alexametrics
27.8 C
Banyuwangi
Monday, July 4, 2022

Merasakan Kemeriahan Muktamar Ke-34 NU di Bandar Lampung

BANDAR LAMPUNG – Tuntas sudah perhelatan Muktamar Ke-34 Nahdlatul Ulama yang berlangsung di Bandar Lampung, Jumat (24/12). Peserta muktamar berhasil memilih KH Miftahul Achyar sebagai Rais Aam dan KH Yahya Cholil Staquf sebagai Ketua Tanfidziyah PBNU masa khidmat 202 –2026. Wartawan Jawa Pos Radar Banyuwangi Dedy Jumhardiyanto, melaporkan langsung dari arena muktamar.

Di balik suksesnya pelaksanaan Muktamar Ke-34 NU tersebut, Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Banyuwangi tercatat sebagai peserta teraktif. Banyuwangi sebagai pengusul pelaksanaan sidang pleno pemilihan yang diselenggarakan di Bandar Lampung tersebut.

Mulanya panitia menjadwalkan sidang pleno pemilihan Rais Aam dan Ketua Tanfidziyah PBNU diselenggarakan di PP Darussa’adah, Lampung Tengah. ”Kami mengapresiasi dan berterima kasih kepada Pondok Pesantren Darussa’adah yang telah menyiapkan acara pembukaan dan menyambut kehadiran Presiden dengan sangat baik,” ungkap Moh. Ali Makki saat menyampaikan pendapatnya di hadapan peserta muktamar.

Gus Makki –sapaan akrabnya—  menyampaikan terima kasih yang setinggi-tingginya kepada PCNU Bandar Lampung dan PWNU Lampung yang menyambut peserta muktamar dengan baik. ”Fisik kami terbatas, sudah tidak mampu jika sedang pleno pemilihan Rais Aam dan Ketua Tanfidziyah PBNU dilangsungkan di PP Darussa’adah yang jaraknya sangat jauh memakan waktu tiga jam dari Bandar Lampung menuju Lampung Tengah,” katanya.

Karena pertimbangan jarak yang cukup jauh serta mobilisasi di jalan raya yang rawan macet, Gus Makki mengusulkan agar sidang pleno pemilihan Rais Aam dan Ketua Tanfidziyah tetap dilaksanakan di Bandar Lampung. Bisa di Universitas Islam Negeri (UIN) Lampung atau di Universitas Negeri Lampung (UNILA).

Usulan tersebut disambut gemuruh muktamirin. Muhammad Nuh yang memimpin sidang langsung menyepakati usulan tersebut atas persetujuan muktamirin. Usulan kesepakatan pindah tempat tersebut bukan tanpa sebab. Sidang pleno hampir semuanya dilaksanakan di Bandar Lampung.

Hanya saja, waktu sidang pleno pemilihan dilangsungkan di PP Darussa’adah yang merupakan tempat pembukaan acara Muktamar Ke-34 NU. Sementara jarak perjalanan dari Bandar Lampung ke Lampung Tengah memakan waktu dua jam perjalanan via tol. Jika perjalanan normal tanpa tol bisa memakan waktu tiga jam perjalanan.

Tidak sekadar mengusulkan pemindahan tempat sidang pleno pemilihan, Gus Makki juga sebagai salah satu tim lobi saat sidang pemilihan Ketua Tanfidziyah PBNU. Saat itu, ada dua nama bakal calon yang memenuhi syarat menjadi calon.

Dua nama itu adalah KH Yahya Cholil Staquf yang mendapat 327 suara dukungan dan KH Sai’id Aqil Siradj meraih 203 dukungan dari 552 suara yang masuk dalam daftar pemilih tetap berasal dari PWNU, PCNU se-Indonesia, dan 30 Pengurus Cabang Istimewa NU di seluruh dunia.

