alexametrics
27.2 C
Banyuwangi
Tuesday, May 24, 2022

Kiai Abu Hasan Dipercaya Memiliki Ilmu Linuwih

SEMPU – KH Abu Hasan Syaibani memiliki ilmu linuwih. Kiai asal Blitar itu, dipercaya memiliki kemampuan weruh sakdurungi winarah. Banyak warga yang datang di pesantrennya Dusun Krajan, Desa Jambewangi, Kecamatan Sempu, Banyuwangi, dengan berbagai keperluan.

KH Abu Hasan Syaibani lahir di Dusun Kasim, Desa Ploso, Kecamatan elopuro, Kabupaten Blitar sekitar 1928. Orang tuanya, Hasan Marwan dan Siti Aminah tidak memiliki pondok pesantren. Tapi sejak kecil, diajari ilmu agama untuk fondasi kehidupan.

Semasa kecil hingga remaja, Kiai Abu Hasan tidak langsung belajar ilmu agama di pesantren. Oleh orang tuanya, dimasukkan ke Sekolah Rakyat (SR). Baru saat usianya memasuki belasan tahun, oleh sang ayah di masukkan ke Ponpok Pesantren (Ponpes) Al Iflah di Blitar. Selanjutnya, dipindah ke Ponpes Gandusari dan Jatinom yang juga berada di Blitar.

Puas belajar di sejumlah ponpes yang ada di daerahnya sendiri, Kiai Abu Hasan memberanikan diri melanglang buana ke ujung timur Pulau Jawa, yakni di Banyuwangi, dan belajar di Ponpes Miftahul Ulum, Salamrejo, Kecamatan Glemore asuhan Kiai Syamsuri. “Di pondok Glenmore ini paling lama, sekitar 10 tahun,” terang putra sulung Kiai Abu Hasan Syaibani, Gus Muhammad Sholeh, 51.

Baca Juga :  Terinspirasi Go-Jek, Mahasiswa Ciptakan Aplikasi Guide Pariwisata

Di ponpes ini Kiai Abu Hasan mengenal pendamping hidupnya dengan menikahi Hj. Sholikah, asal Dusun Krajan, Desa Jambewangi, Kecamatan Sempu. “Bapak menetap di Jambewangi dan mendirikan pesantren ini,” terangnya.

Sebelum berdiri pesantren, Kiai Abu Hasan bersama istrinya membangun musala kecil yang bangunannya dari bambu. Di musala ini, Kiai Abu Hasan mengajari anak-anak di sekitarnya mengaji. Selain itu, juga mengajak warga untuk sembahyang berjamaah. “Dulu di sini masih minus (pengetahuan Islam), banyak yang mulai belajar di sini,” ungkapnya.

Baru pada 1970, mulai ada santri dari luar kota dan menetap di pesantrennya yang diberi nama Darul Falah tersebut. Santri itu, awalnya dari Blitar dan Jember. “Anak-anak sekitar banyak yang belajar di pesantren,” tuturnya.

Kepada santrinya, Kiai Abu Hasan Syaibani menekankan untuk selalu salat berjamaah. Selain itu, rajin membaca selawat nariyah dan ayat kursi. Amalan itu, yang selama ini diamalkan oleh sang kiai ini. Malahan, dalam sehari Kiai Abu Hasan membaca 313 selawat nariyah dan 170 ayat kursi. “Mungkin itu sebagai pelindung,” katanya pada Jawa Pos Radar Genteng.

Baca Juga :  KH Abdullah Faqih Pencetus Budaya Kembang Endog Maulid Nabi SAW

Dengan amalan itu, Kiai Abu Hasan akhirnya memiliki kemampuan ilmu linuwih, weruh sedurunge winarah atau mengetahui sebelum terjadi. “Sering sekali, atas izin Allah bapak tahu hal-hal yang akan terjadi di masa depan,” ujarnya.

Dengan kemampuannya itu, banyak tamu yang datang untuk sowan ke kiai. Terkadang, tamunya itu belum menyampaikan keluh kesahnya, Kiai Abu Hasan sudah mengerti kemauannya. “Bapak sudah tahu keperluannya, ini banyak yang menyampaikan,” cetusnya.

Saat melaksanakan ibadah haji pada 2016, Kiai Abu Hasan pernah mengalami mati suri. Mulanya, kiai tidak mau makan hingga akhirnya sakit keras. “Sudah sempat dinyatakan meninggal juga, sampai dimasukkan kantong mayat dan diberi es,” ungkapnya.

