alexametrics
28.2 C
Banyuwangi
Wednesday, June 29, 2022

Arif Nur Samsu, Berobsesi Hijaukan Lereng Raung dengan Tanaman Alpukat

BANYUWANGI – Sukses berbisnis jeruk dan buah naga, Arif Nur Samsu kini mulai mengembangkan alpukat. Mengusung konsep optimalisasi lahan dan pemberdayaan masyarakat, Arif optimistis alpukat akan menjadi buah yang digandrungi banyak orang.

Arif tertarik menanam alpukat karena banyak lahan kosong di Banyuwangi. Melihat potensi pasar yang terbuka lebar serta ketersediaan lahan yang luas membuatnya tertarik membudidayakan tanaman musiman itu. Dia melihat bahwa alpukat banyak dibutuhkan masyarakat, termasuk untuk kebutuhan pembuatan produk minuman jus di kafe yang dia kelola.

Arif mencoba menanam 15 bibit alpukat di belakang kafenya di Jajag. Tidak hanya dijadikan tempat nongkrong, lahan yang ada di sekitar kafe juga difungsikan menjadi trial kebun. Selama beberapa bulan Arif sempat tidak mendapat pasokan alpukat, sehingga menu jus alpukat selalu kosong. Kalaupun ada terlalu mahal jika dibuat produk minuman. ”Dari kejadian tersebut saya berpikir, bagaimana sih cara menanam alpukat,” ujar Arif saat ditemui di sebuah warung di belakang Polsek Glagah.

Arif juga mendapat informasi dari sopir pengirim buah naga ke Medan. Para sopir membawa alpukat dari Medan menuju Banyuwangi. Tak tanggung-tanggung jumlahnya mencapai 50 ton per minggu. ”Setahun ke belakang pasokan alpukat tidak dapat mencukupi kebutuhan pasar di Banyuwangi,” ungkap pria berusia 41 tahun itu.

Arif pernah menanam alpukat dengan bibit yang dibeli dari kios. Namun, setelah tiga tahun tanam ternyata kualitasnya tidak sesuai dengan harapan. Maka dia memutuskan mengambil bibit dari balai yang sudah teruji kualitasnya. ”Kalau dari kios ada yang tidak berbuah, ketika sudah berbuah varietasnya ternyata berbeda. Kami komplain ke pemilik kios juga sudah lupa. Kalau bibit dari balai dua tahun tanam saja sudah mulai panen,” kata Arif.

Arif mencoba menanam 15 bibit pada lahan trial kebun di Dragon Cafe. Setelah melihat perkembangan yang cepat dan hasil memuaskan, dia berpikir untuk melakukan penanaman dalam jumlah besar. Namun, Arif tidak mempunyai lahan yang tersedia. Dia akhirnya bekerja sama dengan Perhutani dengan membuat konsep pemberdayaan bersama Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH).

Arif juga melihat penghasilan ekonomi masyarakat hutan masih minim, maka perlu diberikan edukasi untuk mengelola lahan perhutanan sosial. Konsentrasi awal penanaman adalah di hutan. Perhutani wilayah barat memberikan izin pengelolaan lahan seluas 100 hektare. Saat ini alpukat yang ditanam sudah mencapai 14.000 bibit, dengan cakupan lahan seluas 70 hektare. ”Sistemnya kerja sama kemitraan dengan LMDH. Jadi, ketika panen nanti kami beli dengan harga mitra. Bibit, teknologi pendampingan, dan pupuk kami sediakan,” terang Arif

Terdapat tiga jenis alpukat yang saat ini ditanam, yaitu jenis miki, aligator, dan markus. Arif memilih tiga jenis tersebut untuk mengatur waktu panen secara bertahap, sehingga tidak ada jeda ketika selesai masa panen. Jenis yang paling kecil adalah miki, usia dari bunga menuju panen yaitu 4–5 bulan. Untuk ukuran yang agak besar adalah aligator, waktu panen berkisar 5–6 bulan. Kemudian jenis yang paling besar adalah markus beratnya mencapai 1,5–2 kilogram, membutuhkan 7–8 bulan masa panen.

Tidak hanya melakukan pemberdayaan pada LMDH, Arif juga menggagas konsep pemberdayaan pemuda desa dan kemandirian santri. Dia membuat program giat alpukat untuk anak-anak muda yang ada di desa. Arif melihat generasi muda saat ini tidak produktif dan terjajah dengan kecanggihan teknologi. Maka, dia melecut semangat pemuda desa agar menjadi generasi yang produktif.

Pada tiap kecamatan terdapat satu desa yang dijadikan pilot project. Sementara ini sudah ada 4 desa, yaitu Desa Sepanjang, Kradenan, Sempu, dan Ringintelu. Arif menyediakan bibit alpukat yang nantinya ditanam dan dirawat oleh pemuda desa. Lahan yang digunakan adalah lahan pekarangan warga di setiap rumah.

