alexametrics
24.1 C
Banyuwangi
Tuesday, July 5, 2022

Siap Berkarya Lagi jika Sudah Sembuh

Senari adalah satu-satunya seniman penulis lontar di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah. Hingga kini sudah 160 lontar yang ditulis lelaki berumur 70 tahun itu. Bagaimana kondisinya kini?

TAUFIK FERDIANSYAH, Glagah

PENULIS lontar ini tinggal di Dusun Dukuh Danah, Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Banyuwangi. Ada sekitar 160 lontar yang telah dia buat selama masih sehat dulu. Namun, sejak tiga bulan lalu dia hanya tergolek lemas di rumah sederhana berdinding gedhek dan beralas tanah itu. Senari kini memang sedang sakit.

Saat ini Senari tinggal dengan istrinya dan anaknya di rumah tersebut. Istrinya tidak bisa berjalan lantaran sakit, dan anaknya sakit sejak kecil. Informasinya, anak tersebut sakit karena saat masih kecil mengalami kejang-kejang.

Kehidupannya sehari-hari, Senari harus menunggu bantuan keluarga-keluarga terdekatnya. Saat ini, keperluan makan saja, kakak Senari yang memasoknya beserta keperluan lain.

Senari mengaku sudah menulis lontar sejak sebelum zaman Gerakan 30 S PKI. Sebelum menjadi penulis lontar, Senari adalah pelantun lontar Yusuf. Lontar Yusuf adalah kitab berhuruf Arab dan berbahasa Jawa kuno. Membacanya biasanya dengan cengkok khas bahasa Osing. Di Desa Kemiren, Senari tidak hanya dianggap sebagai senior pelantun kitab lontar. Saat ini dia juga dianggap sebagai senior penulis lontar, karena hanya dialah penulis lontar yang masih hidup.

Hal itu disampaikan Ketua Adat Desa Kemiren, Adi Purwadi. Menurut Purwadi, Senari merupakan sosok yang berkontribusi dalam tradisi mocoan lontar. Bahkan, Purwadi juga menyebut Senari merupakan orang paling senior di bidang penulisan lontar. Kontribusi yang diberikan Senari tidak hanya terkait tulisan-tulisan lontarnya. ”Sebelum jadi penulis lontar, Pak Senari adalah pelantun kitab lontar Yusuf yang terkenal di sini,” terang pria yang akrab di sapa Kang Pur itu.

Kang Pur tidak memungkiri bahwa Senari telah menghasilkan ratusan lontar yang banyak dipesan masyarakat. Dia menilai lontar buatan Senari sangat beda dengan lontar yang dibuat orang lain. ”Lontar buatan Pak Senari rapi dan enak dibaca. Sampulnya juga dia buat sendiri, jadi Pak Senari tidak pernah membuatkan sampul lontar buatannya di toko. Tapi dia buat sendiri, biasanya didondomi (dijahit) dengan benang, meski terlihat asal-asalan tapi sangat bagus sampulnya,” kata Kang Pur.

Dia menambahkan, Senari tidak hanya bisa menulis lontar Yusuf, Senari juga bisa menulis lontar pangkur, kasmaran, sinom, dan durmo. ”Pak Senari bisa menulis lontar dengan judul apa saja. Makanya dulu sering ada yang pesan ke Pak Senari. Tapi saat ini sakit. Dia sudah tidak bisa melayani pesanan lontar lagi. Mudah-mudahan Pak Senari sembuh kembali dan bisa kembali menulis lontar,” terang Kang Pur.

Sementara itu, dalam penghargaan kepada 20 seniman dan budayawan yang dilakukan Dewan Kesenian Blambangan (DKB) hari Minggu lalu (28/12), Senari sebenarnya diundang ke Rumah Budaya Osing (RBO). Dia diagendakan menerima penghargaan yang diberikan sebagai seniman lontar berprestasi. Sayang, Senari tidak bisa menghadiri acara tersebut karena sakit dan tidak mampu berjalan.

