alexametrics
23 C
Banyuwangi
Wednesday, August 17, 2022

Tempat Belajar sekaligus Bisa Bermain Permainan Tradisional

Kalau ingin mengenang masa lalu, ada baiknya mengunjungi Gubuk Sinau di Pantai Perengan. Di tempat itu, anda bisa bermain permainan-permainan tradisional yang  sudah sulit di jumpai di masyarakat.

HABIBUL ADNAN, Banyuputih

Anak-anak zaman sekarang mungkin hanya pernah dengar nama permainan dakon, kelereng, lompat tali, petak umpet, egrang, serta permainan-permainan tradisional lainnya. Akan tetapi seperti apa dimainkan, mereka tidak akan tahu.

Permainan-permainan tersebut memang tinggal nama. Di desa-desa sekalipun, bisa dikatakan sudah tidak kenal dengan petak umpet. Apalagi di kota-kota. Iya, permainan tersebut sudah kalah tenar dengan game-game yang tersedia di aplikasi HP android.

Meski begitu, permainan tradisional tidak musnah begitu saja. Bisa dijumpai di sebuah daerah pesisir di Kabupaten Situbondo. Tepatnya di Pantai Perengan, Dusun Pandean, Desa Wonorejo. Di desa ujung timur Situbondo itu anda bisa bernostalgia dengan permainan masa kecil.

Di tempat ini, sudah disedikan taman bermain. Fasilitas yang disediakan berupa alat-alat permainan tradisional. Seperti tempat bermain Sodor, petak umpet, ingkling, beteng, maling bendera, dan lain sebagainya. Wadahnya diberi nama Gubuk Sinau.

Baca Juga :  Pasar Galekan Dibangun Tahun Ini, Butuh Dana Rp 800 Juta

Resi Bimantoro, koordinator Gubuk Sinau mengatakan, itu adalah taman bacaan masyarakat yang menyedikan buku-buku bacaan. “Taman bacaan ini mempunyai subtema, yaitu ‘Belajar dan bermain merawat budaya bangsa’. Artinya, selain belajar, juga bisa bermain permainan tradisional,” terangnya.

Menurutnya, penyediaan fasilitas tempat bermain itu berangkat dari kegundahan mulai punahnya permainan tradisional.  “Salah satu penyebabnya, kemajuan teknologi modern. Anak-anak sekarang lebih kenal dengan permainan yang ada di gedget,” katanya.

Resi menuturkan, keberadaan media elektronik menyebabkan budaya-budaya permainan tradisional mudah untuk dimusnahkan. Berdasarkan penelitian, dalam satu hari, penggunaan elektronik kurang lebih 300 menit setiap hari. “Artinya, sudah tidak ada waktu untuk bermain yang lain. Padahal, permainan tradisinal ramah lingkungan, menyehatkan dan tidak perlu anggaran,” imbuhnya.

Keberadaan Gubuk Sinau menjawab tantangan di era milenial. Dengan fasilitas bermain tradisional, setidaknya akan mengingatkan kembali eksistensi permainan masayarakat zaman dulu. “Sehingga generasi-generasi sekarang tidak lupa dengan kekayaan masa lalu,” ujar Resi.

Baca Juga :  Modal Ludes, Makan Terpaksa Nunut Anak

Sofyan, salah satu pendiri Gubuk Sinau menambahkan, gubuk ini dibuat sebagai tempat belajar sesuai dengan makna sinau yang berarti belajar. “Disini kami sudah menyediakan buku-buku yang bisa dibaca setiap saat,” terangnya.

Buku bacaan yang disediakan adalah buku-buku bekas sumbangan dari mahasiswa salah satu perguruan tinggi. Selain itu, ada juga buku pemberian dari lembaga pendidikan yang ada di Desa Wonorejo. “Setiap hari ada relawan yang membantu mengarahkan pembaca dan permainan di taman bacaan ini setiap sore,” katanya.

Menurut Sofyan, taman bacaan masyarakat ini akan sangat bermanfaat. Sebab, akan menghidupkan kembali kebiasaan membaca masyarakat. “Kami ingin memperluas pengetahuan masyarakat dengan membaca,” tambahnya.

