alexametrics
23.2 C
Banyuwangi
Monday, August 8, 2022

Embung dan Tandon Atasi Kekurangan Air saat Kemarau

RadarBanyuwangi.id – Banyak upaya dilakukan untuk mengantisipasi kekurangan air saat kemarau. Salah satunya dengan membuat tandon dan membangun embung atau waduk mini.

Pada Musim Kemarau II (MK II) debit sumber air di Banyuwangi sempat turun. Pada tahun 2019 lalu, debit sumber air turun 50 persen. Namun, kondisi saat ini sudah lebih baik jika dibanding kondisi pada tahun sebelumnya, di mana debit sumber air turun hingga 60 persen.

”Artinya, upaya-upaya yang telah dilakukan Dinas Pekerjaan Umum (PU) Pengairan dalam rangka pemenuhan kebutuhan air sedikit demi sedikit sudah terpenuhi,” ungkap Plt Kepala Dinas PU Pengairan Guntur Priambodo melalui Kepala Bidang (Kabid) Pembangunan dan Pengembangan Sumber Daya Air (SDA) Tjatur Hidayat Nugroho.

Pembangunan embung-embung lapangan dan konservasi yang telah dilakukan Dinas PU Pengairan sedikit demi sedikit memperbaiki daerah tangkapan air. Sehingga sumber air berangsur kembali normal.

Embung atau tandon air merupakan waduk berukuran mikro di lahan pertanian (small farm reservoir) yang dibangun untuk menampung kelebihan air hujan di musim hujan. Air yang ditampung tersebut, selanjutnya digunakan sebagai sumber irigasi suplementer untuk budi daya komoditas pertanian bernilai ekonomi tinggi di musim kemarau atau di saat curah hujan makin jarang.

Baca Juga :  Festival Susur Sungai Diawali dari Bendungan Karangdoro

Embung merupakan salah satu teknik pemanenan air (water harvesting) yang berfungsi sebagai tempat penampungan air drainase saat kelebihan air di musim hujan dan sebagai sumber air irigasi pada musim kemarau. Sementara pada ekosistem tadah hujan atau lahan kering dengan intensitas dan distribusi hujan yang tidak merata, embung dapat digunakan untuk menahan kelebihan air dan menjadi sumber air irigasi pada musim kemarau.

”Secara operasional sebenarnya embung berfungsi untuk mendistribusikan dan menjamin kontinuitas ketersediaan pasokan air untuk keperluan tanaman ataupun ternak di musim kemarau dan penghujan,” jelas Tjatur.

Tujuan pembuatan embung atau tandon untuk pertanian, lanjut Tjatur, untuk menampung air hujan dan aliran permukaan pada wilayah sekitarnya serta sumber air lainnya yang memungkinkan seperti mata air, parit, sungai-sungai kecil, dan sebagainya. ”Jadi, kita berupaya bagaimana saat kelebihan air, sebisa mungkin air ini ditahan dalam permukaan tanah dan tidak cepat terbuang ke laut,” terangnya.

Baca Juga :  Letusan Gunung Raung Bertipe Strombolian, Potensi Bahaya Sekitar Kawah

Keberadaan embung atau tandon dapat digunakan untuk pengairan tanaman di musim kemarau, serta meningkatkan produktivitas lahan. Serta tersedianya air untuk suplai irigasi di musim kemarau untuk tanaman palawija, hortikultura semusim, perkebunan semusim, dan peternakan.

”Embung atau tandon ini juga akan mencegah atau mengurangi luapan air di musim penghujan dan menekan risiko banjir, karena tertampungnya air hujan serta memperbesar peresapan air ke dalam tanah sehingga menjaga kontinuitas sumber air bersih di daerah tersebut,” imbuh Tjatur.

Mengingat Banyuwangi adalah salah satu lumbung pangan terbesar di Jawa Timur, maka sudah selayaknya pembangunan sumber daya air menjadi salah satu program utama bagi Pemerintah Kabupaten Banyuwangi. ”Dengan wilayah yang luas, sedangkan ketersediaan anggaran yang ada, tidak mungkin akan terpenuhi semua dalam waktu yang bersamaan. Skala prioritas tetap menjadi salah satu pertimbangan dalam melaksanakan pembangunan sumber daya air,” tandas Tjatur. (ddy/bay/c1)

RadarBanyuwangi.id – Banyak upaya dilakukan untuk mengantisipasi kekurangan air saat kemarau. Salah satunya dengan membuat tandon dan membangun embung atau waduk mini.