”Ada dua pohon alpukat di setiap rumah warga. Untuk pupuk kami edukasi menggunakan pupuk organik, alasan pertama biayanya rendah dan harapannya ketika kapasitas tanam alpukat ini banyak nanti bisa diekspor. Jadi, bisa lolos uji laboratorium pestisida,” ungkapnya.

Terkait konsep kemandirian santri, Arif melihat peluang pada pesantren di daerah Muncar dan Tegaldlimo. Daerah itu mempunyai lahan wakaf luas tapi hanya ditanami pisang yang penghasilannya tidak menentu. Maka, Arif menawarkan konsep tersebut dan direspons dengan baik. Saat ini terdapat empat pesantren yang telah menanam alpukat.

”Harapan kami santri tidak hanya belajar pada penguatan agama, namun juga terlibat dalam kegiatan pemberdayaan. Kemudian yang kedua, minimal anak-anak santri ini tidak ada ketergantungan kepada orang tuanya. Paling tidak ada penghasilan yang dapat digunakan untuk biaya di ponpes,” harap Arif.

Total bibit alpukat yang ditanam pada lahan Perhutani, pekarangan rumah warga, dan lahan wakaf pesantren sebanyak 18.000 ribu bibit. Arif masih fokus untuk menyelesaikan penanaman pada lahan yang diberikan izin pengelolaan oleh Perhutani. ”Sementara ini kami fokus untuk mengerjakan sisa lahan perhutanan sosial yang belum ditanami,” ujar bapak dua anak itu.

Dengan jumlah tanaman alpukat mencapai 18.000 pohon, Arif optimistis dua tahun ke depan, Banyuwangi bakal kebanjiran buah alpukat. Dia pun telah menyiapkan treatment, mulai pola tanam hingga pemasaran nanti. Apalagi respons Pemkab Banyuwangi dengan tanaman alpukat cukup bagus. Dinas Pertanian dan Pangan Banyuwangi sangat mendukung dengan kegiatan menanam alpukat. ”Kami optimistis tanaman alpukat bisa mendongkrak hasil pertanian Banyuwangi,” kata dia.

Keseharian Arif kini dihabiskan untuk menanam alpukat. Tiap hari dia blusukan ke kampung dan hutan untuk melihat perkembangan tanaman alpukat.  Sebab, sebagian alpukat juga ditanam di lereng Gunung Raung. ”Kami akan sabuki (baca: hijaukan) lereng Raung dengan tanaman alpukat. Doakan saja dua tahun lagi sudah panen raya alpukat,” pungkasnya. (mg2)

BANYUWANGI – Sukses berbisnis jeruk dan buah naga, Arif Nur Samsu kini mulai mengembangkan alpukat. Mengusung konsep optimalisasi lahan dan pemberdayaan masyarakat, Arif optimistis alpukat akan menjadi buah yang digandrungi banyak orang.

Arif tertarik menanam alpukat karena banyak lahan kosong di Banyuwangi. Melihat potensi pasar yang terbuka lebar serta ketersediaan lahan yang luas membuatnya tertarik membudidayakan tanaman musiman itu. Dia melihat bahwa alpukat banyak dibutuhkan masyarakat, termasuk untuk kebutuhan pembuatan produk minuman jus di kafe yang dia kelola.

Arif mencoba menanam 15 bibit alpukat di belakang kafenya di Jajag. Tidak hanya dijadikan tempat nongkrong, lahan yang ada di sekitar kafe juga difungsikan menjadi trial kebun. Selama beberapa bulan Arif sempat tidak mendapat pasokan alpukat, sehingga menu jus alpukat selalu kosong. Kalaupun ada terlalu mahal jika dibuat produk minuman. ”Dari kejadian tersebut saya berpikir, bagaimana sih cara menanam alpukat,” ujar Arif saat ditemui di sebuah warung di belakang Polsek Glagah.

Arif juga mendapat informasi dari sopir pengirim buah naga ke Medan. Para sopir membawa alpukat dari Medan menuju Banyuwangi. Tak tanggung-tanggung jumlahnya mencapai 50 ton per minggu. ”Setahun ke belakang pasokan alpukat tidak dapat mencukupi kebutuhan pasar di Banyuwangi,” ungkap pria berusia 41 tahun itu.

Arif pernah menanam alpukat dengan bibit yang dibeli dari kios. Namun, setelah tiga tahun tanam ternyata kualitasnya tidak sesuai dengan harapan. Maka dia memutuskan mengambil bibit dari balai yang sudah teruji kualitasnya. ”Kalau dari kios ada yang tidak berbuah, ketika sudah berbuah varietasnya ternyata berbeda. Kami komplain ke pemilik kios juga sudah lupa. Kalau bibit dari balai dua tahun tanam saja sudah mulai panen,” kata Arif.

