alexametrics
23.5 C
Banyuwangi
Sunday, August 14, 2022

Tampung Tinja Dalam Bak, Manfaatkan Gas Metan Untuk Memasak

Ramang Rameli Rakasiwi,52 warga Lingkungan Ujung, Kelurahan Kepatihan, Kecamatan Banyuwangi menampung tinja (kotoran manusia). Kotoran itu dimanfaatkan menjadi gas untuk kehidupan sehari-hari, melalui pengelolaan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) Komunal.

DEDY JUMHARDIYANTO, Banyuwangi

Tinja atau kotoran manusia terbuang sia-sia di dalam bak septic tank. Namun, kotoran manusia tersebut jika ditampung dengan cara yang benar, ternyata dapat dimanfaatkan untuk kehidupan sehari-hari. Salah satunya menjadi gas yang bisa diperlukan untuk kebutuhan memasak, dan kebutuhan lainnya.

Pemanfaatan itu telah dilakukan oleh Ramang Rameli Rakasiwi. Dia adalah salah seorang Masyarakat Kota Pengabdi Lingkungan. Lelaki 52 tahun itu tinggal di Lingkungan Ujung, Kelurahan Kepatihan, Kecamatan Banyuwangi.

Tempat tinggalnya tidak terlalu luas. Halaman rumahnya penuh dengan sampah. Meski demikian, masuk ke dalam halaman rumahnya juga tidak ada bau menyengat seperti layaknya pada tempat pembuangan akhir (TPA) sampah.

Tepat di pojok pekarangan rumah yang cukup sederhana itu terdapat tujuh bilik kamar mandi (toilet) umum. Hampir setiap saat, toilet umum dimanfaatkan oleh warga setempat untuk kegiatan pokok sehari-hari, seperti mandi, cuci dan kakus.

Dua orang, terlihat masuk ke dalam toilet umum tersebut. Mereka membawa timba berisi pakaian kotor. Sebelum ada toilet umum, warga masih ada sebagian yang memanfaatkan sungai. “ Kami bersyukur ada tempat mandi umum seperti ini. Jadi kami tidak bingung lagi,” ungkap Subhan, salah seorang warga.

Kamar mandi umum tersebut dikelola oleh Masyarakat Kota Pengabdi Lingkungan. Menariknya limbah yang dihasilkan dari kamar mandi umum ini dikelola kembali, sehingga tidak mencemari lingkungan sekitar dan juga menjaga kelestarian air tanah.

Baca Juga :  Sosok Awiki, Pelukis Kelahiran Genteng yang Karyanya Laku Rp 2,4 M

Salah satu caranya yakni memisahkan saluran pembuangan air mandi dan cuci dengan saluran pembuangan tinja. “Saluran pipa dan tempat penampungannya kami pisahkan. Satu untuk air mandi dan cuci pakaian, dan satu lagi khusus untuk tinja,” ungkap Ramang.

Air bekas cucian harus dipisahkan. Karena sabun dan deterjen mengandung soda api dan bahan kimia lainnya yang cenderung mematikan bakteri pengurai kotoran. Bahkan, tiap dua minggu sekali atau sebulan sekali, dia justru memberikan formula air sampah atau lindi ke dalam saluran pembuangan khusus tinja.

Hal itu dilakukan untuk kembali mengaktifkan bakteri pengurai. Karena jika bakteri tersebut aktif, maka akan dapat mengurai kotoran menjadi gas dan air dan zat zat lainnya. Serta unsur pupuk.  Khusus untuk tinja ditampung lalu diuraikan dulu menjadi gas-nya, sehingga yang tersisa tinggal air di penampung yang berukuran 180 x 90 centimeter. “ Kotoran yang kami tampung dalam bak, akan menghasilkan gas. Maka gas itulah kami salurkan melalui pipa untuk kami manfaatkan pada kompor memasak,” jelasnya.

