Selasa, 25 Jan 2022
Radar Banyuwangi
Home / Features
icon featured
Features

Cerita Tiga Tunawicara Pengatur Lalin Genteng, Sehari Kantongi Rp 150K

30 November 2021, 06: 30: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

Cerita Tiga Tunawicara Pengatur Lalin Genteng, Sehari Kantongi Rp 150K

ATUR: Heru Prajoko, 38, asal Kelurahan Kebalenan, Kecamatan Banyuwangi, mengatur arus lalu lintas di jalan simpang tiga IAI Ibrahimy Genteng, Minggu (28/11). (Salis Ali Muhyidin/RadarBanyuwangi.id)

Share this      

GENTENG – “Selain mencari uang, niatnya juga membantu orang,” tulis Heru Prajoko, 38, asal Kelurahan Kebalenan, Kecamatan Banyuwangi, yang sehari-hari mengatur jalan di jalan simpang tiga IAI Ibrahimy, Dusun Krajan, Desa Genteng Wetan, Kecamatan Genteng.

Terik panas matahari, asap kendaraan yang tidak jarang membuat sesak pernapasan, hingga ancaman terserempet kendaraan, setiap hari harus dirasakan oleh Joko Prajoko, 38. Sadar akan minim keterampilan dan harus bertahan hidup, penyandang tunawicara sejak lahir itu memutuskan menjadi pengatur jalan raya sejak dua tahun lalu.

Pemuda asal Kelurahan Kebalenan, Kecamatan Banyuwangi, itu hanya mengenyam bangku pendidikan di Sekolah Luar Biasa (SLB) sampai tingkatan SD. “Tidak punya keterampilan, jadi kerja seperti ini sejak dua tahun lalu,” ungkapnya pada Jawa Pos Radar Genteng melalui tulisan di kertas.

Baca juga: Tradisi Anak Mudun Lemah, Sajiannya Jenang Lintang

Sebelum memutuskan menjadi pengatur jalan, Joko bekerja bersama bapaknya sebagai tukang kayu. Itupun garapan tidak banyak, hanya menggarap pesanan dari tetangga. “Dulu bekerja ikut bapak membuat pintu dan lainnya,” katanya.

Baru pada 2019, setelah diajak salah satu temannya yang bekerja pengatur jalan raya, ia memantapkan diri untuk mengambil pekerjaan tersebut. Baginya, menjadi pengatur jalan dituntut untuk tidak hanya mencari uang, tapi membantu pengguna jalan. “Tidak semua orang mau memberi uang, tapi ya harus tetap dilakukan, jalanan harus diatur agar tidak macet,” ungkapnya.

Dengan keterbatasan yang dimiliki, Joko ini termasuk sosok yang uilet dan sabar. Dengan sabar, membantu warga yang berlalu lalang di sekitar jalan simpang tiga IAI Ibrahimy Genteng. “Tidak diberi uang tidak marah, jalannya tetap diatur dengan baik,” cetus Muhammad Rifqi, pemilik warung yang biasa jadi tempat istirahat Joko.

Joko tidak sendirian mengatur pengguna jalan di daerah jalan simpang tiga terkenal titik kemacetan di Kota Genteng tersebut. Di tempat itu, ada tiga orang yang bekerja. Dan semuanya tunawicara. “Saya mulai jam 14.00 sampai 17.00,” ujar Rifqi menerjemahkan bahasa isyarat yang disampaikan Joko.

Di tiga jam bekerja itu, hasil yang didapat lumayan banyak, Joko mengaku pulang bisa membawa uang Rp 100 ribu hingga Rp150 ribu setiap hari. “Kalau hujan jumlahnya berkurang, jalanan jadi sepi,” terangnya.

Uang hasil bekerjanya itu, akan dibawa pulang untuk menghidupi istru dan dua anaknya yang kini berusia 10 dan 2.5 tahun. “Buat beli susu anak,” kata Joko melalui Rifqi yang setia menerjemahkan.

Keberadaan Joko mengatur jalanan sangat membantu para pengguna jalan. Jika Joko absen bekerja, jalan simpang tiga IAI Ibrahimy akan semrawut dan membahayakan. “Jalan semrawut,” katanya. (mg3/abi)

(bw/*/als/JPR)

©2022 PT. JawaPos Group Multimedia