alexametrics
27.2 C
Banyuwangi
Tuesday, May 24, 2022

Kiai Munawir Dikenal Sakti dengan Kerikil Ajaibnya

SINGOJURUH – KH Munawir bin H. Maksum pada 1924. Ia anak kedua dari delapan bersaudara. Kiai Munawir mengasuh Pondok Pesantren Mambaul Falah di Dusun Kedungliwung, Desa Kemiri, Kecamatan Singojuruh, menggantikan kakaknya KH Rofi’i bin H. Maksum pada 1977.

Kiai Munawir menikah dengan Hj. Farihah putri Kiai Soleh dari Pondok Pesantren Bedewang, Kecamatan Songgon, Banyuwangi, dikaruniai enam anak.

Perjalanan hidup Kiai Munawir tergolong unik. Saat masih kecil, oleh disuruh orang tuanya disuruh masuk pesantren, tapi menolak dan memilih bergabung dengan kesenian Rengganis, sejenis ketoprak. Saat main ketoprak, diketahui oleh kakaknya, KH Rofi’I yang berwatak keras.

Kakaknya marak besar hingga membuat Kiai Munawir ketakutan dan lari ke pondok pesantren di Panggangrejo, Kecamatan Singojuruh asuhan Kiai Sanusi. “Ini pondok pertama Kiai Munawir,” terang KH Ahmad Hidayatul Fikri atau yang biasa disapa Gus Fikru, putra sulung Kiai Munawir.

Dari pesantren di Panggangrejo itu, Kiai Munawir melanjutkan ke pesantren Damsari, dan Pondok Pesantren Jenisari, Desa Genteng Kulon, Kecamatan Genteng asuhan Kiai Muhtar. “Dari Pesantren jenisari, Kiai Munawir masuk pesantren di daerah Kabupaten Pati, Jawa Tengah asuhan Kiai Zahwan, dan pindah ke pondok pesantren di Kabupaten Kudus asuhan Kiai Asnawi.

Dari pesantren di Kudus, Kiai Munawir pindak ke Pondok Pesantren Krapyak, Jogjakarta, dan pindah ke Pondok Pesantren Darul Hikam Pare, Kediri. Terakhir, Kiai Munawir belajar di  Pondok Pesantren Kencong, Jember asuhan iai Zamroji. “Kiai Munawir mondok tidak pernah lama,” jelasnya.

Baca Juga :  Pesantren Didorong Manfaatkan KUR untuk Mandiri dan Berjiwa Usaha

Saat di pesantren Kencong, Kiai Munawir berbaiat pada salah satu thariqah, yaitu thariqah Qadhariyah Naqsabandiyah. Kiai Munawir lama tinggal di pondok itu sampai menjadi santri kesayangan sang kiai. dan sempat akan diambil mantu. Tapi, Kiai Munawir keburu pulang ke kampung halamanya dan menikah dengan Hj. Farihah putri Kiai Soleh dari Pondok Pesantren Bedewang, Kecamatan Songgon. “Setelah pulang kampung, Kiai Munawir menjadi mursyid Thariqah Qadhariyah Naqsabandiyah,” terangnya.

Saat berada di rumahnya ini, Kiai Munawir mulanya membantu kakaknya KH. Rofi’I mengurus pesantren dengan mengisi pengajian kitab kuning kepada para santri. Kiai Munawir juga aktif berdakwah pada peringatan keagaaman. “Kiai Munawir juga aktif menjadi pengurus NU, banyak tamu datang ke rumah untuk diminta tolong menyelesaikan masalah,” katanya.

Saat membantu menyelesaikan tamunya, Kiai Munawir sering membawa kerikil ajaib. Dan kerikil itu, ternyata sangat terkenal. Kiai Munawir pernah kedatangan tamu yang mengaku sawahnya terserang hama. Mendengar keluhan itu, Kiai Munawir masuk kamar dan keluar memberikan beberapa kerikil kepada tamunya itu, seraya memberitahu amalan yang harus dibacakan. “Setiap persoalan bacaanya berbeda, tapi medianya batu kerikil,” jelas Gus Fikru.