Pada Musim Kemarau II (MK II) debit sumber air di Banyuwangi sempat turun. Pada tahun 2019 lalu, debit sumber air turun 50 persen. Namun, kondisi saat ini sudah lebih baik jika dibanding kondisi pada tahun sebelumnya, di mana debit sumber air turun hingga 60 persen.

”Artinya, upaya-upaya yang telah dilakukan Dinas Pekerjaan Umum (PU) Pengairan dalam rangka pemenuhan kebutuhan air sedikit demi sedikit sudah terpenuhi,” ungkap Plt Kepala Dinas PU Pengairan Guntur Priambodo melalui Kepala Bidang (Kabid) Pembangunan dan Pengembangan Sumber Daya Air (SDA) Tjatur Hidayat Nugroho.

Pembangunan embung-embung lapangan dan konservasi yang telah dilakukan Dinas PU Pengairan sedikit demi sedikit memperbaiki daerah tangkapan air. Sehingga sumber air berangsur kembali normal.

Embung atau tandon air merupakan waduk berukuran mikro di lahan pertanian (small farm reservoir) yang dibangun untuk menampung kelebihan air hujan di musim hujan. Air yang ditampung tersebut, selanjutnya digunakan sebagai sumber irigasi suplementer untuk budi daya komoditas pertanian bernilai ekonomi tinggi di musim kemarau atau di saat curah hujan makin jarang.

Baca Juga :  Kesibukan Kasi Dokkes Iptu Sadimun Ikut Menanggulangi Covid-19

Embung merupakan salah satu teknik pemanenan air (water harvesting) yang berfungsi sebagai tempat penampungan air drainase saat kelebihan air di musim hujan dan sebagai sumber air irigasi pada musim kemarau. Sementara pada ekosistem tadah hujan atau lahan kering dengan intensitas dan distribusi hujan yang tidak merata, embung dapat digunakan untuk menahan kelebihan air dan menjadi sumber air irigasi pada musim kemarau.

”Secara operasional sebenarnya embung berfungsi untuk mendistribusikan dan menjamin kontinuitas ketersediaan pasokan air untuk keperluan tanaman ataupun ternak di musim kemarau dan penghujan,” jelas Tjatur.

Tujuan pembuatan embung atau tandon untuk pertanian, lanjut Tjatur, untuk menampung air hujan dan aliran permukaan pada wilayah sekitarnya serta sumber air lainnya yang memungkinkan seperti mata air, parit, sungai-sungai kecil, dan sebagainya. ”Jadi, kita berupaya bagaimana saat kelebihan air, sebisa mungkin air ini ditahan dalam permukaan tanah dan tidak cepat terbuang ke laut,” terangnya.

Baca Juga :  Lahan Petanian Warga Belum Bisa Dipakai

Keberadaan embung atau tandon dapat digunakan untuk pengairan tanaman di musim kemarau, serta meningkatkan produktivitas lahan. Serta tersedianya air untuk suplai irigasi di musim kemarau untuk tanaman palawija, hortikultura semusim, perkebunan semusim, dan peternakan.

”Embung atau tandon ini juga akan mencegah atau mengurangi luapan air di musim penghujan dan menekan risiko banjir, karena tertampungnya air hujan serta memperbesar peresapan air ke dalam tanah sehingga menjaga kontinuitas sumber air bersih di daerah tersebut,” imbuh Tjatur.

Mengingat Banyuwangi adalah salah satu lumbung pangan terbesar di Jawa Timur, maka sudah selayaknya pembangunan sumber daya air menjadi salah satu program utama bagi Pemerintah Kabupaten Banyuwangi. ”Dengan wilayah yang luas, sedangkan ketersediaan anggaran yang ada, tidak mungkin akan terpenuhi semua dalam waktu yang bersamaan. Skala prioritas tetap menjadi salah satu pertimbangan dalam melaksanakan pembangunan sumber daya air,” tandas Tjatur. (ddy/bay/c1)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/