alexametrics
24.7 C
Banyuwangi
Saturday, July 2, 2022

Suster Paroki Santo Paulus Jajag Juara Nasional Penyuluh Agama Katolik

BANYUWANGI – Banyuwangi adalah daerah yang ramah bagi perbedaan. Hal itu dibuktikan oleh Suster Marina Regina Mia Rahayu. Suster yang bertugas di Paroki Santo Paulus Jajag ini berhasil meraih juara nasional penyuluh agama Katolik yang diselenggarakan oleh Kemenag RI.

Harmoni umat beragama di Banyuwangi tergambar begitu jelas. Di kantor pusat pemerintahan Bumi Blambangan. Tepatnya kantor Pemkab Banyuwangi, Senin (25/10).

Kala itu, Bupati Ipuk Fiestiandani menggelar pertemuan dengan sejumlah tokoh agama Katolik. Sang bupati yang mengenakan pakaian dinas warna cokelat dan dipadu dengan jilbab warna krem, duduk berdampingan dengan Pemimpin Paroki Santo Paulus Romo Fadjar Tedjo Soekarno.

Bukan hanya mereka berdua, pertemuan itu juga dihadiri sejumlah pejabat di lingkup Pemkab Banyuwangi dan beberapa suster. Salah satunya Suster Marina Regina Mia Rahayu yang kala itu mengenakan pakaian warna hitam lengkap dengan velum (kerudung suster) warna senada.

Rupanya, Bupati Ipuk sengaja mengundang Suster Marina ke kantornya. Itu merupakan wujud apresiasi Ipuk kepada suster yang bertugas di Paroki Santo Paulus Jajag, Kecamatan Gambiran, tersebut. Sebab, Suster Marina telah menjadi juara nasional penyuluh agama Katolik yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama (Kemenag) RI.

Suster Marina memenangkan juara pertama penyuluh agama non-pegawai negeri sipil (PNS) yang mengambil tema moderasi beragama. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), moderasi berarti pengurangan kekerasan/penghindaran keekstreman. Dengan demikian, moderasi beragama yang dimaksud bisa diartikan sebagai sikap mengurangi kekerasan atau menghindari keekstreman dalam cara pandang, sikap, dan praktik beragama.

Suster Marina mengawali kompetisi penyuluh agama Katolik tersebut di tingkat kabupaten. Selanjutnya, dia berhasil menang di tingkat provinsi. Lantas, dia pun mewakili Provinsi Jatim untuk berkompetisi di level nasional. ”Materi yang kami sampaikan adalah tentang upaya yang dilakukan kami di Paroki dalam berinteraksi dengan umat maupun dengan pemeluk agama lain di Banyuwangi,” ujarnya.

Dari interaksi tersebut, lanjut Marina, kebersamaan yang terbangun antarumat beragama di Banyuwangi menjadi poin penilaian yang tinggi. ”Terutama dalam kebersamaan menangani pandemi Covid-19. Kami saling bantu seperti halnya berbagi sembako dan saling support dalam menjalankan protokol kesehatan (prokes),” terangnya.

Dia menambahkan, awalnya dirinya hanya mengirim video. Kemudian dia juga mengirimkan esai. ”Setelah lolos empat besar, dilakukan peninjauan langsung ke lapangan oleh pihak Direktorat Jenderal (Ditjen) Ditjen Bimbingan Masyarakat (Bimas) Katolik Kemenag. Setelah itu dilakukan presentasi lagi di depan dewan juri untuk menentukan juara utamanya,” beber Marina.

Sementara itu, Bupati Ipuk mengaku bangga atas prestasi yang diraih oleh Suster Marina. Menurutnya hal tersebut sebagai satu langkah penting dalam mengampanyekan harmoni umat beragama di Banyuwangi kepada dunia. ”Ini semakin menunjukkan bahwa Banyuwangi adalah daerah yang ramah bagi perbedaan. Masyarakatnya rukun. Banyuwangi tidak hanya memiliki pemandangan yang indah, namun juga memiliki masyarakat yang hidup rukun berdampingan tanpa mempersoalkan perbedaan suku maupun agama,” terangnya.

Ipuk berharap bahwa para penyuluh agama turut membantu penguatan kampanye prokes serta penanganan pandemi Covid-19. ”Seperti halnya vaksinasi. Ayo ajak umat yang belum vaksin, untuk segera vaksin,” ajaknya.

Pemimpin Paroki Santo Paulus Romo Fadjar Tedjo Soekarno yang turut mendampingi Suster Marina menyebutkan bahwa kerukunan antarumat beragama di Banyuwangi sudah terjalin dengan sangat baik. ”Kami sudah sangat akrab dengan komunitas agama lainnya. Kami berhubungan dengan pesantren dan umat-umat lainnya,” ujarnya.

Selain itu, tambah Romo Fajar, Pemkab Banyuwangi juga memberi ruang dan dukungan yang tinggi terhadap upaya mewujudkan kerukunan tersebut dengan beragam forum dan fasilitasi. ”Saya kira hal ini juga tidak terlepas dari peran Pemkab Banyuwangi yang banyak membantu mewujudkan kekompakan para pemuka agama dan umat beragama di sini,” pungkasnya.

