuk. Saat itu, sedang perjalanan dari Malang menuju Surabaya (sebelum pelatihan).

“Ada waktu sebentar buat telephone, dia telepon sambil menangis, mungkin kangen atau bagaimana ya,” katanya.

Meski sudah menerima kematian Wahyu, Poniran sempat menyampaikan pesan kepada pihak Puslatdiksarmil untuk melihat kondisi fisik siswanya.

“Masa dia tidak dikasih kesempatan menelepon orang tuanya. Barang sebentar mungkin bisa jadi penyembuh,” ujarnya seraya menyebut sudah ikhlas dengan kematian anaknya.

Rasa kehilangan disampaikan kakak Wahyu, Avrianto. Kepribadian adik ragilnya itu anak yang berprestasi di bidang akademik.

“Dia sekolahnya pintar, kalau sama saya tidak ada apa-apanya, dia cerdas,” ujarnya.

Wahyu yang dikenal tidak pernah neko-neko itu, tidak pernah membuat kedua orang tuanya kesusahan.

“Banyak diam, kalau pingin sesuatu jarang ngomong. Tidak pernah minta apa-apa kepada orang tua,” ungkapnya.

Adiknya yang mendaftar TNI AL, Avri menyebut keinginan itu diungkapkan saat Wahyu sudah duduk di bangku SMK. Sebelumnya, bercita-cita menjadi dokter.

“Sejak kecil cita-citanya menjadi dokter. Kalau ditanya pasti jawabnya ingin jadi dokter,” paparnya.

Baru saat masuk SMK, Wahyu tiba-tiba menyampaikan ingin menjadi abdi negara. Avri yang bekerja sebagai teknisi kapal laut menyambut baik cita-cita adiknya.

“Dia bilang pingin kerja di laut tapi tidak seperti saya, ingin jadi TNI AL. saya dorong untuk berlatih dan bersiap,” ujarnya.

Guru Psikotes Wahyu sejak 2020, Peltu Purn Sugeng menyampaikan, selama pembelajaran Wahyu yang paling menonjol dibanding siswa lain.

“Dia itu benar-benar cerdas. Saat diberi arahan untuk mengerjakan sesuatu, pasti bisa dengan baik. Makanya saya yakin bisa lolos dan jadi TNI AL,” sebut pria asal Desa Jambewangi, Kecamatan Sempu itu. (sas/abi)

Editor : Ali Sodiqin
#sempu #tni al #angkatan laut #siswa #duka #meninggal #Dikmata #banyuwangi