Mengetahui Senari tidak bisa datang untuk menerima penghargaan tersebut, pengurus DKB dan perwakilan Disbudpar mendatangi rumah Senari di Desa Kemiren. Piagam penghargaan diberikan langsung Ketua DKB Samsudin Adlawi kepada Senari. Terlihat wajah semringah terpancar dari wajah Senari yang saat didatangi hanya memakai sarung dan sedang tidur beralas tikar.

Bahkan, ketika beberapa pengurus DKB bertanya apakah masih sanggup menulis lontar, Senari dengan semangat menjawab masih sanggup. ”Kadung wes aron, yo gelem isun nggawe lontar maning (kalau sudah sembuh, saya mau membuat lontar lagi),” ucap Senari dengan semangat.

Dengan diberikannya penghargaan kepada Senari, Kang Pur sebagai perwakilan warga Desa Kemiren mengucapkan banyak terima kasih. Menurutnya, penghargaan itu sangat tepat diberikan kepada Senari mengingat kontribusinya dalam tradisi lontar selama ini. ”Kami sebagai warga Desa Kemiren sangat berterima kasih dengan pemberian penghargaan ini. Semoga DKB semakin terbuka matanya untuk lebih peduli terhadap budayawan dan seniman yang belum mendapat kepedulian,” harap Kang Pur.

Dia berharap masyarakat terus melestarikan lontar sampai kapan pun sebagai warisan leluhur yang harus dijaga kelestariannya. Menurutnya, lontar yang biasanya dibaca dalam hajatan-hajatan ini bertujuan baik. Tujuannya, agar pemilik hajatan tersebut diberi keselamatan. ”Kalau bicara Indonesia sebagai negara hukum, itu sangatlah masih kurang tepat. Tapi kalau bicara kebudayaan, di situlah arti Indonesia sesungguhnya. Maka dari itu, kita sebagai generasi penerus haruslah tetap melestarikan budaya kita agar tidak hilang,” pungkas Kang Pur.

Senari adalah satu-satunya seniman penulis lontar di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah. Hingga kini sudah 160 lontar yang ditulis lelaki berumur 70 tahun itu. Bagaimana kondisinya kini?

TAUFIK FERDIANSYAH, Glagah

PENULIS lontar ini tinggal di Dusun Dukuh Danah, Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Banyuwangi. Ada sekitar 160 lontar yang telah dia buat selama masih sehat dulu. Namun, sejak tiga bulan lalu dia hanya tergolek lemas di rumah sederhana berdinding gedhek dan beralas tanah itu. Senari kini memang sedang sakit.

Saat ini Senari tinggal dengan istrinya dan anaknya di rumah tersebut. Istrinya tidak bisa berjalan lantaran sakit, dan anaknya sakit sejak kecil. Informasinya, anak tersebut sakit karena saat masih kecil mengalami kejang-kejang.

Kehidupannya sehari-hari, Senari harus menunggu bantuan keluarga-keluarga terdekatnya. Saat ini, keperluan makan saja, kakak Senari yang memasoknya beserta keperluan lain.

Senari mengaku sudah menulis lontar sejak sebelum zaman Gerakan 30 S PKI. Sebelum menjadi penulis lontar, Senari adalah pelantun lontar Yusuf. Lontar Yusuf adalah kitab berhuruf Arab dan berbahasa Jawa kuno. Membacanya biasanya dengan cengkok khas bahasa Osing. Di Desa Kemiren, Senari tidak hanya dianggap sebagai senior pelantun kitab lontar. Saat ini dia juga dianggap sebagai senior penulis lontar, karena hanya dialah penulis lontar yang masih hidup.

