alexametrics
27.8 C
Banyuwangi
Monday, July 4, 2022

Siaga hingga Mata Merah, Suara Habis, Tensi Naik

Bencana banjir bandang di Desa Alasmalang tidak terlepas dari sejumlah sosok tangguh yang selalu hadir di tengah penanganan bencana. Salah satunya, Eka Muharam yang tak pernah tidur nyenyak dan jarang pulang ke rumah.

Bahan kebutuhan pokok me­numpuk di posko tanggap darurat bencana yang berada di Balai Desa Alasmalang. Jumlahnya tak terhitung. Sejumlah relawan dengan mengenakan kaus ber­warna oranye juga terlihat sibuk. Ada yang menyortir pakaian bekas, ada yang mendata bantuan, ada juga yang mengemas bahan ke­butuhan pokok ke dalam kresek plastik. Semuanya serba sibuk. Nyaris tidak ada satu pun yang menganggur.

Tak kalah sibuknya dengan para relawan adalah Kepala Bidang (Kabid) Kedaruratan dan Logistik BPBD Banyuwangi Eka Muharam Suryadi. Lelaki berusia 55 tahun tersebut nyaris tak bisa bernapas lega. Selalu ada saja yang datang menghampirinya. Mulai dari sebatas koordinasi, hingga mela­yani wawancara para wartawan yang melakukan peliputan.

Sosoknya tak bisa lepas dari hiruk pikuk penanganan bencana banjir di Desa Alasmalang. Pe­rannya cukup sentral. Meski hanya sebagai Sekretaris Tim Posko Tanggap Darurat yang berada di bawah komando Ketua Tim Posko Tanggap Darurat Letkol (inf) Ruli Nuryanto yang juga Komandan Kodim 0825 Banyuwangi.

Sejak bencana banjir bandang di Desa Alasmalang melanda, le­­laki yang tinggal di Kelurahan/Kecamatan Giri ini tak pernah pulang ke rumah. Aktivitasnya tak kenal waktu. Bahkan, nyaris mengganggu kondisi kese­ha­tannya. ”Tensi darah saya sempat naik, tapi sekarang sudah tak lagi. Saya pikirkan yang penting korban bencana banjir bandang terse­lesaikan,” ungkapnya.

Jika kebanyakan karyawan dan PNS bekerja berdasar waktu masuk pagi dan pulang sore hari. Bagi seluruh staf Badan Penanggu­la­ngan Bencana Daerah (BPBD), hal tersebut seolah tak lagi berlaku. Apalagi jika terjadi bencana alam. Jam kerja tak lagi dihiraukan. ”Bagi kami yang ada di BPBD harus siap dan sigap kapan pun. Karena bencana sekecil apa pun kita harus hadir melayani di tengah-tengah ma­syarakat,” ujar bapak dua anak ini.

Manajemen penanganan ben­cana harus benar-benar dikoor­dinasi dengan matang. Tak sem­barangan orang mampu mela­kukan.

Apalagi berkaitan dengan men­data, mengatur, menganalisis, hingga mendistribusikan bantuan dalam jumlah besar. ”Konsep pen­distribusian bantuan dalam bencana itu harus adil dan merata,” katanya.

Belum lagi, dia juga harus ber­koordinasi dengan seluruh elemen masyarakat dan stake­hol­der. Pasalnya di lokasi bencana selalu ada lembaga yang ikut bersama-sama mendirikan posko dengan tujuan membantu korban ben­cana. Semuanya harus menjadi satu pintu berada di bawah ko­mando Ketua Tim Tanggap Darurat. ”Kuncinya harus ikhlas dan berkorban demi kepentingan orang banyak. Apalagi warga yang terdampak bencana sudah dalam kondisi kesulitan dan kesusahan,” jelasnya

Karena tak pernah berhenti dan terus melakukan koordinasi, komunikasi, dan melayani setiap tamu yang datang di posko. Suaranya juga nyaris tenggelam dan tak bisa mengucapkan satu kata pun. ”Ini sudah lumayan bisa didengar, kemarin sudah tak bisa didengarkan karena suara saya hilang,” kenangnya.

Meski kualitas tidurnya tak terjamin dan hanya dua jam setiap malam, dia tak terlalu cemas dan khawatir. Untuk menjaga kondisi tubuhnya agar tetap fit, sehat, dan segar, Eka selalu membawa dan mengonsumsi madu dan habatussaudah. ”Istri saya selalu mengingatkan lewat telepon agar selalu menjaga kesehatan,” katanya.

Dengan kondisi mata sebab dan memerah, Eka terus bertahan berada di Posko tanggap darurat bencana banjir bandang di Desa Alasmalang. Karena baginya bisa melayani masyarakat terdampak bencana merupakan pekerjaan mulia. ”Disyukuri, dijalani, dan dinikmati. Semuanya akan terasa ringan dan berkah,” tandasnya sambil terkekeh.

