alexametrics
28.1 C
Banyuwangi
Thursday, July 7, 2022

Nelayan Pantai Warudoyong Spesialis Bikin Perahu Jukung Layar

RadarBanyuwangi.id – Nelayan Warudoyong, Kelurahan Bulusan, Kecamatan Kalipuro, Banyuwangi, punya ciri khas menggunakan perahu jukung dengan layar. Sebagian jukung tersebut diproduksi sendiri. Namun kini, tak tampak lagi pembuat perahu layar yang dikenal cepat itu di Pantai Warudoyong.  

Ada tradisi menarik yang dilakukan warga Pantai Warudoyong. Setiap Agustusan, mereka biasanya menggelar lomba balap perahu layar. Namun lantaran banyak pembatasan akibat pandemi, lomba itu belum bisa dihelat kembali. 

Kalau melihat tahun-tahun sebelumnya, lomba balap kapal itu selalu meriah. Menarik banyak peserta dan penonton. Meski balapannya tanpa mesin, hanya mengandalkan angin.

Rute lomba balap perahu ini melintasi Selat Bali. Start di Pantai Warudoyong, kemudian menyeberang ke Bali, setelah itu kembali lagi ke Pantai Warudoyong.

Yang bikin tercengang, mereka hanya butuh waktu 10 menit untuk menyeberangi Selat Bali. Praktis, waktu mereka pergi pulang dari Warudoyong menyeberang ke Bali dan balik lagi ke Pantai Warudoyong hanya sekitar 20 menit.

Untuk mencapai kecepatan itu, memang banyak faktor. Yang utama tentu faktor cuaca. Lomba balap perahu layar biasanya dihelat setiap Agustus. Pada saat itu memang sedang kencang-kencangnya kecepatan angin.

Faktor kedua adalah skill nelayan alias joki kapal. Dia harus tahu medan. Harus paham rute tercepat yang dilalui. Juga cekatan dalam mengarahkan jalannya kapal dan mengelola layar dengan baik. Sehingga mendapatkan power yang diinginkan.

Yang terakhir, nelayan Bulusan itu harus punya perahu yang mumpuni. Ukurannya tidak harus besar. Namun, layar yang terkembang harus efektif. Perahu layar kecil inilah yang biasa dibuat warga pesisir sekitar. Bahan bakunya adalah kayu. Biasanya mereka membuat perahu di pesisir Warudoyong.

Namun, dari hasil pantauan wartawan Jawa Pos Radar Banyuwangi kemarin (28/8), pembuat perahu kayu tak lagi dijumpai di pesisir Warudoyong. Sejak pandemi melanda, pesanan perahu sepi. Lomba balap perahu layar Selat Bali pun tidak dihelat lagi. Selain itu, bahan baku kayu juga semakin mahal harganya.  

Padahal beberapa tahun silam, lomba adu cepat perahu layar mengarungi Selat Bali tak pernah sepi. Pada perkembangan selanjutnya, lomba balap perahu layar itu bahkan diikuti nelayan dari Banyuwangi, Situbondo, Madura, dan Bali.

Setiap lomba berlangsung, biasanya ada 20 perahu yang berangkat setiap babak. Masing-masing perahu jukung berisi dua orang joki. Nama masing-masing perahu yang akan diadu dan dipanggil untuk mempersiapkan diri di bibir pantai. Begitu ada aba-aba melalui pengeras suara. Peserta langsung mendorong perahu ke tengah lautan dan para joki bergegas naik ke atas perahu untuk mengemudi.

Karena jarak antarperahu yang berdekatan, beberapa kali nyaris terjadi tabrakan antarperahu. Maklum, para joki tersebut dituntut bisa mengendalikan laju perahu melalui layar yang berkembang dan diterpa tiupan angin kencang.

Para peserta beradu cepat mengemudi perahu dengan start di Pantai Warudoyong menuju tower di Pantai Gilimanuk dan kembali lagi ke garis finis di Pantai Warudoyong. Siapa yang tercepat sampai di garis finis dinyatakan sebagai pemenang. Hanya butuh waktu 20 menit pulang-pergi (PP) dari Jawa ke Bali.