Hal itu disampaikan Ketua Adat Desa Kemiren, Adi Purwadi. Menurut Purwadi, Senari merupakan sosok yang berkontribusi dalam tradisi mocoan lontar. Bahkan, Purwadi juga menyebut Senari merupakan orang paling senior di bidang penulisan lontar. Kontribusi yang diberikan Senari tidak hanya terkait tulisan-tulisan lontarnya. ”Sebelum jadi penulis lontar, Pak Senari adalah pelantun kitab lontar Yusuf yang terkenal di sini,” terang pria yang akrab di sapa Kang Pur itu.

Kang Pur tidak memungkiri bahwa Senari telah menghasilkan ratusan lontar yang banyak dipesan masyarakat. Dia menilai lontar buatan Senari sangat beda dengan lontar yang dibuat orang lain. ”Lontar buatan Pak Senari rapi dan enak dibaca. Sampulnya juga dia buat sendiri, jadi Pak Senari tidak pernah membuatkan sampul lontar buatannya di toko. Tapi dia buat sendiri, biasanya didondomi (dijahit) dengan benang, meski terlihat asal-asalan tapi sangat bagus sampulnya,” kata Kang Pur.

Dia menambahkan, Senari tidak hanya bisa menulis lontar Yusuf, Senari juga bisa menulis lontar pangkur, kasmaran, sinom, dan durmo. ”Pak Senari bisa menulis lontar dengan judul apa saja. Makanya dulu sering ada yang pesan ke Pak Senari. Tapi saat ini sakit. Dia sudah tidak bisa melayani pesanan lontar lagi. Mudah-mudahan Pak Senari sembuh kembali dan bisa kembali menulis lontar,” terang Kang Pur.

Sementara itu, dalam penghargaan kepada 20 seniman dan budayawan yang dilakukan Dewan Kesenian Blambangan (DKB) hari Minggu lalu (28/12), Senari sebenarnya diundang ke Rumah Budaya Osing (RBO). Dia diagendakan menerima penghargaan yang diberikan sebagai seniman lontar berprestasi. Sayang, Senari tidak bisa menghadiri acara tersebut karena sakit dan tidak mampu berjalan.

Mengetahui Senari tidak bisa datang untuk menerima penghargaan tersebut, pengurus DKB dan perwakilan Disbudpar mendatangi rumah Senari di Desa Kemiren. Piagam penghargaan diberikan langsung Ketua DKB Samsudin Adlawi kepada Senari. Terlihat wajah semringah terpancar dari wajah Senari yang saat didatangi hanya memakai sarung dan sedang tidur beralas tikar.

Bahkan, ketika beberapa pengurus DKB bertanya apakah masih sanggup menulis lontar, Senari dengan semangat menjawab masih sanggup. ”Kadung wes aron, yo gelem isun nggawe lontar maning (kalau sudah sembuh, saya mau membuat lontar lagi),” ucap Senari dengan semangat.

Dengan diberikannya penghargaan kepada Senari, Kang Pur sebagai perwakilan warga Desa Kemiren mengucapkan banyak terima kasih. Menurutnya, penghargaan itu sangat tepat diberikan kepada Senari mengingat kontribusinya dalam tradisi lontar selama ini. ”Kami sebagai warga Desa Kemiren sangat berterima kasih dengan pemberian penghargaan ini. Semoga DKB semakin terbuka matanya untuk lebih peduli terhadap budayawan dan seniman yang belum mendapat kepedulian,” harap Kang Pur.

Dia berharap masyarakat terus melestarikan lontar sampai kapan pun sebagai warisan leluhur yang harus dijaga kelestariannya. Menurutnya, lontar yang biasanya dibaca dalam hajatan-hajatan ini bertujuan baik. Tujuannya, agar pemilik hajatan tersebut diberi keselamatan. ”Kalau bicara Indonesia sebagai negara hukum, itu sangatlah masih kurang tepat. Tapi kalau bicara kebudayaan, di situlah arti Indonesia sesungguhnya. Maka dari itu, kita sebagai generasi penerus haruslah tetap melestarikan budaya kita agar tidak hilang,” pungkas Kang Pur.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/