Jenis buku yang disediakan antara lain, tentang ilmu pengetahuan, pertanian, perikanan, dan tentang pendidikan. “Kami akan update terus buku-buku yang ada. karena itu, kami menerima sumbangan buku dari para donatur,” pungkasnya. (pri)

Kalau ingin mengenang masa lalu, ada baiknya mengunjungi Gubuk Sinau di Pantai Perengan. Di tempat itu, anda bisa bermain permainan-permainan tradisional yang  sudah sulit di jumpai di masyarakat.

HABIBUL ADNAN, Banyuputih

Anak-anak zaman sekarang mungkin hanya pernah dengar nama permainan dakon, kelereng, lompat tali, petak umpet, egrang, serta permainan-permainan tradisional lainnya. Akan tetapi seperti apa dimainkan, mereka tidak akan tahu.

Permainan-permainan tersebut memang tinggal nama. Di desa-desa sekalipun, bisa dikatakan sudah tidak kenal dengan petak umpet. Apalagi di kota-kota. Iya, permainan tersebut sudah kalah tenar dengan game-game yang tersedia di aplikasi HP android.

Meski begitu, permainan tradisional tidak musnah begitu saja. Bisa dijumpai di sebuah daerah pesisir di Kabupaten Situbondo. Tepatnya di Pantai Perengan, Dusun Pandean, Desa Wonorejo. Di desa ujung timur Situbondo itu anda bisa bernostalgia dengan permainan masa kecil.

Di tempat ini, sudah disedikan taman bermain. Fasilitas yang disediakan berupa alat-alat permainan tradisional. Seperti tempat bermain Sodor, petak umpet, ingkling, beteng, maling bendera, dan lain sebagainya. Wadahnya diberi nama Gubuk Sinau.

Baca Juga :  Lewat Gerdu Ibu, Rina Edukasi Bahaya Gizi Buruk Balita

Resi Bimantoro, koordinator Gubuk Sinau mengatakan, itu adalah taman bacaan masyarakat yang menyedikan buku-buku bacaan. “Taman bacaan ini mempunyai subtema, yaitu ‘Belajar dan bermain merawat budaya bangsa’. Artinya, selain belajar, juga bisa bermain permainan tradisional,” terangnya.

Menurutnya, penyediaan fasilitas tempat bermain itu berangkat dari kegundahan mulai punahnya permainan tradisional.  “Salah satu penyebabnya, kemajuan teknologi modern. Anak-anak sekarang lebih kenal dengan permainan yang ada di gedget,” katanya.

Resi menuturkan, keberadaan media elektronik menyebabkan budaya-budaya permainan tradisional mudah untuk dimusnahkan. Berdasarkan penelitian, dalam satu hari, penggunaan elektronik kurang lebih 300 menit setiap hari. “Artinya, sudah tidak ada waktu untuk bermain yang lain. Padahal, permainan tradisinal ramah lingkungan, menyehatkan dan tidak perlu anggaran,” imbuhnya.

Keberadaan Gubuk Sinau menjawab tantangan di era milenial. Dengan fasilitas bermain tradisional, setidaknya akan mengingatkan kembali eksistensi permainan masayarakat zaman dulu. “Sehingga generasi-generasi sekarang tidak lupa dengan kekayaan masa lalu,” ujar Resi.

Baca Juga :  Watu Gepeng; Dari Situs Sejarah, Berkembang Jadi Nama Dusun

Sofyan, salah satu pendiri Gubuk Sinau menambahkan, gubuk ini dibuat sebagai tempat belajar sesuai dengan makna sinau yang berarti belajar. “Disini kami sudah menyediakan buku-buku yang bisa dibaca setiap saat,” terangnya.

Buku bacaan yang disediakan adalah buku-buku bekas sumbangan dari mahasiswa salah satu perguruan tinggi. Selain itu, ada juga buku pemberian dari lembaga pendidikan yang ada di Desa Wonorejo. “Setiap hari ada relawan yang membantu mengarahkan pembaca dan permainan di taman bacaan ini setiap sore,” katanya.

Menurut Sofyan, taman bacaan masyarakat ini akan sangat bermanfaat. Sebab, akan menghidupkan kembali kebiasaan membaca masyarakat. “Kami ingin memperluas pengetahuan masyarakat dengan membaca,” tambahnya.

Jenis buku yang disediakan antara lain, tentang ilmu pengetahuan, pertanian, perikanan, dan tentang pendidikan. “Kami akan update terus buku-buku yang ada. karena itu, kami menerima sumbangan buku dari para donatur,” pungkasnya. (pri)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/