Ada cerita lagi, pasangan suami istri yang sudah lama menikah belum dikarunai anak mengadu ke Kiai Munawir. Pada pasangan itu, Kiai Munawir hanya menyampaikan sesampai di rumah diminta melihat di bawah kasur. “Ternyata di bawah kasur ditemukan batu kerikil pemberian Kiai Munawir beberapa tahun lalu,” ungkapnya.

Baca Juga :  Berharap Tanah Pesantren Dapat Sertipikat Wakaf

Pasangan suami istri itu, dulu pernah datang ke rumah Kiai Munawir agar tidak hamil dulu. Saat itu, Kiai Munawir memberi batu kerikil. “Pasangan itu lupa pernah meminta pada Kiai Munawir agar jangan hamil dulu,” jelasnya.

Setelah itu, pasangan itu membuang batu kerikil yang berada di bawah kasur. Setelah itu, sang istri ternyata bisa hamil. “Banyak cerita tentang Kiai Munawir yang umumnya berhubungan dengan batu kerikil,” ungkapnya.

Selama hidup, Kiai Munawir terkenal dengan kesabaran dan lemah lembut. Salah satu bukti kesabarannya saat menjadi pengasuh Pondok Pesantren Mambaul Falah. Saat ada ancaman pesantrennya akan dibakar karena tidak mau menurut pemerintah, Kiai Munawir tetap sabar dan membiarkan beberapa oknum yang ingin membakar pesantrennya. “Ternyata orang yang akan membakar itu tidak berani,” ucapnya.

Selama memimpin pesantren, Kiai Munawir menggunakan metode pondok salaf murni dengan hanya mengajarkan kitab kuning. Saat itu, santrinya sekitar 500 orang dari berbagai daerah. Setelah kiai wafat pada 12 Robiul awal, atau bertepatan tahun 2006, santrinya mulai berkurang dan hampir habis.

Untuk itu, Gus Fikru yang menggantikan pimpinan pesantren berinisiatif mendirikan lembaga formal. Dan ini, membuat santri kembali meningkat. “Setiap tahun santri yang mukim selalu bertambah,” pungkas Gus Fikru.(mg5/abi)

SINGOJURUH – KH Munawir bin H. Maksum pada 1924. Ia anak kedua dari delapan bersaudara. Kiai Munawir mengasuh Pondok Pesantren Mambaul Falah di Dusun Kedungliwung, Desa Kemiri, Kecamatan Singojuruh, menggantikan kakaknya KH Rofi’i bin H. Maksum pada 1977.

Kiai Munawir menikah dengan Hj. Farihah putri Kiai Soleh dari Pondok Pesantren Bedewang, Kecamatan Songgon, Banyuwangi, dikaruniai enam anak.

Perjalanan hidup Kiai Munawir tergolong unik. Saat masih kecil, oleh disuruh orang tuanya disuruh masuk pesantren, tapi menolak dan memilih bergabung dengan kesenian Rengganis, sejenis ketoprak. Saat main ketoprak, diketahui oleh kakaknya, KH Rofi’I yang berwatak keras.

Kakaknya marak besar hingga membuat Kiai Munawir ketakutan dan lari ke pondok pesantren di Panggangrejo, Kecamatan Singojuruh asuhan Kiai Sanusi. “Ini pondok pertama Kiai Munawir,” terang KH Ahmad Hidayatul Fikri atau yang biasa disapa Gus Fikru, putra sulung Kiai Munawir.

Dari pesantren di Panggangrejo itu, Kiai Munawir melanjutkan ke pesantren Damsari, dan Pondok Pesantren Jenisari, Desa Genteng Kulon, Kecamatan Genteng asuhan Kiai Muhtar. “Dari Pesantren jenisari, Kiai Munawir masuk pesantren di daerah Kabupaten Pati, Jawa Tengah asuhan Kiai Zahwan, dan pindah ke pondok pesantren di Kabupaten Kudus asuhan Kiai Asnawi.

