alexametrics
28.7 C
Banyuwangi
Thursday, June 30, 2022

Gentong; Disimpan Lama, Aroma Beras Tak Berubah

BANYUWANGI – Salah satu alat dapur tradisional masyarakat Jawa yang kini sudah langka adalah gentong. Gentong adalah gerabah bulat besar yang terbuat dari tanah liat.

Pada umumnya, gentong yang terbuat dari tanah liat berbentuk silinder, bagian tengah cembung, bagian bawah datar, dan bagian atas (mulut) kecil berbibir dan kadang-kadang bertutup. Tingginya bervariasi mulai dari 40 cm hingga 80 cm dengan diameter bagian tengah mencapai 40–70 cm sesuai dengan besar kecilnya gentong.

Pada zaman dahulu, gentong hampir dipastikan dapat ditemukan di setiap rumah masyarakat Jawa. Selain sebagai tempat menyimpan air untuk memasak, gentong juga digunakan untuk beragam kebutuhan yang tidak pernah jauh dari dapur, yang diletakkan di luar atau di dalam dapur. Termasuk sebagai wadah tempat menyimpan beras.

Di zaman yang serba modern seperti saat ini, sudah sangat langka keberadaan gentong di setiap kampung di Jawa. Jika pun ada, biasanya sudah tidak digunakan lagi sebagai fungsi utama, tetapi sudah difungsikan lain, seperti untuk memeram buah, tempat sampah, tempat perkakas lain, sebagai hiasan, atau bahkan tidak digunakan sama sekali alias hanya ditaruh di gudang, di dapur, atau bahkan disisihkan di luar rumah.

Saat ini, keberadaan gentong gerabah telah tergantikan oleh barang serupa yang terbuat dari plastik yang lebih awet. Orang membeli gentong gerabah bukan lagi untuk alat penyimpanan seperti zaman dulu di era 1960-an, melainkan untuk hiasan di taman ketimbang dipergunakan sebagai fungsi utamanya.

Padahal, gentong termasuk alat dapur yang sudah lama dikenal oleh masyarakat Jawa. Tergantikannya gentong gerabah salah satunya karena kalah awet dibandingkan dengan gentong plastik. Walaupun harga gentong plastik lebih mahal dari gentong gerabah.

Alasan lainnya, gentong gerabah mudah pecah dan berat. Sedangkan gentong plastik lebih praktis dan mudah perawatannya. Gentong plastik juga memiliki bobot lebih ringan sehingga mudah dipindahkan.

Selain itu, banyak pula ibu rumah tangga di masyarakat Jawa yang menggunakan ember plastik sebagai pengganti gentong gerabah. Dengan pertimbangan ember plastik harganya murah, mudah perawatannya, mudah dipindahkan, dan risiko pecahnya kecil.

Tak heran, rumah tangga masyarakat Jawa lebih banyak menggunakan ember dan gentong plastik untuk menyimpan air guna keperluan memasak ketimbang gentong gerabah. ”Kalau berbahan tanah liat memang sangat berat saat dipindahkan dan risiko pecah,” ujar Mistiyah, salah seorang pengguna gentong di Banyuwangi.

Namun dalam perkembangan saat ini, kata Mistiyah, ukuran dan bentuk gentong bermacam-macam. Beda ukuran, beda pula cara meletakkan posisinya. Variasi ukuran juga menunjukkan fungsi masing-masing. Untuk gentong ukuran besar dengan mulut lebar, berfungsi sebagai tempat air mandi.

Sementara itu, gentong yang ukuran sedang dengan mulut tak terlalu lebar disertai penutup, biasanya ditaruh di dalam dapur. Gentong jenis ini bisa digunakan untuk menyimpan air minum atau menyimpan beras. ”Orang-orang zaman dahulu yaitu zaman nenek, biasanya menyimpan beras dalam gentong yang terbuat dari tanah liat,” ungkapnya.

Bukan tanpa alasan, menyimpan beras di dalam gentong tanah liat ternyata mampu menjaga rasa dan aroma beras tetap wangi setelah ditanak menjadi nasi. ”Sekarang sudah sangat jarang didapati gentong dari tanah liat. Sekarang sudah tersedia tempat khusus penyimpanan beras dengan beragam merek,” jelasnya.

Menyimpan beras dalam gentong memang lebih baik. Hanya, butuh kerja keras dan harus rajin membersihkan wadah tersebut secara berkala. Jika tidak rutin dibersihkan, bisa-bisa kutu beras dan ulat akan bersarang di dalam wadah itu. ”Wadah beras dari apa pun, tetap harus dibersihkan setiap akan mengisinya kembali,’’ terang ibu dua anak ini.

Tidak hanya itu, lanjut Mistiah, menyimpan beras di dalam gentong juga melaksanakan pesan yang diwariskan turun-temurun oleh orang tuanya. Selain membuat aroma beras yang wangi, ada filosofi yang diwariskan orang tua dan neneknya. ”Tanah adalah tempat di mana semua bibit tanaman ditanam dan bertumbuh. Ada semacam keyakinan di keluarga kami, jika menyimpan beras di wadah yang terbuat dari tanah liat, bisa menjaga kondisi keuangan dan meningkatkan kekayaan keluarga,” tuturnya.

Mistiah menyebut, sebaiknya gentong tempat penyimpanan beras diusahakan selalu terisi dan tidak sampai kosong melompong. Pada saat pertama kali menyimpan beras, tempat penyimpanan harus terisi penuh. Ini bertujuan untuk menandakan kekayaan keluarga akan selalu berkecukupan dan tidak pernah kekurangan. ”Kalau pesan dan ilmu dari orang tua dahulu seperti itu,” tandasnya. 