BANYUWANGI – Banyuwangi adalah daerah yang ramah bagi perbedaan. Hal itu dibuktikan oleh Suster Marina Regina Mia Rahayu. Suster yang bertugas di Paroki Santo Paulus Jajag ini berhasil meraih juara nasional penyuluh agama Katolik yang diselenggarakan oleh Kemenag RI.

Harmoni umat beragama di Banyuwangi tergambar begitu jelas. Di kantor pusat pemerintahan Bumi Blambangan. Tepatnya kantor Pemkab Banyuwangi, Senin (25/10).

Kala itu, Bupati Ipuk Fiestiandani menggelar pertemuan dengan sejumlah tokoh agama Katolik. Sang bupati yang mengenakan pakaian dinas warna cokelat dan dipadu dengan jilbab warna krem, duduk berdampingan dengan Pemimpin Paroki Santo Paulus Romo Fadjar Tedjo Soekarno.

Bukan hanya mereka berdua, pertemuan itu juga dihadiri sejumlah pejabat di lingkup Pemkab Banyuwangi dan beberapa suster. Salah satunya Suster Marina Regina Mia Rahayu yang kala itu mengenakan pakaian warna hitam lengkap dengan velum (kerudung suster) warna senada.

Rupanya, Bupati Ipuk sengaja mengundang Suster Marina ke kantornya. Itu merupakan wujud apresiasi Ipuk kepada suster yang bertugas di Paroki Santo Paulus Jajag, Kecamatan Gambiran, tersebut. Sebab, Suster Marina telah menjadi juara nasional penyuluh agama Katolik yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama (Kemenag) RI.

Suster Marina memenangkan juara pertama penyuluh agama non-pegawai negeri sipil (PNS) yang mengambil tema moderasi beragama. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), moderasi berarti pengurangan kekerasan/penghindaran keekstreman. Dengan demikian, moderasi beragama yang dimaksud bisa diartikan sebagai sikap mengurangi kekerasan atau menghindari keekstreman dalam cara pandang, sikap, dan praktik beragama.

Suster Marina mengawali kompetisi penyuluh agama Katolik tersebut di tingkat kabupaten. Selanjutnya, dia berhasil menang di tingkat provinsi. Lantas, dia pun mewakili Provinsi Jatim untuk berkompetisi di level nasional. ”Materi yang kami sampaikan adalah tentang upaya yang dilakukan kami di Paroki dalam berinteraksi dengan umat maupun dengan pemeluk agama lain di Banyuwangi,” ujarnya.

Dari interaksi tersebut, lanjut Marina, kebersamaan yang terbangun antarumat beragama di Banyuwangi menjadi poin penilaian yang tinggi. ”Terutama dalam kebersamaan menangani pandemi Covid-19. Kami saling bantu seperti halnya berbagi sembako dan saling support dalam menjalankan protokol kesehatan (prokes),” terangnya.

Dia menambahkan, awalnya dirinya hanya mengirim video. Kemudian dia juga mengirimkan esai. ”Setelah lolos empat besar, dilakukan peninjauan langsung ke lapangan oleh pihak Direktorat Jenderal (Ditjen) Ditjen Bimbingan Masyarakat (Bimas) Katolik Kemenag. Setelah itu dilakukan presentasi lagi di depan dewan juri untuk menentukan juara utamanya,” beber Marina.

Sementara itu, Bupati Ipuk mengaku bangga atas prestasi yang diraih oleh Suster Marina. Menurutnya hal tersebut sebagai satu langkah penting dalam mengampanyekan harmoni umat beragama di Banyuwangi kepada dunia. ”Ini semakin menunjukkan bahwa Banyuwangi adalah daerah yang ramah bagi perbedaan. Masyarakatnya rukun. Banyuwangi tidak hanya memiliki pemandangan yang indah, namun juga memiliki masyarakat yang hidup rukun berdampingan tanpa mempersoalkan perbedaan suku maupun agama,” terangnya.

Ipuk berharap bahwa para penyuluh agama turut membantu penguatan kampanye prokes serta penanganan pandemi Covid-19. ”Seperti halnya vaksinasi. Ayo ajak umat yang belum vaksin, untuk segera vaksin,” ajaknya.

Pemimpin Paroki Santo Paulus Romo Fadjar Tedjo Soekarno yang turut mendampingi Suster Marina menyebutkan bahwa kerukunan antarumat beragama di Banyuwangi sudah terjalin dengan sangat baik. ”Kami sudah sangat akrab dengan komunitas agama lainnya. Kami berhubungan dengan pesantren dan umat-umat lainnya,” ujarnya.

Selain itu, tambah Romo Fajar, Pemkab Banyuwangi juga memberi ruang dan dukungan yang tinggi terhadap upaya mewujudkan kerukunan tersebut dengan beragam forum dan fasilitasi. ”Saya kira hal ini juga tidak terlepas dari peran Pemkab Banyuwangi yang banyak membantu mewujudkan kekompakan para pemuka agama dan umat beragama di sini,” pungkasnya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/