alexametrics
28.1 C
Banyuwangi
Thursday, July 7, 2022

Okupansi Terkerek Event dan Promosi

DUNIA perhotelan di Banyuwangi berkembang pesat dalam kurun tiga tahun terakhir. Hotel-hotel baru pun bermunculan. Peningkatan jumlah hotel itu berbanding lurus dengan tingkat hunian alias okupansi kamar hotel, termasuk hotel-hotel yang telah lama berdiri di kabupaten berjuluk The Sunrise of Java ini.
Diakui atau tidak, perkembangan pariwisata yang begitu pesat sedikit banyak berimbas pada geliat bisnis perhotelan di Banyuwangi.

Apalagi, Pemkab Banyuwangi juga berusaha mengembangkan wisata berbasis MICE (meeting, in­centives, convention, exhi­bi­tion). Bukan itu saja, “status” Ba­nyuwangi sebagai daerah jujugan studi banding atau bench­marking ikut mengangkat tingkat hunian kamar hotel di Banyu­wa­ngi.

Dampak positifnya, Banyuwangi kerap dipilih oleh lembaga peme­rintahan maupun instansi tingkat pusat atau provinsi sebagai lokasi rapat maupun pertemuan. Tidak sedikit pula pejabat daerah asal berbagai penjuru tanah air datang ke Banyuwangi untuk belajar berbagai hal, mulai ino­vasi pelayanan publik, kinerja pe­merintahan, dan lain-lain. Tentu, saat berada di Banyuwangi, mereka membutuhkan akomo­da­si, termasuk hotel.

Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Ba­nyu­wangi Zainal Muttaqin mengatakan, secara garis besar, per­kembangan hotel di Banyu­wa­ngi sangat pesat beberapa ta­hun terakhir. “Banyak investor yang berinvestasi di Banyuwangi, teru­tama di wilayah Kota Banyu­wangi,” ujarnya.

Selain banyak hotel baru yang ber­diri di Banyuwangi, tingkat hu­nian hotel pun meningkat. Contoh terbaru,  pada saat libur Natal 2017 pada 24 Desember dan 25 Desember, okupansi hotel berbintang sekelas Santika, el-Royale, Mirah, dan lain-lain men­capai 90 persen. “Sedangkan hotel dengan kelas di bawahnya, tingkat hunian di angka 50 persen sampai 60 persen. Tingkat hunian itu bertahan hingga menjelang tahun baru,” kata Zainal.

Menurut Zainal, tamu hotel pada saat libur Natal dan Tahun Baru mayoritas merupakan wisa­tawan yang berkunjung des­tinasi-des­tinasi wisata di Bumi Blambangan. “Ini meru­pakan imbas dari pro­mosi dan pengembangan destinasi wisata yang dilakukan Pemkab Banyu­wa­ngi,” cetusnya.

Zainal menambahkan, perkem­bangan MICE di Banyuwangi juga cukup pesat beberapa tahun terakhir. Itu terbukti dari meeting, pelatihan, dan lain-lain banyak dila­kukan di hotel, khususnya di wilayah Kota Banyuwangi,” ucap­nya.

Masih menurut Zainal, saat ini jumlah hotel anggota PHRI sebanyak 66 unit dengan total kamar sebanyak 2.645 unit. Selain itu, dalam waktu dekat akan ada beberapa hotel baru yang siap beroperasi.

Yang menarik, Zainal mengaku tidak risau dengan keberadaan hotel-hotel baru yang segera beroperasi tersebut. “Kalau dari kacamata PHRI, pangsa pasar atau segmentasi mereka sudah jelas. Tidak akan terlalu berpe­nga­ruh pada hotel yang tidak berjaringan,” akunya.

Sementara itu, General Mana­ger Hotel Ketapang Indah Iwan Suprajitno mengatakan, tren okupansi hotel yang berlokasi di Desa Ketapang, Kecamatan Kalipuro, itu kita cenderung naik dua tahun terakhir. “Kenaikan bisa sampai delapan persen sampai 13 persen,” kata dia.