Dari pesantren di Kudus, Kiai Munawir pindak ke Pondok Pesantren Krapyak, Jogjakarta, dan pindah ke Pondok Pesantren Darul Hikam Pare, Kediri. Terakhir, Kiai Munawir belajar di  Pondok Pesantren Kencong, Jember asuhan iai Zamroji. “Kiai Munawir mondok tidak pernah lama,” jelasnya.

Baca Juga :  Tingkatkan Pengajian dan Kajian selama Ramadan

Saat di pesantren Kencong, Kiai Munawir berbaiat pada salah satu thariqah, yaitu thariqah Qadhariyah Naqsabandiyah. Kiai Munawir lama tinggal di pondok itu sampai menjadi santri kesayangan sang kiai. dan sempat akan diambil mantu. Tapi, Kiai Munawir keburu pulang ke kampung halamanya dan menikah dengan Hj. Farihah putri Kiai Soleh dari Pondok Pesantren Bedewang, Kecamatan Songgon. “Setelah pulang kampung, Kiai Munawir menjadi mursyid Thariqah Qadhariyah Naqsabandiyah,” terangnya.

Saat berada di rumahnya ini, Kiai Munawir mulanya membantu kakaknya KH. Rofi’I mengurus pesantren dengan mengisi pengajian kitab kuning kepada para santri. Kiai Munawir juga aktif berdakwah pada peringatan keagaaman. “Kiai Munawir juga aktif menjadi pengurus NU, banyak tamu datang ke rumah untuk diminta tolong menyelesaikan masalah,” katanya.

Saat membantu menyelesaikan tamunya, Kiai Munawir sering membawa kerikil ajaib. Dan kerikil itu, ternyata sangat terkenal. Kiai Munawir pernah kedatangan tamu yang mengaku sawahnya terserang hama. Mendengar keluhan itu, Kiai Munawir masuk kamar dan keluar memberikan beberapa kerikil kepada tamunya itu, seraya memberitahu amalan yang harus dibacakan. “Setiap persoalan bacaanya berbeda, tapi medianya batu kerikil,” jelas Gus Fikru.

Ada cerita lagi, pasangan suami istri yang sudah lama menikah belum dikarunai anak mengadu ke Kiai Munawir. Pada pasangan itu, Kiai Munawir hanya menyampaikan sesampai di rumah diminta melihat di bawah kasur. “Ternyata di bawah kasur ditemukan batu kerikil pemberian Kiai Munawir beberapa tahun lalu,” ungkapnya.

Baca Juga :  Kiai Hasan Abdillah Pelopor Peringatan Haul di Banyuwangi

Pasangan suami istri itu, dulu pernah datang ke rumah Kiai Munawir agar tidak hamil dulu. Saat itu, Kiai Munawir memberi batu kerikil. “Pasangan itu lupa pernah meminta pada Kiai Munawir agar jangan hamil dulu,” jelasnya.

Setelah itu, pasangan itu membuang batu kerikil yang berada di bawah kasur. Setelah itu, sang istri ternyata bisa hamil. “Banyak cerita tentang Kiai Munawir yang umumnya berhubungan dengan batu kerikil,” ungkapnya.

Selama hidup, Kiai Munawir terkenal dengan kesabaran dan lemah lembut. Salah satu bukti kesabarannya saat menjadi pengasuh Pondok Pesantren Mambaul Falah. Saat ada ancaman pesantrennya akan dibakar karena tidak mau menurut pemerintah, Kiai Munawir tetap sabar dan membiarkan beberapa oknum yang ingin membakar pesantrennya. “Ternyata orang yang akan membakar itu tidak berani,” ucapnya.

Selama memimpin pesantren, Kiai Munawir menggunakan metode pondok salaf murni dengan hanya mengajarkan kitab kuning. Saat itu, santrinya sekitar 500 orang dari berbagai daerah. Setelah kiai wafat pada 12 Robiul awal, atau bertepatan tahun 2006, santrinya mulai berkurang dan hampir habis.

Untuk itu, Gus Fikru yang menggantikan pimpinan pesantren berinisiatif mendirikan lembaga formal. Dan ini, membuat santri kembali meningkat. “Setiap tahun santri yang mukim selalu bertambah,” pungkas Gus Fikru.(mg5/abi)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/