Saat proses penghitungan bakal calon selesai, Gus Makki berinisiatif berjalan ke depan panggung. Dia menghampiri KH Said Aqil Siradj dan melobi agar legawa untuk tidak melanjutkan ke tahap berikutnya, yakni proses pemilihan calon. Berdasarkan hasil hitung-hitungan, sudah jelas jika perolehan suara dukungan KH Said Aqil Siradj tidak akan bisa mengungguli perolehan suara KH Yahya Cholil Staquf.

Pertimbangan melakukan lobi adalah peserta muktamar sudah sangat kelelahan. Betapa tidak, tenaga mereka  sudah terkuras habis dengan padatnya agenda sidang pleno pembahasan tata tertib dan sidang komisi-komisi.

Tak pelak, saat sidang pleno pemilihan Rais Aam dan Ketua Tanfidziyah PBNU, hampir seluruh peserta muktamar yang memiliki hak suara tidak istirahat sama sekali. ”Meskipun syarat dan ketentuan sebagai calon terpenuhi, saya tetap melobi  KH Said agar tetap legawa. Namun, saya tidak berhasil melobi karena KH Said tetap melanjutkan pada tahap pencalonan,” ungkap Gus Makki.

Karena dilanda kelelahan, sejumlah pengurus Cabang NU dan PWNU se-Indonesia yang berada di luar sidang tetap menunggu dengan tenang. Ada yang tidur beralaskan plastik dan koran. Ada juga yang tidur seadanya di bawah pohon dan teras kampus. Bahkan, ada yang rela tidak tidur semalaman.

”Ketua saya belum tidur sama sekali karena mengikuti sidang. Masak saya enak-enakan tidur di hotel. Sangat tidak etis,” ujar Basuki Khamid, salah seorang pengurus PCNU Banyuwangi.

Tidak hanya Khamid, ada ratusan bahkan ribuan orang rela menunggu hasil sidang pemilihan Ketua Tanfidziyah PBNU hingga semalam suntuk. Sidang pemilihan Ketua Tanfidziyah PBNU itu baru tuntas dilaksanakan pada pukul 10.30, Jumat siang (23/12) dan memilih KH Yahya Cholil Staquf sebagai Ketua PBNU masa khidmat 2021–2026. 

BANDAR LAMPUNG – Tuntas sudah perhelatan Muktamar Ke-34 Nahdlatul Ulama yang berlangsung di Bandar Lampung, Jumat (24/12). Peserta muktamar berhasil memilih KH Miftahul Achyar sebagai Rais Aam dan KH Yahya Cholil Staquf sebagai Ketua Tanfidziyah PBNU masa khidmat 202 –2026. Wartawan Jawa Pos Radar Banyuwangi Dedy Jumhardiyanto, melaporkan langsung dari arena muktamar.

Di balik suksesnya pelaksanaan Muktamar Ke-34 NU tersebut, Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Banyuwangi tercatat sebagai peserta teraktif. Banyuwangi sebagai pengusul pelaksanaan sidang pleno pemilihan yang diselenggarakan di Bandar Lampung tersebut.

Mulanya panitia menjadwalkan sidang pleno pemilihan Rais Aam dan Ketua Tanfidziyah PBNU diselenggarakan di PP Darussa’adah, Lampung Tengah. ”Kami mengapresiasi dan berterima kasih kepada Pondok Pesantren Darussa’adah yang telah menyiapkan acara pembukaan dan menyambut kehadiran Presiden dengan sangat baik,” ungkap Moh. Ali Makki saat menyampaikan pendapatnya di hadapan peserta muktamar.

Gus Makki –sapaan akrabnya—  menyampaikan terima kasih yang setinggi-tingginya kepada PCNU Bandar Lampung dan PWNU Lampung yang menyambut peserta muktamar dengan baik. ”Fisik kami terbatas, sudah tidak mampu jika sedang pleno pemilihan Rais Aam dan Ketua Tanfidziyah PBNU dilangsungkan di PP Darussa’adah yang jaraknya sangat jauh memakan waktu tiga jam dari Bandar Lampung menuju Lampung Tengah,” katanya.