BANYUWANGI – Salah satu alat dapur tradisional masyarakat Jawa yang kini sudah langka adalah gentong. Gentong adalah gerabah bulat besar yang terbuat dari tanah liat.

Pada umumnya, gentong yang terbuat dari tanah liat berbentuk silinder, bagian tengah cembung, bagian bawah datar, dan bagian atas (mulut) kecil berbibir dan kadang-kadang bertutup. Tingginya bervariasi mulai dari 40 cm hingga 80 cm dengan diameter bagian tengah mencapai 40–70 cm sesuai dengan besar kecilnya gentong.

Pada zaman dahulu, gentong hampir dipastikan dapat ditemukan di setiap rumah masyarakat Jawa. Selain sebagai tempat menyimpan air untuk memasak, gentong juga digunakan untuk beragam kebutuhan yang tidak pernah jauh dari dapur, yang diletakkan di luar atau di dalam dapur. Termasuk sebagai wadah tempat menyimpan beras.

Di zaman yang serba modern seperti saat ini, sudah sangat langka keberadaan gentong di setiap kampung di Jawa. Jika pun ada, biasanya sudah tidak digunakan lagi sebagai fungsi utama, tetapi sudah difungsikan lain, seperti untuk memeram buah, tempat sampah, tempat perkakas lain, sebagai hiasan, atau bahkan tidak digunakan sama sekali alias hanya ditaruh di gudang, di dapur, atau bahkan disisihkan di luar rumah.

Saat ini, keberadaan gentong gerabah telah tergantikan oleh barang serupa yang terbuat dari plastik yang lebih awet. Orang membeli gentong gerabah bukan lagi untuk alat penyimpanan seperti zaman dulu di era 1960-an, melainkan untuk hiasan di taman ketimbang dipergunakan sebagai fungsi utamanya.

Padahal, gentong termasuk alat dapur yang sudah lama dikenal oleh masyarakat Jawa. Tergantikannya gentong gerabah salah satunya karena kalah awet dibandingkan dengan gentong plastik. Walaupun harga gentong plastik lebih mahal dari gentong gerabah.

Alasan lainnya, gentong gerabah mudah pecah dan berat. Sedangkan gentong plastik lebih praktis dan mudah perawatannya. Gentong plastik juga memiliki bobot lebih ringan sehingga mudah dipindahkan.

Selain itu, banyak pula ibu rumah tangga di masyarakat Jawa yang menggunakan ember plastik sebagai pengganti gentong gerabah. Dengan pertimbangan ember plastik harganya murah, mudah perawatannya, mudah dipindahkan, dan risiko pecahnya kecil.

Tak heran, rumah tangga masyarakat Jawa lebih banyak menggunakan ember dan gentong plastik untuk menyimpan air guna keperluan memasak ketimbang gentong gerabah. ”Kalau berbahan tanah liat memang sangat berat saat dipindahkan dan risiko pecah,” ujar Mistiyah, salah seorang pengguna gentong di Banyuwangi.

Namun dalam perkembangan saat ini, kata Mistiyah, ukuran dan bentuk gentong bermacam-macam. Beda ukuran, beda pula cara meletakkan posisinya. Variasi ukuran juga menunjukkan fungsi masing-masing. Untuk gentong ukuran besar dengan mulut lebar, berfungsi sebagai tempat air mandi.

Sementara itu, gentong yang ukuran sedang dengan mulut tak terlalu lebar disertai penutup, biasanya ditaruh di dalam dapur. Gentong jenis ini bisa digunakan untuk menyimpan air minum atau menyimpan beras. ”Orang-orang zaman dahulu yaitu zaman nenek, biasanya menyimpan beras dalam gentong yang terbuat dari tanah liat,” ungkapnya.

Bukan tanpa alasan, menyimpan beras di dalam gentong tanah liat ternyata mampu menjaga rasa dan aroma beras tetap wangi setelah ditanak menjadi nasi. ”Sekarang sudah sangat jarang didapati gentong dari tanah liat. Sekarang sudah tersedia tempat khusus penyimpanan beras dengan beragam merek,” jelasnya.

Menyimpan beras dalam gentong memang lebih baik. Hanya, butuh kerja keras dan harus rajin membersihkan wadah tersebut secara berkala. Jika tidak rutin dibersihkan, bisa-bisa kutu beras dan ulat akan bersarang di dalam wadah itu. ”Wadah beras dari apa pun, tetap harus dibersihkan setiap akan mengisinya kembali,’’ terang ibu dua anak ini.

Tidak hanya itu, lanjut Mistiah, menyimpan beras di dalam gentong juga melaksanakan pesan yang diwariskan turun-temurun oleh orang tuanya. Selain membuat aroma beras yang wangi, ada filosofi yang diwariskan orang tua dan neneknya. ”Tanah adalah tempat di mana semua bibit tanaman ditanam dan bertumbuh. Ada semacam keyakinan di keluarga kami, jika menyimpan beras di wadah yang terbuat dari tanah liat, bisa menjaga kondisi keuangan dan meningkatkan kekayaan keluarga,” tuturnya.

Mistiah menyebut, sebaiknya gentong tempat penyimpanan beras diusahakan selalu terisi dan tidak sampai kosong melompong. Pada saat pertama kali menyimpan beras, tempat penyimpanan harus terisi penuh. Ini bertujuan untuk menandakan kekayaan keluarga akan selalu berkecukupan dan tidak pernah kekurangan. ”Kalau pesan dan ilmu dari orang tua dahulu seperti itu,” tandasnya. 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/