alexametrics
23.4 C
Banyuwangi
Thursday, June 30, 2022

Desa Tamansari Masuk 50 Desa Wisata Terbaik Se-Indonesia

RadarBanyuwangi.id – Banyuwangi meloloskan salah satu wakilnya dalam Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) yang digelar Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia. Perwakilan yang lolos adalah Desa Tamansari, Kecamatan Licin.

Desa yang berada di kaki Gunung Ijen itu masuk enam Desa Wisata di Jawa Timur yang lolos 50 besar nominasi ADWI. Di tengah badai pandemi, sektor pariwisata yang dikelola Desa Tamansari tetap survive.  

Kepala Desa Tamansari Rizal Syahputra menjelaskan, dalam nominasi ADWI tersebut desa yang dia pimpin mengandalkan keelokan Kawah Ijen pada periode tahun 2015 sampai 2016. Hampir semua wisatawan yang berkunjung ke desa berpenduduk 6.948 jiwa itu adalah pengunjung Kawah Ijen.

Perlahan orientasi wisatawan yang datang ke Desa Tamansari berubah. Mereka yang datang tak hanya wisatawan Kawah Ijen. Beberapa wisatawan memilih tujuan Desa Tamansari tanpa pergi ke Ijen. Kuncinya, menurut Rizal, adanya beberapa destinasi yang disediakan pemdes dan masyarakat Tamansari.

Selain Ijen, Tamansari memiliki wisata alam lain seperti Sendang Seruni dan wisata budaya seperti Taman Gandrung Terakota. Dua tempat wisata itu menjadi destinasi yang rutin dikunjungi wisatawan. Sebelum PPKM diberlakukan, tercatat 1.523 wisatawan yang mengunjungi Terakota dan 7.107 wisatawan yang menikmati kesejukan Sendang Seruni.

”Meskipun kondisi pandemi, destinasi wisata Sendang Seruni ramai dikunjungi wisatawan, tapi tidak seramai sebelum pandemi. Selama pandemi kami menerapkan prokes yang ketat,” ungkapnya.  

Selain itu, Desa Tamansari yang menjadi prototipe awal Smart Kampung kerap jadi jujugan studi banding dari luar kabupaten. Mereka belajar bagaimana sistem itu berjalan. ”Kedatangan pengunjung yang ingin beredukasi itu juga tak bisa dianggap sepele,” kata Rizal

Untuk wisata edukasi, Desa Tamansari memiliki tiga unggulan. Yaitu Kampung Penambang, Kampung Susu, dan Kampung Bunga. Kampung penambang ditinggali para penambang belerang yang kesehariannya berkutat di Kawah Ijen. Wisata edukasi ini, menurut Rizal, kerap menjadi jujugan turis mancanegara, terutama mereka yang menyukai wisata sejarah. ”Meski infrastruktur di Kampung Belerang bisa dibilang masih terjal, hal itu justru menjadi daya tarik tersendiri bagi wisman,” tandasnya.

Selain melihat kehidupan penambang, wisatawan edukasi juga diajak ke tempat pengolahan sulfur dari belerang bongkahan yang masih bercampur dengan batu. Pengunjung benar-benar bisa melihat kehidupan para penambang secara utuh.

Selanjutnya, Kampung Susu yang menjadi andalan wisata edukasi lainya berada di Dusun Ampel Gading. Di sana ada sekelompok masyarakat yang melakukan budi daya sapi perah. Kampung ini cukup ramai menjadi destinasi para siswa sekolah.

Yang terakhir Kampung Bunga. Lokasinya tak jauh dari kawasan Gantasan. Di tempat itu ada berbagai jenis bunga yang dikelola masyarakat. Desa mem-branding agar bisa menjadi salah satu tempat edukasi. ”Selain destinasi wisata, banyak yang datang ke sini untuk belajar. Kami buat paket wisata yang semuanya memberdayakan masyarakat setempat. Mulai homestay, driver, guide, sampai oleh-oleh dari UMKM, termasuk kuliner,” kata Rizal.

Dampaknya, banyak homestay dan UMKM di Desa Tamansari dapat berkah dari kunjungan wisatawan. Bahkan selama pandemi, meski terjadi penurunan kunjungan, masyarakat yang menggantungkan hidup dari bisnis pariwisata masih bisa mendapatkan pemasukan.