Karena pertimbangan jarak yang cukup jauh serta mobilisasi di jalan raya yang rawan macet, Gus Makki mengusulkan agar sidang pleno pemilihan Rais Aam dan Ketua Tanfidziyah tetap dilaksanakan di Bandar Lampung. Bisa di Universitas Islam Negeri (UIN) Lampung atau di Universitas Negeri Lampung (UNILA).

Usulan tersebut disambut gemuruh muktamirin. Muhammad Nuh yang memimpin sidang langsung menyepakati usulan tersebut atas persetujuan muktamirin. Usulan kesepakatan pindah tempat tersebut bukan tanpa sebab. Sidang pleno hampir semuanya dilaksanakan di Bandar Lampung.

Hanya saja, waktu sidang pleno pemilihan dilangsungkan di PP Darussa’adah yang merupakan tempat pembukaan acara Muktamar Ke-34 NU. Sementara jarak perjalanan dari Bandar Lampung ke Lampung Tengah memakan waktu dua jam perjalanan via tol. Jika perjalanan normal tanpa tol bisa memakan waktu tiga jam perjalanan.

Tidak sekadar mengusulkan pemindahan tempat sidang pleno pemilihan, Gus Makki juga sebagai salah satu tim lobi saat sidang pemilihan Ketua Tanfidziyah PBNU. Saat itu, ada dua nama bakal calon yang memenuhi syarat menjadi calon.

Dua nama itu adalah KH Yahya Cholil Staquf yang mendapat 327 suara dukungan dan KH Sai’id Aqil Siradj meraih 203 dukungan dari 552 suara yang masuk dalam daftar pemilih tetap berasal dari PWNU, PCNU se-Indonesia, dan 30 Pengurus Cabang Istimewa NU di seluruh dunia.

Saat proses penghitungan bakal calon selesai, Gus Makki berinisiatif berjalan ke depan panggung. Dia menghampiri KH Said Aqil Siradj dan melobi agar legawa untuk tidak melanjutkan ke tahap berikutnya, yakni proses pemilihan calon. Berdasarkan hasil hitung-hitungan, sudah jelas jika perolehan suara dukungan KH Said Aqil Siradj tidak akan bisa mengungguli perolehan suara KH Yahya Cholil Staquf.

Pertimbangan melakukan lobi adalah peserta muktamar sudah sangat kelelahan. Betapa tidak, tenaga mereka  sudah terkuras habis dengan padatnya agenda sidang pleno pembahasan tata tertib dan sidang komisi-komisi.

Tak pelak, saat sidang pleno pemilihan Rais Aam dan Ketua Tanfidziyah PBNU, hampir seluruh peserta muktamar yang memiliki hak suara tidak istirahat sama sekali. ”Meskipun syarat dan ketentuan sebagai calon terpenuhi, saya tetap melobi  KH Said agar tetap legawa. Namun, saya tidak berhasil melobi karena KH Said tetap melanjutkan pada tahap pencalonan,” ungkap Gus Makki.

Karena dilanda kelelahan, sejumlah pengurus Cabang NU dan PWNU se-Indonesia yang berada di luar sidang tetap menunggu dengan tenang. Ada yang tidur beralaskan plastik dan koran. Ada juga yang tidur seadanya di bawah pohon dan teras kampus. Bahkan, ada yang rela tidak tidur semalaman.

”Ketua saya belum tidur sama sekali karena mengikuti sidang. Masak saya enak-enakan tidur di hotel. Sangat tidak etis,” ujar Basuki Khamid, salah seorang pengurus PCNU Banyuwangi.

Tidak hanya Khamid, ada ratusan bahkan ribuan orang rela menunggu hasil sidang pemilihan Ketua Tanfidziyah PBNU hingga semalam suntuk. Sidang pemilihan Ketua Tanfidziyah PBNU itu baru tuntas dilaksanakan pada pukul 10.30, Jumat siang (23/12) dan memilih KH Yahya Cholil Staquf sebagai Ketua PBNU masa khidmat 2021–2026. 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/