Lalu, air dari dalam bak penampungan tinja tersebut akan mengalir dengan penampungan air bekas cuci dan mandi. Pusat pengelolaan air limbah yang terdiri dari tujuh bak itu berada di bawah tanah yang berfungsi menetralisir limbah domestik rumah tangga.

Baca Juga :  Blambangan Punya Pisang Khas

Sementara untuk septic tank bekas mandi dan cucian langsung dimasukkan ke dalam septic tank berbentuk model gelombang air dengan maksud mengaktifkan kembali Bakteri Oksigen Demand (BOD) dan Carbon Oksigen Demand (COD). Sehingga air tidak lagi asam dan dapat mengurangi bakteri ecoli. Sehingga air aman jika dibuang ke sungai.

“Sebenarnya air dari pemurnian tersebut bisa langsung dibuang ke sungai. Tapi tidak kami buang, dan kembali saya manfaatkan untuk kolam lele dengan ukurannya dua meter kali 190 centimeter. Pada bagian dalamnya juga kami buatkan biopori. Sehingga air bisa meresap kembali ke tanah. Siklus air akan terus berputar dan tidak terbuang. Karena kamar mandi umum ini juga memanfaatkan air tanah,” jelas bapak satu anak itu.

Setiap hari, lanjut Ramang, rata-rata ada 50 orang yang memanfaatkan tujuh kamar mandi tersebut. Warga yang memanfaatkan fasilitas toilet tersebut biasanya memasukkan uang se ikhlasnya di kotak yang disediakan di depan toilet. Yang terpenting, uang hasil kotak tersebut bisa untuk membeli pulsa listrik dan bisa menghidupi lampu dan mesin penyedot air sumur bor.

Ramang berharap, Sanitasi Lingkungan berbasis masyarakat tersebut bisa dikembangkan dan di kelola di tempat lain. Terutama di kawasan padat penduduk yang memanfaatkan air tanah, serta tidak mempunyai jamban. Misalnya di pondok pesantren, pasar, dan perumahan. “ Jika sanitasi berbasis lingkungan ini bisa diterapkan. Maka lingkungan kita akan lebih ramah dari limbah,” tandasnya.

Ramang Rameli Rakasiwi,52 warga Lingkungan Ujung, Kelurahan Kepatihan, Kecamatan Banyuwangi menampung tinja (kotoran manusia). Kotoran itu dimanfaatkan menjadi gas untuk kehidupan sehari-hari, melalui pengelolaan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) Komunal.

DEDY JUMHARDIYANTO, Banyuwangi

Tinja atau kotoran manusia terbuang sia-sia di dalam bak septic tank. Namun, kotoran manusia tersebut jika ditampung dengan cara yang benar, ternyata dapat dimanfaatkan untuk kehidupan sehari-hari. Salah satunya menjadi gas yang bisa diperlukan untuk kebutuhan memasak, dan kebutuhan lainnya.

Pemanfaatan itu telah dilakukan oleh Ramang Rameli Rakasiwi. Dia adalah salah seorang Masyarakat Kota Pengabdi Lingkungan. Lelaki 52 tahun itu tinggal di Lingkungan Ujung, Kelurahan Kepatihan, Kecamatan Banyuwangi.

Tempat tinggalnya tidak terlalu luas. Halaman rumahnya penuh dengan sampah. Meski demikian, masuk ke dalam halaman rumahnya juga tidak ada bau menyengat seperti layaknya pada tempat pembuangan akhir (TPA) sampah.

Tepat di pojok pekarangan rumah yang cukup sederhana itu terdapat tujuh bilik kamar mandi (toilet) umum. Hampir setiap saat, toilet umum dimanfaatkan oleh warga setempat untuk kegiatan pokok sehari-hari, seperti mandi, cuci dan kakus.

Dua orang, terlihat masuk ke dalam toilet umum tersebut. Mereka membawa timba berisi pakaian kotor. Sebelum ada toilet umum, warga masih ada sebagian yang memanfaatkan sungai. “ Kami bersyukur ada tempat mandi umum seperti ini. Jadi kami tidak bingung lagi,” ungkap Subhan, salah seorang warga.