Sejak PPKM diterapkan, kunjungan ke destinasi terhenti. Kondisi itu tak menghalangi Desa Tamansari yang menjadi juara 1 Trisakti Award, kategori wisata alam se-Indonesia. Pemdes bersama Bumdes berusaha mendorong produktivitas masyarakat yang selama ini sudah berjalan.

Di Tamansari ada kelompok petani kopi dan beras merah yang selama ini memang menjadi mata pencarian. Mereka dibuatkan kelompok oleh pemerintah desa sebagai percontohan untuk petani lainnya. Pemdes lalu mendorong kualitas dan kuantitas produk mereka melalui fasilitasi kerja sama dengan berbagai pihak. Seperti perusahaan swasta, BKSDA, dan Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Jawa Timur.

Selain membuat petani lebih memahami produk yang mereka hasilkan, support pemdes dilakukan agar hasil produk para petani yang selama ini hanya dijual dalam bentuk bahan mentah bisa diolah lebih baik dan bernilai tinggi. Rizal berharap hal ini bisa mendorong produktivitas masyarakat untuk menguatkan ekonomi desa sebagai sandaran baru selain pariwisata. ”Untuk destinasi wisata agar tetap prima saat buka nanti, kita dorong untuk tetap merawat fasilitas serta melakukan perbaikan pelayanan dan fasilitas” pesannya.

Keberhasilan Desa Tamansari masuk 50 besar nominasi ADWI diharapkan bisa mendorong semangat masyarakat. Bumdes dan pemdes selama ini hanya melakukan penguatan sistem dengan mendorong pengembangan SDM dan infrastrutur. Karena itu hampir semua unit usaha yang ada dikelola oleh masyarakat.“”Kita ingin masyarakat Desa Tamansari tidak tergantung kepada siapa pun pemerintah desanya. Mereka tetap bisa bergerak dengan cepat menyesuaikan perkembangan. Kita hanya fasilitator selama ini, semua yang bergerak adalah masyarakat,” pungkasnya. (fre/aif/c1)

RadarBanyuwangi.id – Banyuwangi meloloskan salah satu wakilnya dalam Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) yang digelar Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia. Perwakilan yang lolos adalah Desa Tamansari, Kecamatan Licin.

Desa yang berada di kaki Gunung Ijen itu masuk enam Desa Wisata di Jawa Timur yang lolos 50 besar nominasi ADWI. Di tengah badai pandemi, sektor pariwisata yang dikelola Desa Tamansari tetap survive.  

Kepala Desa Tamansari Rizal Syahputra menjelaskan, dalam nominasi ADWI tersebut desa yang dia pimpin mengandalkan keelokan Kawah Ijen pada periode tahun 2015 sampai 2016. Hampir semua wisatawan yang berkunjung ke desa berpenduduk 6.948 jiwa itu adalah pengunjung Kawah Ijen.

Perlahan orientasi wisatawan yang datang ke Desa Tamansari berubah. Mereka yang datang tak hanya wisatawan Kawah Ijen. Beberapa wisatawan memilih tujuan Desa Tamansari tanpa pergi ke Ijen. Kuncinya, menurut Rizal, adanya beberapa destinasi yang disediakan pemdes dan masyarakat Tamansari.

Selain Ijen, Tamansari memiliki wisata alam lain seperti Sendang Seruni dan wisata budaya seperti Taman Gandrung Terakota. Dua tempat wisata itu menjadi destinasi yang rutin dikunjungi wisatawan. Sebelum PPKM diberlakukan, tercatat 1.523 wisatawan yang mengunjungi Terakota dan 7.107 wisatawan yang menikmati kesejukan Sendang Seruni.

”Meskipun kondisi pandemi, destinasi wisata Sendang Seruni ramai dikunjungi wisatawan, tapi tidak seramai sebelum pandemi. Selama pandemi kami menerapkan prokes yang ketat,” ungkapnya.  