Menjadi joki lomba perahu balap itu tak mudah. Selain harus mengendalikan perahu yang berpacu dengan tiupan angin yang kencang, sang joki harus bisa menaklukkan tinggi gelombang dan ombak di perairan Selat Bali.  Kalau tidak bisa membaca arah angin, perahu tak bisa jalan. Kadang karena saking kencangnya angin dan gelombang tinggi, tiang layar juga bisa patah di tengah perjalanan.

Para joki perahu layar beradu cepat dan ketangkasan dalam mengemudi perahu kayu hanya dengan berbekal layar yang dikembangkan. Tak pelak, masing-masing joki juga dituntut tangkas dan cerdik dalam membaca arah angin dan mengendalikan kemudi.

Nelayan Warudoyong, Sujarno mengatakan, lomba balap perahu layar semacam itu awalnya hanya diikuti nelayan setempat. Pesertanya hanya 30 orang nelayan setempat. Maklum saat itu, sebagian besar nelayan Pantai Warudoyong semua menggunakan perahu jukung. ”Ciri khas perahu jukung nelayan Warudoyong ini menggunakan layar,” ungkapnya.

Kegiatan tersebut sebagai ajang silaturahmi para nelayan di Pantai Warudoyong. Karena nelayan yang sandar di Pantai Warudoyong tidak hanya warga setempat, melainkan nelayan dari Gilimanuk, Kabupaten Jembrana, Bali.

Sebaliknya, nelayan dari Pantai Warudoyong juga sering bersandar di daerah Gilimanuk dan Jembrana. Untuk mempererat jalinan silaturahmi itulah, nelayan menggelar perlombaan balap perahu layar dengan rute melintasi Selat Bali tersebut.

Biasanya, lomba dilakukan bersamaan dengan peringatan acara petik laut Pantai Warudoyong, yang diperingati setiap Rabu Wekasan atau hari Rabu terakhir di bulan Safar. Seiring berjalannya waktu, lomba balap perahu layar tersebut ternyata juga masuk dalam kegiatan Agustusan. (ddy/sgt/bay/c1)

RadarBanyuwangi.id – Nelayan Warudoyong, Kelurahan Bulusan, Kecamatan Kalipuro, Banyuwangi, punya ciri khas menggunakan perahu jukung dengan layar. Sebagian jukung tersebut diproduksi sendiri. Namun kini, tak tampak lagi pembuat perahu layar yang dikenal cepat itu di Pantai Warudoyong.  

Ada tradisi menarik yang dilakukan warga Pantai Warudoyong. Setiap Agustusan, mereka biasanya menggelar lomba balap perahu layar. Namun lantaran banyak pembatasan akibat pandemi, lomba itu belum bisa dihelat kembali. 

Kalau melihat tahun-tahun sebelumnya, lomba balap kapal itu selalu meriah. Menarik banyak peserta dan penonton. Meski balapannya tanpa mesin, hanya mengandalkan angin.

Rute lomba balap perahu ini melintasi Selat Bali. Start di Pantai Warudoyong, kemudian menyeberang ke Bali, setelah itu kembali lagi ke Pantai Warudoyong.

Yang bikin tercengang, mereka hanya butuh waktu 10 menit untuk menyeberangi Selat Bali. Praktis, waktu mereka pergi pulang dari Warudoyong menyeberang ke Bali dan balik lagi ke Pantai Warudoyong hanya sekitar 20 menit.

Untuk mencapai kecepatan itu, memang banyak faktor. Yang utama tentu faktor cuaca. Lomba balap perahu layar biasanya dihelat setiap Agustus. Pada saat itu memang sedang kencang-kencangnya kecepatan angin.

Faktor kedua adalah skill nelayan alias joki kapal. Dia harus tahu medan. Harus paham rute tercepat yang dilalui. Juga cekatan dalam mengarahkan jalannya kapal dan mengelola layar dengan baik. Sehingga mendapatkan power yang diinginkan.