Kamar mandi umum tersebut dikelola oleh Masyarakat Kota Pengabdi Lingkungan. Menariknya limbah yang dihasilkan dari kamar mandi umum ini dikelola kembali, sehingga tidak mencemari lingkungan sekitar dan juga menjaga kelestarian air tanah.

Baca Juga :  Blambangan Punya Pisang Khas

Salah satu caranya yakni memisahkan saluran pembuangan air mandi dan cuci dengan saluran pembuangan tinja. “Saluran pipa dan tempat penampungannya kami pisahkan. Satu untuk air mandi dan cuci pakaian, dan satu lagi khusus untuk tinja,” ungkap Ramang.

Air bekas cucian harus dipisahkan. Karena sabun dan deterjen mengandung soda api dan bahan kimia lainnya yang cenderung mematikan bakteri pengurai kotoran. Bahkan, tiap dua minggu sekali atau sebulan sekali, dia justru memberikan formula air sampah atau lindi ke dalam saluran pembuangan khusus tinja.

Hal itu dilakukan untuk kembali mengaktifkan bakteri pengurai. Karena jika bakteri tersebut aktif, maka akan dapat mengurai kotoran menjadi gas dan air dan zat zat lainnya. Serta unsur pupuk.  Khusus untuk tinja ditampung lalu diuraikan dulu menjadi gas-nya, sehingga yang tersisa tinggal air di penampung yang berukuran 180 x 90 centimeter. “ Kotoran yang kami tampung dalam bak, akan menghasilkan gas. Maka gas itulah kami salurkan melalui pipa untuk kami manfaatkan pada kompor memasak,” jelasnya.

Lalu, air dari dalam bak penampungan tinja tersebut akan mengalir dengan penampungan air bekas cuci dan mandi. Pusat pengelolaan air limbah yang terdiri dari tujuh bak itu berada di bawah tanah yang berfungsi menetralisir limbah domestik rumah tangga.

Baca Juga :  Daur Ulang Sampah Organik, Sehari Produksi 100 Kg

Sementara untuk septic tank bekas mandi dan cucian langsung dimasukkan ke dalam septic tank berbentuk model gelombang air dengan maksud mengaktifkan kembali Bakteri Oksigen Demand (BOD) dan Carbon Oksigen Demand (COD). Sehingga air tidak lagi asam dan dapat mengurangi bakteri ecoli. Sehingga air aman jika dibuang ke sungai.

“Sebenarnya air dari pemurnian tersebut bisa langsung dibuang ke sungai. Tapi tidak kami buang, dan kembali saya manfaatkan untuk kolam lele dengan ukurannya dua meter kali 190 centimeter. Pada bagian dalamnya juga kami buatkan biopori. Sehingga air bisa meresap kembali ke tanah. Siklus air akan terus berputar dan tidak terbuang. Karena kamar mandi umum ini juga memanfaatkan air tanah,” jelas bapak satu anak itu.

Setiap hari, lanjut Ramang, rata-rata ada 50 orang yang memanfaatkan tujuh kamar mandi tersebut. Warga yang memanfaatkan fasilitas toilet tersebut biasanya memasukkan uang se ikhlasnya di kotak yang disediakan di depan toilet. Yang terpenting, uang hasil kotak tersebut bisa untuk membeli pulsa listrik dan bisa menghidupi lampu dan mesin penyedot air sumur bor.

Ramang berharap, Sanitasi Lingkungan berbasis masyarakat tersebut bisa dikembangkan dan di kelola di tempat lain. Terutama di kawasan padat penduduk yang memanfaatkan air tanah, serta tidak mempunyai jamban. Misalnya di pondok pesantren, pasar, dan perumahan. “ Jika sanitasi berbasis lingkungan ini bisa diterapkan. Maka lingkungan kita akan lebih ramah dari limbah,” tandasnya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

DKB Gelar Workshop Teater dan Pantomim

Tarif Ojol Akan Naik

Ditinggal Ziarah Haji, Rumah Terbakar

/