Iwan menuturkan, okupansi hotel Ketapang Indah rata-rata full saat weekend. Sedangkan pada weekday, tingkat okupansi rata-rata 70 persen. “Namun, ti­dak jarang saat weekday pun okupansi kita penuh,” ucapnya.

Bukan hanya okupansi kamar hotel, Iwan mengaku tingkat penggu­naan hall Hotel Ketapang Indah juga mengalami pening­katan cukup signifikan dibanding dua sampai tiga tahun lalu. “Saat ini rata-rata ada empat sampai lima eventt MICE yang digelar di aula Hotel Ketapang Indah,” ce­tusnya.

Asisten Sales Manager Hotel San­tika Eko Saputra menam­bah­kan, perkembangan bisnis hotel di Banyuwangi sedikit ba­nyak merupakan impact dari dari banyaknya eventt yang digelar pemkab, terutama event besar se­perti Banyuwangi Ethno Car­nival (BEC), International Tour de Banyuwangi Ijen (ITdBI), dan lain-lain.

Selain itu, promosi destinasi wisata juga berimbas besar terha­dap tingkat okupansi hotel di Banyuwangi. “Bukan hanya pasar Indonesia, bahkan pasar Eropa banyak yang menjangkau Banyuwangi,” ujarnya.

Lebih jauh Eko mengatakan, Banyuwangi jadi percontohan nasional, misalnya dari sisi perkem­bangan ekonomi, pe­ngen­tasan kemiskinan, dan lain-lain. “Akibatnya, banyak sekali daerah lain yang datang ke Banyuwangi untuk belajar atau studi banding. Imbasnya ke hotel. Tamu-tamu tersebut me­nginap di hotel,” tuturnya.

Eko mengungkapkan, rata-rata okupansi Hotel Santika dalam setahun terakhir mencapai 80 persen lebih pada weekday. Sedangkan saat weekend, tingkat okupansi hotel yang satu ini “hanya” sekitar 70 persen. “Ka­re­na konsep kita business hotel. Jadi, okupansi yang lebih tinggi pada weekday, bukan weekend,” pungkasnya. (*)

DUNIA perhotelan di Banyuwangi berkembang pesat dalam kurun tiga tahun terakhir. Hotel-hotel baru pun bermunculan. Peningkatan jumlah hotel itu berbanding lurus dengan tingkat hunian alias okupansi kamar hotel, termasuk hotel-hotel yang telah lama berdiri di kabupaten berjuluk The Sunrise of Java ini.
Diakui atau tidak, perkembangan pariwisata yang begitu pesat sedikit banyak berimbas pada geliat bisnis perhotelan di Banyuwangi.

Apalagi, Pemkab Banyuwangi juga berusaha mengembangkan wisata berbasis MICE (meeting, in­centives, convention, exhi­bi­tion). Bukan itu saja, “status” Ba­nyuwangi sebagai daerah jujugan studi banding atau bench­marking ikut mengangkat tingkat hunian kamar hotel di Banyu­wa­ngi.

Dampak positifnya, Banyuwangi kerap dipilih oleh lembaga peme­rintahan maupun instansi tingkat pusat atau provinsi sebagai lokasi rapat maupun pertemuan. Tidak sedikit pula pejabat daerah asal berbagai penjuru tanah air datang ke Banyuwangi untuk belajar berbagai hal, mulai ino­vasi pelayanan publik, kinerja pe­merintahan, dan lain-lain. Tentu, saat berada di Banyuwangi, mereka membutuhkan akomo­da­si, termasuk hotel.

Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Ba­nyu­wangi Zainal Muttaqin mengatakan, secara garis besar, per­kembangan hotel di Banyu­wa­ngi sangat pesat beberapa ta­hun terakhir. “Banyak investor yang berinvestasi di Banyuwangi, teru­tama di wilayah Kota Banyu­wangi,” ujarnya.