Arif mencoba menanam 15 bibit pada lahan trial kebun di Dragon Cafe. Setelah melihat perkembangan yang cepat dan hasil memuaskan, dia berpikir untuk melakukan penanaman dalam jumlah besar. Namun, Arif tidak mempunyai lahan yang tersedia. Dia akhirnya bekerja sama dengan Perhutani dengan membuat konsep pemberdayaan bersama Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH).

Arif juga melihat penghasilan ekonomi masyarakat hutan masih minim, maka perlu diberikan edukasi untuk mengelola lahan perhutanan sosial. Konsentrasi awal penanaman adalah di hutan. Perhutani wilayah barat memberikan izin pengelolaan lahan seluas 100 hektare. Saat ini alpukat yang ditanam sudah mencapai 14.000 bibit, dengan cakupan lahan seluas 70 hektare. ”Sistemnya kerja sama kemitraan dengan LMDH. Jadi, ketika panen nanti kami beli dengan harga mitra. Bibit, teknologi pendampingan, dan pupuk kami sediakan,” terang Arif

Terdapat tiga jenis alpukat yang saat ini ditanam, yaitu jenis miki, aligator, dan markus. Arif memilih tiga jenis tersebut untuk mengatur waktu panen secara bertahap, sehingga tidak ada jeda ketika selesai masa panen. Jenis yang paling kecil adalah miki, usia dari bunga menuju panen yaitu 4–5 bulan. Untuk ukuran yang agak besar adalah aligator, waktu panen berkisar 5–6 bulan. Kemudian jenis yang paling besar adalah markus beratnya mencapai 1,5–2 kilogram, membutuhkan 7–8 bulan masa panen.

Tidak hanya melakukan pemberdayaan pada LMDH, Arif juga menggagas konsep pemberdayaan pemuda desa dan kemandirian santri. Dia membuat program giat alpukat untuk anak-anak muda yang ada di desa. Arif melihat generasi muda saat ini tidak produktif dan terjajah dengan kecanggihan teknologi. Maka, dia melecut semangat pemuda desa agar menjadi generasi yang produktif.

Pada tiap kecamatan terdapat satu desa yang dijadikan pilot project. Sementara ini sudah ada 4 desa, yaitu Desa Sepanjang, Kradenan, Sempu, dan Ringintelu. Arif menyediakan bibit alpukat yang nantinya ditanam dan dirawat oleh pemuda desa. Lahan yang digunakan adalah lahan pekarangan warga di setiap rumah.

”Ada dua pohon alpukat di setiap rumah warga. Untuk pupuk kami edukasi menggunakan pupuk organik, alasan pertama biayanya rendah dan harapannya ketika kapasitas tanam alpukat ini banyak nanti bisa diekspor. Jadi, bisa lolos uji laboratorium pestisida,” ungkapnya.

Terkait konsep kemandirian santri, Arif melihat peluang pada pesantren di daerah Muncar dan Tegaldlimo. Daerah itu mempunyai lahan wakaf luas tapi hanya ditanami pisang yang penghasilannya tidak menentu. Maka, Arif menawarkan konsep tersebut dan direspons dengan baik. Saat ini terdapat empat pesantren yang telah menanam alpukat.

”Harapan kami santri tidak hanya belajar pada penguatan agama, namun juga terlibat dalam kegiatan pemberdayaan. Kemudian yang kedua, minimal anak-anak santri ini tidak ada ketergantungan kepada orang tuanya. Paling tidak ada penghasilan yang dapat digunakan untuk biaya di ponpes,” harap Arif.

Total bibit alpukat yang ditanam pada lahan Perhutani, pekarangan rumah warga, dan lahan wakaf pesantren sebanyak 18.000 ribu bibit. Arif masih fokus untuk menyelesaikan penanaman pada lahan yang diberikan izin pengelolaan oleh Perhutani. ”Sementara ini kami fokus untuk mengerjakan sisa lahan perhutanan sosial yang belum ditanami,” ujar bapak dua anak itu.

Dengan jumlah tanaman alpukat mencapai 18.000 pohon, Arif optimistis dua tahun ke depan, Banyuwangi bakal kebanjiran buah alpukat. Dia pun telah menyiapkan treatment, mulai pola tanam hingga pemasaran nanti. Apalagi respons Pemkab Banyuwangi dengan tanaman alpukat cukup bagus. Dinas Pertanian dan Pangan Banyuwangi sangat mendukung dengan kegiatan menanam alpukat. ”Kami optimistis tanaman alpukat bisa mendongkrak hasil pertanian Banyuwangi,” kata dia.

Keseharian Arif kini dihabiskan untuk menanam alpukat. Tiap hari dia blusukan ke kampung dan hutan untuk melihat perkembangan tanaman alpukat.  Sebab, sebagian alpukat juga ditanam di lereng Gunung Raung. ”Kami akan sabuki (baca: hijaukan) lereng Raung dengan tanaman alpukat. Doakan saja dua tahun lagi sudah panen raya alpukat,” pungkasnya. (mg2)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/