Selain itu, Desa Tamansari yang menjadi prototipe awal Smart Kampung kerap jadi jujugan studi banding dari luar kabupaten. Mereka belajar bagaimana sistem itu berjalan. ”Kedatangan pengunjung yang ingin beredukasi itu juga tak bisa dianggap sepele,” kata Rizal

Untuk wisata edukasi, Desa Tamansari memiliki tiga unggulan. Yaitu Kampung Penambang, Kampung Susu, dan Kampung Bunga. Kampung penambang ditinggali para penambang belerang yang kesehariannya berkutat di Kawah Ijen. Wisata edukasi ini, menurut Rizal, kerap menjadi jujugan turis mancanegara, terutama mereka yang menyukai wisata sejarah. ”Meski infrastruktur di Kampung Belerang bisa dibilang masih terjal, hal itu justru menjadi daya tarik tersendiri bagi wisman,” tandasnya.

Selain melihat kehidupan penambang, wisatawan edukasi juga diajak ke tempat pengolahan sulfur dari belerang bongkahan yang masih bercampur dengan batu. Pengunjung benar-benar bisa melihat kehidupan para penambang secara utuh.

Selanjutnya, Kampung Susu yang menjadi andalan wisata edukasi lainya berada di Dusun Ampel Gading. Di sana ada sekelompok masyarakat yang melakukan budi daya sapi perah. Kampung ini cukup ramai menjadi destinasi para siswa sekolah.

Yang terakhir Kampung Bunga. Lokasinya tak jauh dari kawasan Gantasan. Di tempat itu ada berbagai jenis bunga yang dikelola masyarakat. Desa mem-branding agar bisa menjadi salah satu tempat edukasi. ”Selain destinasi wisata, banyak yang datang ke sini untuk belajar. Kami buat paket wisata yang semuanya memberdayakan masyarakat setempat. Mulai homestay, driver, guide, sampai oleh-oleh dari UMKM, termasuk kuliner,” kata Rizal.

Dampaknya, banyak homestay dan UMKM di Desa Tamansari dapat berkah dari kunjungan wisatawan. Bahkan selama pandemi, meski terjadi penurunan kunjungan, masyarakat yang menggantungkan hidup dari bisnis pariwisata masih bisa mendapatkan pemasukan.

Sejak PPKM diterapkan, kunjungan ke destinasi terhenti. Kondisi itu tak menghalangi Desa Tamansari yang menjadi juara 1 Trisakti Award, kategori wisata alam se-Indonesia. Pemdes bersama Bumdes berusaha mendorong produktivitas masyarakat yang selama ini sudah berjalan.

Di Tamansari ada kelompok petani kopi dan beras merah yang selama ini memang menjadi mata pencarian. Mereka dibuatkan kelompok oleh pemerintah desa sebagai percontohan untuk petani lainnya. Pemdes lalu mendorong kualitas dan kuantitas produk mereka melalui fasilitasi kerja sama dengan berbagai pihak. Seperti perusahaan swasta, BKSDA, dan Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Jawa Timur.

Selain membuat petani lebih memahami produk yang mereka hasilkan, support pemdes dilakukan agar hasil produk para petani yang selama ini hanya dijual dalam bentuk bahan mentah bisa diolah lebih baik dan bernilai tinggi. Rizal berharap hal ini bisa mendorong produktivitas masyarakat untuk menguatkan ekonomi desa sebagai sandaran baru selain pariwisata. ”Untuk destinasi wisata agar tetap prima saat buka nanti, kita dorong untuk tetap merawat fasilitas serta melakukan perbaikan pelayanan dan fasilitas” pesannya.

Keberhasilan Desa Tamansari masuk 50 besar nominasi ADWI diharapkan bisa mendorong semangat masyarakat. Bumdes dan pemdes selama ini hanya melakukan penguatan sistem dengan mendorong pengembangan SDM dan infrastrutur. Karena itu hampir semua unit usaha yang ada dikelola oleh masyarakat.“”Kita ingin masyarakat Desa Tamansari tidak tergantung kepada siapa pun pemerintah desanya. Mereka tetap bisa bergerak dengan cepat menyesuaikan perkembangan. Kita hanya fasilitator selama ini, semua yang bergerak adalah masyarakat,” pungkasnya. (fre/aif/c1)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/