Selain banyak hotel baru yang ber­diri di Banyuwangi, tingkat hu­nian hotel pun meningkat. Contoh terbaru,  pada saat libur Natal 2017 pada 24 Desember dan 25 Desember, okupansi hotel berbintang sekelas Santika, el-Royale, Mirah, dan lain-lain men­capai 90 persen. “Sedangkan hotel dengan kelas di bawahnya, tingkat hunian di angka 50 persen sampai 60 persen. Tingkat hunian itu bertahan hingga menjelang tahun baru,” kata Zainal.

Menurut Zainal, tamu hotel pada saat libur Natal dan Tahun Baru mayoritas merupakan wisa­tawan yang berkunjung des­tinasi-des­tinasi wisata di Bumi Blambangan. “Ini meru­pakan imbas dari pro­mosi dan pengembangan destinasi wisata yang dilakukan Pemkab Banyu­wa­ngi,” cetusnya.

Zainal menambahkan, perkem­bangan MICE di Banyuwangi juga cukup pesat beberapa tahun terakhir. Itu terbukti dari meeting, pelatihan, dan lain-lain banyak dila­kukan di hotel, khususnya di wilayah Kota Banyuwangi,” ucap­nya.

Masih menurut Zainal, saat ini jumlah hotel anggota PHRI sebanyak 66 unit dengan total kamar sebanyak 2.645 unit. Selain itu, dalam waktu dekat akan ada beberapa hotel baru yang siap beroperasi.

Yang menarik, Zainal mengaku tidak risau dengan keberadaan hotel-hotel baru yang segera beroperasi tersebut. “Kalau dari kacamata PHRI, pangsa pasar atau segmentasi mereka sudah jelas. Tidak akan terlalu berpe­nga­ruh pada hotel yang tidak berjaringan,” akunya.

Sementara itu, General Mana­ger Hotel Ketapang Indah Iwan Suprajitno mengatakan, tren okupansi hotel yang berlokasi di Desa Ketapang, Kecamatan Kalipuro, itu kita cenderung naik dua tahun terakhir. “Kenaikan bisa sampai delapan persen sampai 13 persen,” kata dia.

Iwan menuturkan, okupansi hotel Ketapang Indah rata-rata full saat weekend. Sedangkan pada weekday, tingkat okupansi rata-rata 70 persen. “Namun, ti­dak jarang saat weekday pun okupansi kita penuh,” ucapnya.

Bukan hanya okupansi kamar hotel, Iwan mengaku tingkat penggu­naan hall Hotel Ketapang Indah juga mengalami pening­katan cukup signifikan dibanding dua sampai tiga tahun lalu. “Saat ini rata-rata ada empat sampai lima eventt MICE yang digelar di aula Hotel Ketapang Indah,” ce­tusnya.

Asisten Sales Manager Hotel San­tika Eko Saputra menam­bah­kan, perkembangan bisnis hotel di Banyuwangi sedikit ba­nyak merupakan impact dari dari banyaknya eventt yang digelar pemkab, terutama event besar se­perti Banyuwangi Ethno Car­nival (BEC), International Tour de Banyuwangi Ijen (ITdBI), dan lain-lain.

Selain itu, promosi destinasi wisata juga berimbas besar terha­dap tingkat okupansi hotel di Banyuwangi. “Bukan hanya pasar Indonesia, bahkan pasar Eropa banyak yang menjangkau Banyuwangi,” ujarnya.

Lebih jauh Eko mengatakan, Banyuwangi jadi percontohan nasional, misalnya dari sisi perkem­bangan ekonomi, pe­ngen­tasan kemiskinan, dan lain-lain. “Akibatnya, banyak sekali daerah lain yang datang ke Banyuwangi untuk belajar atau studi banding. Imbasnya ke hotel. Tamu-tamu tersebut me­nginap di hotel,” tuturnya.

Eko mengungkapkan, rata-rata okupansi Hotel Santika dalam setahun terakhir mencapai 80 persen lebih pada weekday. Sedangkan saat weekend, tingkat okupansi hotel yang satu ini “hanya” sekitar 70 persen. “Ka­re­na konsep kita business hotel. Jadi, okupansi yang lebih tinggi pada weekday, bukan weekend,” pungkasnya. (*)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/