Yang terakhir, nelayan Bulusan itu harus punya perahu yang mumpuni. Ukurannya tidak harus besar. Namun, layar yang terkembang harus efektif. Perahu layar kecil inilah yang biasa dibuat warga pesisir sekitar. Bahan bakunya adalah kayu. Biasanya mereka membuat perahu di pesisir Warudoyong.

Namun, dari hasil pantauan wartawan Jawa Pos Radar Banyuwangi kemarin (28/8), pembuat perahu kayu tak lagi dijumpai di pesisir Warudoyong. Sejak pandemi melanda, pesanan perahu sepi. Lomba balap perahu layar Selat Bali pun tidak dihelat lagi. Selain itu, bahan baku kayu juga semakin mahal harganya.  

Padahal beberapa tahun silam, lomba adu cepat perahu layar mengarungi Selat Bali tak pernah sepi. Pada perkembangan selanjutnya, lomba balap perahu layar itu bahkan diikuti nelayan dari Banyuwangi, Situbondo, Madura, dan Bali.

Setiap lomba berlangsung, biasanya ada 20 perahu yang berangkat setiap babak. Masing-masing perahu jukung berisi dua orang joki. Nama masing-masing perahu yang akan diadu dan dipanggil untuk mempersiapkan diri di bibir pantai. Begitu ada aba-aba melalui pengeras suara. Peserta langsung mendorong perahu ke tengah lautan dan para joki bergegas naik ke atas perahu untuk mengemudi.

Karena jarak antarperahu yang berdekatan, beberapa kali nyaris terjadi tabrakan antarperahu. Maklum, para joki tersebut dituntut bisa mengendalikan laju perahu melalui layar yang berkembang dan diterpa tiupan angin kencang.

Para peserta beradu cepat mengemudi perahu dengan start di Pantai Warudoyong menuju tower di Pantai Gilimanuk dan kembali lagi ke garis finis di Pantai Warudoyong. Siapa yang tercepat sampai di garis finis dinyatakan sebagai pemenang. Hanya butuh waktu 20 menit pulang-pergi (PP) dari Jawa ke Bali.

Menjadi joki lomba perahu balap itu tak mudah. Selain harus mengendalikan perahu yang berpacu dengan tiupan angin yang kencang, sang joki harus bisa menaklukkan tinggi gelombang dan ombak di perairan Selat Bali.  Kalau tidak bisa membaca arah angin, perahu tak bisa jalan. Kadang karena saking kencangnya angin dan gelombang tinggi, tiang layar juga bisa patah di tengah perjalanan.

Para joki perahu layar beradu cepat dan ketangkasan dalam mengemudi perahu kayu hanya dengan berbekal layar yang dikembangkan. Tak pelak, masing-masing joki juga dituntut tangkas dan cerdik dalam membaca arah angin dan mengendalikan kemudi.

Nelayan Warudoyong, Sujarno mengatakan, lomba balap perahu layar semacam itu awalnya hanya diikuti nelayan setempat. Pesertanya hanya 30 orang nelayan setempat. Maklum saat itu, sebagian besar nelayan Pantai Warudoyong semua menggunakan perahu jukung. ”Ciri khas perahu jukung nelayan Warudoyong ini menggunakan layar,” ungkapnya.

Kegiatan tersebut sebagai ajang silaturahmi para nelayan di Pantai Warudoyong. Karena nelayan yang sandar di Pantai Warudoyong tidak hanya warga setempat, melainkan nelayan dari Gilimanuk, Kabupaten Jembrana, Bali.

Sebaliknya, nelayan dari Pantai Warudoyong juga sering bersandar di daerah Gilimanuk dan Jembrana. Untuk mempererat jalinan silaturahmi itulah, nelayan menggelar perlombaan balap perahu layar dengan rute melintasi Selat Bali tersebut.

Biasanya, lomba dilakukan bersamaan dengan peringatan acara petik laut Pantai Warudoyong, yang diperingati setiap Rabu Wekasan atau hari Rabu terakhir di bulan Safar. Seiring berjalannya waktu, lomba balap perahu layar tersebut ternyata juga masuk dalam kegiatan Agustusan. (ddy/sgt/bay/c1)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/