Bencana banjir bandang di Desa Alasmalang tidak terlepas dari sejumlah sosok tangguh yang selalu hadir di tengah penanganan bencana. Salah satunya, Eka Muharam yang tak pernah tidur nyenyak dan jarang pulang ke rumah.

Bahan kebutuhan pokok me­numpuk di posko tanggap darurat bencana yang berada di Balai Desa Alasmalang. Jumlahnya tak terhitung. Sejumlah relawan dengan mengenakan kaus ber­warna oranye juga terlihat sibuk. Ada yang menyortir pakaian bekas, ada yang mendata bantuan, ada juga yang mengemas bahan ke­butuhan pokok ke dalam kresek plastik. Semuanya serba sibuk. Nyaris tidak ada satu pun yang menganggur.

Tak kalah sibuknya dengan para relawan adalah Kepala Bidang (Kabid) Kedaruratan dan Logistik BPBD Banyuwangi Eka Muharam Suryadi. Lelaki berusia 55 tahun tersebut nyaris tak bisa bernapas lega. Selalu ada saja yang datang menghampirinya. Mulai dari sebatas koordinasi, hingga mela­yani wawancara para wartawan yang melakukan peliputan.

Sosoknya tak bisa lepas dari hiruk pikuk penanganan bencana banjir di Desa Alasmalang. Pe­rannya cukup sentral. Meski hanya sebagai Sekretaris Tim Posko Tanggap Darurat yang berada di bawah komando Ketua Tim Posko Tanggap Darurat Letkol (inf) Ruli Nuryanto yang juga Komandan Kodim 0825 Banyuwangi.

Sejak bencana banjir bandang di Desa Alasmalang melanda, le­­laki yang tinggal di Kelurahan/Kecamatan Giri ini tak pernah pulang ke rumah. Aktivitasnya tak kenal waktu. Bahkan, nyaris mengganggu kondisi kese­ha­tannya. ”Tensi darah saya sempat naik, tapi sekarang sudah tak lagi. Saya pikirkan yang penting korban bencana banjir bandang terse­lesaikan,” ungkapnya.

Jika kebanyakan karyawan dan PNS bekerja berdasar waktu masuk pagi dan pulang sore hari. Bagi seluruh staf Badan Penanggu­la­ngan Bencana Daerah (BPBD), hal tersebut seolah tak lagi berlaku. Apalagi jika terjadi bencana alam. Jam kerja tak lagi dihiraukan. ”Bagi kami yang ada di BPBD harus siap dan sigap kapan pun. Karena bencana sekecil apa pun kita harus hadir melayani di tengah-tengah ma­syarakat,” ujar bapak dua anak ini.

Manajemen penanganan ben­cana harus benar-benar dikoor­dinasi dengan matang. Tak sem­barangan orang mampu mela­kukan.

Apalagi berkaitan dengan men­data, mengatur, menganalisis, hingga mendistribusikan bantuan dalam jumlah besar. ”Konsep pen­distribusian bantuan dalam bencana itu harus adil dan merata,” katanya.

Belum lagi, dia juga harus ber­koordinasi dengan seluruh elemen masyarakat dan stake­hol­der. Pasalnya di lokasi bencana selalu ada lembaga yang ikut bersama-sama mendirikan posko dengan tujuan membantu korban ben­cana. Semuanya harus menjadi satu pintu berada di bawah ko­mando Ketua Tim Tanggap Darurat. ”Kuncinya harus ikhlas dan berkorban demi kepentingan orang banyak. Apalagi warga yang terdampak bencana sudah dalam kondisi kesulitan dan kesusahan,” jelasnya

Karena tak pernah berhenti dan terus melakukan koordinasi, komunikasi, dan melayani setiap tamu yang datang di posko. Suaranya juga nyaris tenggelam dan tak bisa mengucapkan satu kata pun. ”Ini sudah lumayan bisa didengar, kemarin sudah tak bisa didengarkan karena suara saya hilang,” kenangnya.

Meski kualitas tidurnya tak terjamin dan hanya dua jam setiap malam, dia tak terlalu cemas dan khawatir. Untuk menjaga kondisi tubuhnya agar tetap fit, sehat, dan segar, Eka selalu membawa dan mengonsumsi madu dan habatussaudah. ”Istri saya selalu mengingatkan lewat telepon agar selalu menjaga kesehatan,” katanya.

Dengan kondisi mata sebab dan memerah, Eka terus bertahan berada di Posko tanggap darurat bencana banjir bandang di Desa Alasmalang. Karena baginya bisa melayani masyarakat terdampak bencana merupakan pekerjaan mulia. ”Disyukuri, dijalani, dan dinikmati. Semuanya akan terasa ringan dan berkah,” tandasnya sambil terkekeh.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/