Tapi anehnya, setelah dianggap tak bernyawa itu, Kiai Abu Hasan Syaibani bangun dan kembali sehat. “Kata bapak, anak-anaknya banyak yang memanggil, ya tidak jadi pergi (meninggal),” katanya seraya menyebut bapaknya meninggal pada 2 September 2020.(sas/abi)

SEMPU – KH Abu Hasan Syaibani memiliki ilmu linuwih. Kiai asal Blitar itu, dipercaya memiliki kemampuan weruh sakdurungi winarah. Banyak warga yang datang di pesantrennya Dusun Krajan, Desa Jambewangi, Kecamatan Sempu, Banyuwangi, dengan berbagai keperluan.

KH Abu Hasan Syaibani lahir di Dusun Kasim, Desa Ploso, Kecamatan elopuro, Kabupaten Blitar sekitar 1928. Orang tuanya, Hasan Marwan dan Siti Aminah tidak memiliki pondok pesantren. Tapi sejak kecil, diajari ilmu agama untuk fondasi kehidupan.

Semasa kecil hingga remaja, Kiai Abu Hasan tidak langsung belajar ilmu agama di pesantren. Oleh orang tuanya, dimasukkan ke Sekolah Rakyat (SR). Baru saat usianya memasuki belasan tahun, oleh sang ayah di masukkan ke Ponpok Pesantren (Ponpes) Al Iflah di Blitar. Selanjutnya, dipindah ke Ponpes Gandusari dan Jatinom yang juga berada di Blitar.

Puas belajar di sejumlah ponpes yang ada di daerahnya sendiri, Kiai Abu Hasan memberanikan diri melanglang buana ke ujung timur Pulau Jawa, yakni di Banyuwangi, dan belajar di Ponpes Miftahul Ulum, Salamrejo, Kecamatan Glemore asuhan Kiai Syamsuri. “Di pondok Glenmore ini paling lama, sekitar 10 tahun,” terang putra sulung Kiai Abu Hasan Syaibani, Gus Muhammad Sholeh, 51.

Baca Juga :  Pesantren Pembentuk Karakter Anak

Di ponpes ini Kiai Abu Hasan mengenal pendamping hidupnya dengan menikahi Hj. Sholikah, asal Dusun Krajan, Desa Jambewangi, Kecamatan Sempu. “Bapak menetap di Jambewangi dan mendirikan pesantren ini,” terangnya.

Sebelum berdiri pesantren, Kiai Abu Hasan bersama istrinya membangun musala kecil yang bangunannya dari bambu. Di musala ini, Kiai Abu Hasan mengajari anak-anak di sekitarnya mengaji. Selain itu, juga mengajak warga untuk sembahyang berjamaah. “Dulu di sini masih minus (pengetahuan Islam), banyak yang mulai belajar di sini,” ungkapnya.

Baru pada 1970, mulai ada santri dari luar kota dan menetap di pesantrennya yang diberi nama Darul Falah tersebut. Santri itu, awalnya dari Blitar dan Jember. “Anak-anak sekitar banyak yang belajar di pesantren,” tuturnya.

Kepada santrinya, Kiai Abu Hasan Syaibani menekankan untuk selalu salat berjamaah. Selain itu, rajin membaca selawat nariyah dan ayat kursi. Amalan itu, yang selama ini diamalkan oleh sang kiai ini. Malahan, dalam sehari Kiai Abu Hasan membaca 313 selawat nariyah dan 170 ayat kursi. “Mungkin itu sebagai pelindung,” katanya pada Jawa Pos Radar Genteng.

Baca Juga :  Memiliki Gedung Sendiri Setelah Dibantu Baznas

Dengan amalan itu, Kiai Abu Hasan akhirnya memiliki kemampuan ilmu linuwih, weruh sedurunge winarah atau mengetahui sebelum terjadi. “Sering sekali, atas izin Allah bapak tahu hal-hal yang akan terjadi di masa depan,” ujarnya.

Dengan kemampuannya itu, banyak tamu yang datang untuk sowan ke kiai. Terkadang, tamunya itu belum menyampaikan keluh kesahnya, Kiai Abu Hasan sudah mengerti kemauannya. “Bapak sudah tahu keperluannya, ini banyak yang menyampaikan,” cetusnya.

Saat melaksanakan ibadah haji pada 2016, Kiai Abu Hasan pernah mengalami mati suri. Mulanya, kiai tidak mau makan hingga akhirnya sakit keras. “Sudah sempat dinyatakan meninggal juga, sampai dimasukkan kantong mayat dan diberi es,” ungkapnya.

Tapi anehnya, setelah dianggap tak bernyawa itu, Kiai Abu Hasan Syaibani bangun dan kembali sehat. “Kata bapak, anak-anaknya banyak yang memanggil, ya tidak jadi pergi (meninggal),” katanya seraya menyebut bapaknya meninggal pada 2 September 2020.(sas/abi)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/