alexametrics
24.1 C
Banyuwangi
Tuesday, July 5, 2022

Kurang Tahan Laman, Perahu Kayu Minim Peminat

RadarBanyuwangi.id – Perahu kayu kini tak lagi diminati sejumlah nelayan. Selain pembuatannya yang memakan waktu, perahu kayu dinilai kurang efisien dan tak tahan lama.

Kondisi itu dirasakan oleh Tanjid, 60, salah seorang perajin perahu kayu warga Desa/Kecamatan Blimbingsari. Menurutnya, dalam pembuatan perahu kayu dibutuhkan proses yang lumayan panjang. Mula dari mencari bahan kayu berukuran besar yang disesuaikan dengan ukuran perahu.

Setelah mendapatkan kayu untuk bahan pembuatan perahu, kayu kemudian diproses pengeringan. ”Bagian kulit kayu harus dibersihkan dulu, baru dijemur setengah kering,” ungkap Tanjid.

Tak heran, jika dalam pembuatan perahu biasanya dia harus mendatangi pemesan sesuai permintaan. Namun, saat ini dia tak lagi melayani pembuatan perahu seperti dulu lagi, karena terbatas usia yang sudah tua. ”Ini hanya saya gunakan sendiri,” ujarnya.

Dalam satu perahu, Tanjid membutuhkan waktu antara 8 bulan hingga satu tahun. Sebab perahu dikerjakannya seorang diri dan hanya menggunakan peralatan seadanya seperti kapak, parang, dan peralatan lainnya. Untuk membuat satu perahu biasanya membutuhkan biaya Rp 15 juta.

Karena berbahan dasar kayu, maka perahu yang dikerjakan juga tergantung ukuran kayu yang tersedia. Kayu yang digunakan pun juga adalah kayu gelondongan berukuran besar dengan panjang antara enam hingga tujuh meter dan diameter mencapai 50 centimeter hingga 70 centimeter.

Rata-rata perahu memilih tiga jenis kayu yang tahan dengan ”kerasnya” air laut yakni kayu nyamplung, akasia, dan sambi. Sayang saat ini tiga jenis kayu tersebut susah untuk didapat. Selain mahal, kayu jenis tersebut juga mulai langka. Kayu-kayu langka itu kebanyakan didapat dari daerah Jember, Bondowoso, dan Situbondo. ”Kalau murah kayu sengon, bayur, jenis kayunya tidak terlalu keras tapi masih bisa dibentuk dan tahan lama,” terangnya.

Setelah kayu dibentuk menjadi perahu, proses selanjutnya yakni pengecatan. Namun sebelum dicat, terlebih dahulu diampelas dan dilapisi dengan dempul baru kemudian dicat, ditambah dengan perlengkapan seperti pemasangan katir perahu. Setelah semuanya selesai, baru perahu siap dibawa ke pantai untuk dites berlayar. Jika tidak ada kendala dan tak ada kebocoran, perahu siap digunakan. (ddy/bay/c1)

RadarBanyuwangi.id – Perahu kayu kini tak lagi diminati sejumlah nelayan. Selain pembuatannya yang memakan waktu, perahu kayu dinilai kurang efisien dan tak tahan lama.

Kondisi itu dirasakan oleh Tanjid, 60, salah seorang perajin perahu kayu warga Desa/Kecamatan Blimbingsari. Menurutnya, dalam pembuatan perahu kayu dibutuhkan proses yang lumayan panjang. Mula dari mencari bahan kayu berukuran besar yang disesuaikan dengan ukuran perahu.

Setelah mendapatkan kayu untuk bahan pembuatan perahu, kayu kemudian diproses pengeringan. ”Bagian kulit kayu harus dibersihkan dulu, baru dijemur setengah kering,” ungkap Tanjid.

Tak heran, jika dalam pembuatan perahu biasanya dia harus mendatangi pemesan sesuai permintaan. Namun, saat ini dia tak lagi melayani pembuatan perahu seperti dulu lagi, karena terbatas usia yang sudah tua. ”Ini hanya saya gunakan sendiri,” ujarnya.

Dalam satu perahu, Tanjid membutuhkan waktu antara 8 bulan hingga satu tahun. Sebab perahu dikerjakannya seorang diri dan hanya menggunakan peralatan seadanya seperti kapak, parang, dan peralatan lainnya. Untuk membuat satu perahu biasanya membutuhkan biaya Rp 15 juta.

Karena berbahan dasar kayu, maka perahu yang dikerjakan juga tergantung ukuran kayu yang tersedia. Kayu yang digunakan pun juga adalah kayu gelondongan berukuran besar dengan panjang antara enam hingga tujuh meter dan diameter mencapai 50 centimeter hingga 70 centimeter.

Rata-rata perahu memilih tiga jenis kayu yang tahan dengan ”kerasnya” air laut yakni kayu nyamplung, akasia, dan sambi. Sayang saat ini tiga jenis kayu tersebut susah untuk didapat. Selain mahal, kayu jenis tersebut juga mulai langka. Kayu-kayu langka itu kebanyakan didapat dari daerah Jember, Bondowoso, dan Situbondo. ”Kalau murah kayu sengon, bayur, jenis kayunya tidak terlalu keras tapi masih bisa dibentuk dan tahan lama,” terangnya.

Setelah kayu dibentuk menjadi perahu, proses selanjutnya yakni pengecatan. Namun sebelum dicat, terlebih dahulu diampelas dan dilapisi dengan dempul baru kemudian dicat, ditambah dengan perlengkapan seperti pemasangan katir perahu. Setelah semuanya selesai, baru perahu siap dibawa ke pantai untuk dites berlayar. Jika tidak ada kendala dan tak ada kebocoran, perahu siap digunakan. (ddy/bay/c1)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/